Oleh: Putri Wahyuni (Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)
“Aku akan kembali buat kamu Nay”
Kalimat itu masih tersimpan rapi dibenak Naya. Kalimat dua tahun lalu yang Albert lontarkan kepada Naya, tidak ada hari terburuk Naya setelah itu selain ditinggal Albert. Albert bukan hanya satu tahun atau dua tahun disana, tapi untuk selamanya.
Albert terpaksa meninggalkan kota Jakarta karena sang nenek memintanya untuk tinggal di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Alasan sang nenek meminta Albert untuk tinggal bersamanya di Toraja adalah agar Albert melihat dan merasakan budaya mereka yang masih sangat kental. Pikir sang nenek, jika Albert dibiarkan hidup di ibukota ia tidak akan kenal dengan budaya tempat ia berasal. Naya pun tidak pernah mendapat kabar dari Albert setelah kepergiannya Ke Tana Toraja. “Kalo gak bisa tepati janji gak usah kasih aku harapan besar Bert” gumam Naya seraya menatap fotonya bersama Albert Ketika SMP. Keyakinan Naya untuk Albert mulai memudar. Dua tahun penantian bukan waktu yang sebentar.
Naya beranjak dari duduknya, dia merebahkan badannya diatas kasur dengan helaan napas berat, perlahan ia tertidur pulas.
Naya hidup hanya dengan seorang Ayah, dari umur enam tahun Naya sudah tidak merasakan yang namanya pelukan serta kasih sayang ibu, karena ibunya lebih memilih laki-laki lain dibanding keluarganya sendiri. Kehidupan Naya emang tidak semenyenangkan yang dilihat. Banyak luka dan trauma yang membekas dihati Naya. “Nay, papa bakal ada kerjaan di luar pulau. Kamu ikut papa ya?” ajak papa. Naya hanya menjawabnya dengan anggukan, lalu tersenyum manja pada papanya.
“lama soalnya, papa gak mau ninggalin kamu sendiri di Jakarta, kalo bisa ikut ya nak?” ulang papa untuk mamastikan kalo anak semata wayangnya itu mau ikut dengannya.
“iya pa,iyaaa. Tapi janji dulu sama Naya kalo papa gak bakal ninggalin Naya untuk selamanya” Naya mengajukan syarat itu secara spontan.
“iya papa janji sayang”
Saling memperlihatkan kasih sayang yang begitu besar. Ayah dan anak ini sama-sama merasakan sakit ketika ditinggal oleh wanita yang dulunya mereka sanjung-sanjung dan bergelar surga di telapak kaki ibu itu.
Tanpa Naya tau, Nugroho, papanya sengaja membawa Naya ke Toraja untuk menemui seseorang disana, Albert. Dan Nugroho juga sengaja ke Toraja dengan alibi kerjaan.
“Ke Toraja pa?” tanya Naya sembari mengedipkan matanya beberapa kali melihat tiket pesawat yang dikirimkan Nugroho di ponselnya.
“kenapa nak, gak suka ya?”
“suka-suka, tapi beneran ke Toraja kan pa?”
“gak percaya sama papa?”
Naya memeluk Nugroho dengan erat. “papa ke Toraja ada kerjaan?”
“papa ke Toraja buat kamu, kamu ngasih kesempatan kamu Bahagia disana” senyum Nugroho merekah berbarengan dengan air mata.
Tana Toraja terletak sekitar 329 km arah Utara Kota Makassar, dengan melalui beberapa Kabupaten pula, Enrekang, Sidrap, Pare-Pare, Barru, Pangkep, dan Maros. Ini benar-benar diluar ekspektasi Naya, Sulawesi juga tak kalah indah dengan wisata-wisata yang ada di Indonesia. Missliana hotel menjadi pilihan Nugroho dan Naya.
Sesampainya dihotel, Naya langsung beristirahat setelah perjalanan panjangnya. “istirahat ya nak, besok kita temui Albert” ucap Nugroho pada putri semata wayangnya itu, lalu pergi begitu saja dari kamar hotel anaknya. Ntah kenapa perasaan Naya kurang enak, ia gelisah. Ntah apa yang ia pikiran hingga membuatnya tidak nyaman. Tapi dengan terpaksa Naya memejamkan matanya perlahan hingga terlelap.
Pagi
Keduanya sudah berpenampilan rapi.
“papa antar kamu ke tempat albert, habis itu papa ke Makassar ya sayang. Maaf ya nak papa gak bisa temani kamu selama di Toraja, papa ada kerjaan disana.” Ucap Nugroho seraya mengusap pucuk kepada sang putri.
“yah pa, masa papa ninggalin Naya sendiri sih, papa kan janji sama Naya terus”
“nanti kan ada Albert, kalo ada apa-apa kabarin papa aja ya nak. Jangan khawatir, jaga diri baik-baik dan papa pasti bakal baik-baik aja kok” ucap Nugroho meyakini putrinya.
Naya pun akhirnya menyetujui hal itu, Naya tidak mau menjadi penghambat pekerjaan Nugroho.
Albert meminta untuk ditemui di rumah makan Saruran, Tana Toraja. Rumah makan dengan pelayanan bintang lima ini tidak diragukan lagi soal rasa dan kenyamanan pelanggan. Dari jauh, Naya sudah melihat laki-laki dimasa SMP nya itu. Sudah banyak perbedaan dari penampilan Albert tapi Naya masih mengenali Albert.
