Suarakampus.com– Beberapa pedagang di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang mengaku resah dengan tarif sewa yang diberikan karena tidak sesuai dengan harapan mereka. Kondisi tersebut semakin menyulitkan pedagang karena sepinya pembeli yang datang ke kantin, Jumat (21/8).
Salah seorang pedagang, Arifaturrahman menungkapkan, tarif sewa yang mahal membuatnya kesusahan dalam berjualan, ditambah bahan-bahan yang dibutuhkan untuk berjualan juga membuat kesulitan mendapatkan omzet yang cukup untuk membeli kebutuhan pada keesokan harinya.
“Kami sudah hadir di sini jam 6 sampai jam empat, terkadang sampai sebelum magrib baru tutup. Penghasilan yang didapat juga tidak menentu, terkadang hanya Rp80 ribu hingga Rp60 ribu saja per harinya,” ungkapnya.
Menurutnya, hal yang membuat kantin menjadi tidak ramai karena pengunjung tidak mengetahui lokasi kantin akibat tidak adanya palang penanda bahwa di dekat perpustakaan terdapat kantin kampus.
“Serta diperkuat juga dengan kantin yang tersedia di dekat fakultasnya sendiri yang mengakibatkan kantin ini tidak ramai oleh pengunjung, juga kebersihan yang diperkirakan kurang terjaga dan saat hari libur pendapatan tidak dapat diperkirakan jumlahnya,” tuturnya.
Senada dengan hal itu, Pedagang kantin lainnya, Helmi Yanti mengatakan, Saat pengunjung ramai oleh mahasiswa, omzet yang didapatkan sekitar Rp500 ribu.
“Ketika mahasiswa sepi seperti sekarang, pendapatan hanya mencapai Rp200 ribu per harinya dan kadang kurang,” katanya.
Sementara itu, diketahui juga harga bahan pokok yang mahal menjadi salah satu penyebab omzet yang didapatkan hanya sedikit dari biasanya. Dikarenakan harga yang mahal, harga makanan juga dinaikkan untuk menyesuaikan keadaan yang terjadi.
“Keadaan seperti ini mulai terjadi ketika MBG atau Makan Bergizi Gratis sudah dimulai. Harga kebutuhan di pasar mulai naik secara signifikan, untuk dosen jarang datang ke kantin ini, hanya satpam dan pengurus lainnya,” jelasnya.
Pada saat pertama kali Helmi menyewa tempat, harga yang diberikan sebesar Rp15 juta, ditambah dengan sewa per tahun yang juga belum bisa dijanjikan dapat dibayar tepat waktu mengingat harga bahan pokok dan uang yang susah dicari.
“Bahan pokok yang mahal seperti lobak, minyak goreng, serta cabai dan tidak mungkin juga kami jual seharga Rp13.000 satu bakwan serta gorengan lainnya yang dijual serupa,” tuturnya.
Melanjutkan jawabannya, untuk peralatan sendiri mereka tidak disediakan oleh kampus dan dibeli sendiri. Selain itu, palang kantin yang tidak ada membuat para pedagang mengira mahasiswa melihat tempat mereka sebagai barak barang.
“Orang tua yang mengantarkan anaknya pastinya akan mampir ke kantin, tetapi karena palang atau penanda itu tidak ada membuat ciri-ciri kantin itu tidak ada di mata mahasiswa baru serta kurangnya perhatian yang diberikan oleh kampus kepada para pedagang yang ada di sekitarnya,” pungkasnya. (Fau)
Wartawan: Lusi Wahyuni (Mg), Irfanov Zacky Aji (Mg)
Pedagang Kantin UIN IB Resah, Tarif Sewa dan Sepinya Pengunjung Jadi Kendala