Suarakampus.com– Fenomena penggunaan second account di kalangan mahasiswa Universitas Imam Bonjol Padang mencerminkan pergeseran media sosial dari ruang publik menjadi ruang privat yang selektif. Akun kedua dianggap sebagai wadah aman untuk berekspresi berbagai cerita personal dan terkoneksi tanpa tekanan tampil sempurna di ruang utama, Jumat (13/06).
Mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang pengguna second account, Rara menjelaskan, ruang ini hanya dibagikan kepada orang-orang terdekat. Dengan akses yang terbatas, ia merasa lebih aman dan minim penilaian dari luar.
“Bagi saya, second account menghadirkan kebebasan dan rasa lega karena tidak harus selalu terlihat baik atau sempurna. Kebiasaan membagikan kegiatan sehari-hari di akun kedua menjadi cara untuk tetap terkoneksi dengan teman-teman tanpa harus berbicara langsung,” ujarnya.
Mahasiswi UIN IB lainnya, Putri merasakan hal serupa dengan menyebutkan bahwa second account adalah tempat menyimpan cerita random dan arsip personal. Akun utama menurutnya lebih bersifat formal dan hanya digunakan untuk membagikan momen penting.
“Ada perbedaan identitas digital antara dua akun, di mana akun pertama cenderung menjadi wajah ideal yang ingin ditampilkan kepada dunia. Meski dinamika ini bisa jadi abu-abu karena beberapa akun sekunder menyebarkan konten negatif,” tuturnya.
Putri memaklumi fenomena tersebut karena setiap individu memiliki cara sendiri dalam mengekspresikan diri. Mahasiswi tersebut hanya berharap pengguna second account tetap menjaga batas agar tidak melampaui privasi.
Mahasiswi UIN IB, Endang menilai second account lebih kepada ruang leluasa yang bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan perasaan secara jujur. Mahasiswa ini menolak jika dikatakan ada tekanan sosial dalam penggunaan akun kedua.
“Itu hanya tentang ruang ekspresi yang lebih nyaman. Tidak semua hal layak dibagikan di akun utama karena memang tidak semua audiens perlu tahu segalanya,” Ucapnya.
Meskipun beberapa orang khawatir akan dampak psikologis dari mengelola dua identitas digital, E merasa hal itu bergantung pada kedewasaan penggunanya. Dia mengaku tidak merasa memiliki kepribadian ganda karena tetap menjadi dirinya sendiri di dua akun.
Ketiga mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang tersebut memiliki kesamaan pandangan bahwa second account membawa manfaat asalkan digunakan secara bijak. Endang menekankan pentingnya menjaga kepercayaan dari sesama pengguna akun kedua sebagai bentuk amanah yang harus dijaga.
Ketika seseorang mengizinkan masuk ke akun pribadi tersebut, itu adalah bentuk kepercayaan yang harus dijaga. “Second account seharusnya tidak menjadi alasan untuk lari dari kenyataan atau membenci diri sendiri di akun utama,” tutupnya. (ver)
Wartawan: Zahra Mustika (Mg), Faiza Septiani Putri (Mg)