Oleh: Verlandi Putra (Mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Inggris)
Hujan gerimis membasahi kaca jendela kamar kost Aira, ketika amplop putih tanpa pengirim itu diselipkan di bawah pintu. Tidak ada yang aneh dari surat anonim, profesi jurnalis investigasi membuatnya terbiasa dengan hal semacam ini. Namun, yang membuatnya terpaku adalah satu kalimat yang tertulis dengan tinta merah: “Mereka mengambil jantung anak-anak di Panti Kasih Bunda.”
Aira menatap surat itu dengan napas tertahan. Tujuh tahun lalu, adiknya Dinda hilang tanpa jejak saat bermain di taman dekat rumah. Polisi menyebutnya kasus penculikan biasa, tapi Aira tahu ada yang tidak wajar. Sekarang, membaca kalimat itu, luka lama kembali menganga.
“Kamu yakin mau melakukan ini sendirian?” Tasya, sahabat sekaligus dokter forensik, duduk di seberang meja kafe sambil membolak-balik berkas yang dibawa Aira. “Panti Kasih Bunda punya reputasi baik. Pemiliknya, Rara, bahkan pernah dapat penghargaan dari walikota.”
“Justru itu yang mencurigakan,” Aira menyeruput kopinya. “Panti yang terlalu bersih biasanya menyembunyikan sesuatu.”
Tasya mendesah. “Baiklah. Tapi jangan bertindak gegabah. Kalau memang ada yang tidak beres, kita butuh bukti solid.”
Dua hari kemudian, Aira menyamar sebagai relawan di Panti Kasih Bunda. Bangunan bergaya kolonial dengan taman yang terawat rapi itu tampak seperti surga bagi anak-anak yatim piatu. Rara menyambutnya dengan senyum hangat yang sempurna—terlalu sempurna.
“Selamat datang, Kak Aira. Anak-anak pasti senang ada yang mau mendongeng,” kata Rara, wanita berusia tiga puluh lima tahun dengan rambut dikuncir rapi. Matanya dingin meski senyumnya manis.
Di ruang bermain, Aira bertemu Maya, gadis kecil berusia delapan tahun dengan mata besar yang selalu menatap kosong. Berbeda dengan anak-anak lain yang riuh bermain, Maya duduk sendirian di pojok, menggambar dengan krayon.
“Adik sedang menggambar apa?” Aira mendekatinya.
Maya mengangkat kertas gambarnya. Aira hampir terjatuh dari kursi. Di kertas itu tergambar boneka dengan dada terbuka, jantung dikeluarkan, dan darah berceceran. Gambar seorang anak berusia delapan tahun, tapi dengan detail yang mengerikan.
“Boneka tanpa jantung,” bisik Maya. “Seperti teman-temanku yang sudah pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Entah. Mereka bilang diadopsi, tapi Tante Rara selalu menangis setelah mereka pergi.”
Aira merasakan dingin menjalar di tulang belakangnya. “Maya, boleh Kak Aira lihat gambar-gambar lainnya?”
Maya membuka buku gambarnya. Halaman demi halaman berisi gambar serupa: anak-anak dengan tubuh terbuka, organ-organ yang terlepas, wajah-wajah yang menangis. Ini bukan gambar anak normal.
“Maya!” Suara Rara tiba-tiba menggelegar dari belakang. “Ayo, waktunya makan siang.”
Rara merebut buku gambar dari tangan Maya dengan gerakan kasar. “Maaf, Kak Aira. Maya suka menggambar hal-hal aneh. Mungkin trauma karena orangtuanya meninggal kecelakaan.”
Tapi Aira melihat ketakutan di mata Rara bukan khawatir, melainkan panik karena rahasianya hampir terbongkar.
Malam itu, Aira kembali ke panti dengan menyusup lewat jendela belakang. Ia mengikuti lorong yang menuju ke ruang bawah tanah, area yang selalu dikunci rapat dan dilarang untuk dikunjungi. Dengan bantuan senter ponsel, ia menelusuri tangga batu yang lembap.
Ruang bawah tanah itu berbau antiseptik yang menyengat. Di sudut ruangan, ada lemari arsip yang penuh dengan berkas. Aira membuka satu per satu: catatan medis, hasil tes darah, dan yang paling mengejutkan—daftar harga organ anak-anak berdasarkan usia dan kondisi kesehatan.
“Jantung: 500 juta. Ginjal: 300 juta. Hati: 400 juta.”
Tangan Aira bergetar membaca daftar itu. Di bagian bawah, ada foto-foto anak dengan keterangan “SIAP PANEN” atau “SUDAH DIPROSES”. Beberapa wajah familiar—anak-anak yang kata Maya sudah “diadopsi”.
Suara langkah kaki mendekat. Aira cepat-cepat memotret dokumen-dokumen itu dan menyembunyikan diri di balik lemari. Rara masuk bersama seorang pria berkacamata.
“Dokter, pasien di rumah sakit sudah menunggu. Jantung anak usia delapan tahun, golongan darah AB. Harus fresh,” kata Rara dengan nada bisnis yang dingin.
“Siap. Operasinya besok malam. Pastikan anak tidak makan 12 jam sebelumnya.”
Aira hampir berteriak ketika mendengar nama yang disebut: Maya.
