Suarakampus.com– Puluhan tahun Indonesia merdeka, warga Salappa masih hidup tanpa cahaya. Masyarakat merasa terpukul sebab perhatian tidak penuh dari pemerintah dan lelah dengan janji yang tidak pernah terealisasi, Selasa (23/12).
Warga Salapa, Afriyadi Satenong, mengatakan, masyarakat selalu terima janji saat kampanye politik. “Setelah punya kuasa, kami dilupakan,” katanya.
Afriyadi menjelaskan, pemerintah belum sepenuhnya menyorot masyarakat pedalaman. “Gelap bukan adat kami, tapi pemerintah tidak melirik kami,” katanya.
Kepala Dusun Salappa, Natalinus Sataino mengungkapkan, keluhan masyarakat sudah sering disampaikan berkala. “Begitu keluhan kami sampai, dibiarkan begitu saja tanpa realisasi,“ jelasnya.
Ia menegaskan, warga tidak menuntut banyak hal. “Cukup bantu dengan penerangan, agar kami merasa hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Juprianto memaparkan, adanya ketimpangan pembangunan sebab pemerintah jarang masuk ke pedalaman. “Sebab inilah mereka buta akan kami,” tuturnya.
Ia menegaskan, Dusun Salappa juga bagian negara yang seharusnya mendapatkan layanan setara. “Kami juga warga Indonesia. Kami butuh penerangan, transportasi, dan komunikasi,” katanya.
Ia berharap, agar pemerintah juga merangkul Mentawai. “Hal sesederhana penerangan saja sudah cukup bagi kami,” pungkasnya. (Red)
Wartawan : Zahra Mustika dan Elsa Mayora