Entah kenapa Naya merasa canggung bertemu dengan Albert, meskipun Albert berusaha ramah padanya. Tak disangka juga kini Albert benar-benar sudah didepan matanya.
Semua ini diluar dugaan Naya.
“Hai om,nay, apa kabar ? Duduk dulu” sapa Albert ramah.
Naya tersenyum tipis, tak hanya penampilan kini gaya bicara Albert pun juga sudah berubah drastis. Pembawaan ia lebih dewasa dan berwibawa. Dalam waktu 2 tahun Albert berubah sejauh ini. Mereka duduk disatu meja yang sama, dengan memesan capcay goreng, mie hokking, nasi goreng merah, dan tiga jus jeruk. Menu disini belum pernah mereka cicipi sebelumnya. Ternyata ini begitu enak dan suasananya juga begitu beda.
Setelah pertemuan singkatnya di rumah makan Saruran itu, Nugroho meminta Albert untuk menemani Naya keliling Tana toraja seharian ini, Nugroho juga berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya ke Makassar. Albert mengajak Naya Kete Kesu’ untuk memperkenalkan Patane (kuburan berbentuk rumah), Liyang (kuburan di gua), Erong (peti tempat penyimpanan tulang jenazah), dan Tau-Tau (boneka untuk mengenang orang yang sudah meninggal).
Meskipun canggung Albert tetap berusaha menjelaskan beberapa tradisi serta budaya masyarakat Tana Toraja.
“Disini juga ada ritual yang disebut Ma’nene, tradisi ini tuh kaya bersihin jenazah yang udah meninggal puluhan tahun bahkan juga ada yang sampe ratusan tahun Nay” jelas Albert.
Kekentalan adat di Tana Toraja tidak ada ubahnya dari dulu, masyaratnya pun kompak. sehingga dengan Budayanya yang khas membawa banyak Turis tertarik ke Tana Toraja.
Malam
Albert membawa Naya melihat langsung Patung Yesus Buntu Burake dan meniti jembatan kaca terpanjang di Indonesia. Lokasinya berada di Bukit Buntu Burake, Kota Makale, Sulawesi selatan. Sempurna. Gak ada kata lain untuk keindahan di Makale ini.
“happy gak Nay?” tanya Albert.
“happy” jawab Naya singkat.
Keduanya larut oleh indahnya malam di Makale. Nyaman jika berlama-lama di Makale tapi sayangnya Patung Yesus Buntu Burake tutup jam 22.00 WITA.
Naya melirik Albert, lalu kembali memandang keindahan dihadapannya. Albert tidak pernah menyinggung soal hubungan mereka. Apa Albert tidak menganggapnya lebih dari sekedar teman di masa SMP ?.
“Bert, kita gimana?” hanya itu yang berani Naya tanya pada Albert.
Ini yang Albert takuti dari Naya, Albert takut Naya terlalu berharap padanya. Tanpa basa-basi Naya harus mengerti dan tau Albert yang sekarang.
Albert menatap Naya lekat-lekat.
“Nay kita kan udah sama-sama dewasa, jujur aku udah gak ada rasa sama kamu. Sekarang aku anggap kamu cuma sekedar ‘teman’ masa SMP, toh itu juga dulu jamannya cinta monyet” Albert membuka suara sarkas.
Dengan mata berkaca-kaca Naya memberanikan menatap mata teduh Albert. Saat sarkas pun mata Albert tetap teduh.
“aku kesini cuma buat jemput janji kamu ke aku Bert, mungkin salah aku juga terlalu jatuh sama cinta monyet yang katamu itu” balas Naya pelan. Naya menahan segukan tangis agar tidak terlihat lemah dihadapan Albert.
“lawak” kata Albert.
“kalo bukan karena papa mu, mungkin aku gak bakalan nerima kamu kesini Nay, aku udah benar-benar lupa sama hubungan jaman SMP itu, gak aku sangka ternyata kamu masih berharap sama cinta anak kecil dua tahun lalu” tambah Albert tanpa memikirkan perasaan Naya.
“Aku juga gak bakal berharap kalo kamu gak janji waktu itu. Tapi gapapa Bert, setidaknya aku udah buktiin kalo orang setia itu beneran ada dan kamu harus tau kalo cowok itu yang dipegang omongannya, kalo kamu gak bisa bertanggung jawab sama apa yang kamu ucapin, mending gak usah jadi cowok deh” Hardik Naya.
Naya berusaha keras menahan tangisnya. “ayo pulang” putus Albert. Ucapan Naya terlalu menohok dihati Albert, Albert juga tidak mau terus-terusan memperdebatkan masa lalu yang tidak ada habisnya.
Sesampainya dikamar hotel Naya tidak bisa lagi menahan air matanya. Dengan isakan Naya menangis selepas-lepasnya, semudah itu Albert membuat luka dihati Naya. Sebenarnya Nugroho sudah tau hati Albert bukan untuk anaknya lagi. Nugroho sengaja meminta Albert menemani Naya, dan tanpa Nugroho jelaskan pasti nanti Naya mengerti bahwa orang yang selama ia nanti tidak lagi sama.
Walaupun penantian Naya sia-sia tapi setidaknya Naya mengerti bahwa perharap pada manusia itu salah besar.
Ternyata benar kata orang-orang soal jangan berharap sama manusia, manusia bukan tempat berharap.