Suarakampus.com– Perbedaan awal Ramadhan, Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mengajak umat Islam menyikapi hal tersebut dengan sikap saling menghormati usai Sidang Isbat di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Ajakan tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Selasa (17/2).
Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan perbedaan teknis penanggalan sebagai sumber perpecahan. “Kita harus rukun,” katanya.
Nasaruddin Umar menilai perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan merupakan hal yang wajar. “Tidak perlu dipertentangkan, sikapi dengan saling menghormati,” pesannya.
Menteri Agama tersebut berharap keputusan pemerintah dapat menjadi pedoman bersama bagi umat Islam. “Semoga umat Islam dapat memulai puasa tanpa hambatan,” ujarnya.
Direktur Urusan Agama Islam, Arsad Hidayat menyampaikan variasi metode yang digunakan organisasi kemasyarakatan Islam berpotensi melahirkan perbedaan. “Hal ini terjadi karena metode penetapannya tidak sama,” tuturnya.
Arsad menjelaskan, terdapat tiga pendekatan utama dalam menentukan awal bulan Hijriah. “Hisab, rukyatul hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak umat Islam menyikapi perbedaan dengan bijak. “Tidak perlu saling menyalahkan,” pungkasnya. (rar)
Wartawan : Aldi Syukron (Mg)