Keesokan harinya, Aira menunjukkan foto-foto bukti kepada Tasya. Wajah sahabatnya pucat pasi.
“Ya Tuhan, Aira. Ini perdagangan organ sungguhan. Kita harus lapor polisi sekarang juga!”
“Belum. Aku harus pastikan Maya aman dulu. Kalau polisi datang sekarang, mereka bisa memindahkan anak-anak atau menghilangkan barang bukti.”
Tasya menggeleng keras. “Terlalu berbahaya. Mereka pasti sudah curiga padamu.”
Tapi Aira sudah memutuskan. Sore itu, ia menghubungi Nina, tetangga panti yang pernah menyapanya dengan pandangan was-was.
“Bu Nina, saya jurnalis. Boleh saya tanya tentang Panti Kasih Bunda?”
Nina menoleh kiri-kanan, memastikan tidak ada yang mendengar. “Anak-anak sering menghilang di malam hari. Saya dengar tangisan dari ruang bawah tanah. Tapi siapa yang percaya dengan kata-kata nenek tua seperti saya?”
“Apa yang paling mencurigakan menurut Ibu?”
“Rara itu… dia menjual yang paling berharga. Bahkan anaknya sendiri.”
Aira terkejut. “Anaknya sendiri? Maya?”
“Maya anak kandung Rara. Lahir saat Rara masih miskin dan belum punya panti. Tapi sekarang…” Nina menggeleng sedih. “Ibu tidak tahu lagi apa yang ada di pikiran perempuan itu.”
Malam itu, Aira kembali ke panti dengan perasaan campur aduk. Ia harus menyelamatkan Maya, tapi bagaimana caranya? Saat menyusup ke ruang bawah tanah, ia mendengar suara tangisan dari ruangan paling ujung.
“Maya?” Aira membuka pintu yang tidak terkunci.
Maya duduk di pojok ruangan, menggambar lagi dengan krayon yang hampir habis. Kali ini gambarnya berbeda: seorang perempuan dewasa sedang menangis sambil memegang pisau.
“Kak Aira! Aku tahu kamu akan datang,” Maya berlari memeluknya.
“Maya, kita harus pergi dari sini. Sekarang!”
“Tidak bisa. Mama akan marah. Mama bilang besok aku akan jadi anak baik-baik dan tidak akan sakit lagi.”
Aira merinding. Maya tidak tahu bahwa “tidak sakit lagi” berarti mati.
“Maya, Mama kamu di mana?”
“Mama Rara. Dia mama kandungku. Tapi aku tidak boleh memanggilnya mama di depan orang lain.”
Sebelum Aira bisa merespons, pintu ruangan terbanting. Rara berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata merah.
“Kamu tahu semuanya, kan?” suara Rara bergetar.
“Rara, Maya ini anak kandungmu. Bagaimana kamu bisa—”
“DIAM!” Rara berteriak. Air mata mengalir di pipinya. “Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kelaparan, tidak punya uang untuk biaya rumah sakit ketika anakmu sekarat!”
Rara duduk terpuruk di lantai. “Lima tahun lalu, Maya sakit jantung. Butuh operasi 800 juta. Aku tidak punya apa-apa. Suami sudah meninggal, keluarga memunggungi. Lalu ada yang menawarkan… cara cepat dapat uang.”
“Dengan menjual organ anak-anak lain?”
“Pertama kali aku hanya ingin menyelamatkan Maya. Tapi setelah satu kali… mereka mengancam akan membunuh Maya kalau aku berhenti. Sekarang, mereka malah meminta Maya sebagai ‘pembayaran terakhir’.”
Aira terdiam. Ini bukan hitam-putih sederhana antara penjahat dan korban. Rara adalah monster yang tercipta dari keputusasaan.
“Rara, kita bisa cari jalan lain. Polisi bisa melindungi kalian—”
“Tidak ada jalan lain!” Rara berdiri, mengeluarkan pisau dari saku roknya. “Kalau aku tidak memberikan Maya malam ini, mereka akan membunuh kita berdua. Setidaknya dengan cara ini, Maya tidak akan merasakan sakit.”
Maya yang selama ini diam tiba-tiba berbicara dengan suara bergetar. “Mama… kenapa? Aku sudah jadi anak baik-baik. Aku sudah makan sayuran. Aku sudah tidak menangis lagi.”
Rara menatap anaknya dengan mata penuh air mata. Pisau di tangannya bergetar.
“Maafkan mama, sayang. Mama sudah tidak bisa melindungimu lagi.”
Saat Rara mengangkat pisau, Aira melompat menghadangnya. Mereka bergulat di lantai yang dingin. Maya menangis ketakutan di pojok ruangan.
“Lepaskan! Ini satu-satunya cara!”
“Ada cara lain! Selalu ada cara lain!”
Dalam pergulatan itu, pisau terlempar jauh. Rara tiba-tiba lemas dan menangis tersedu-sedu.
“Aku sudah menjadi monster… aku sudah menjadi monster…”
Suara sirine polisi menggema dari luar. Tasya datang dengan bala bantuan tepat waktu.
“Aira! Kamu baik-baik saja?” Tasya berlari masuk diikuti beberapa polisi.
“Maya, cepat peluk Tante Tasya,” Aira mendorong Maya ke arah sahabatnya.
Rara diborgol dengan lemas, tidak melawan. Sebelum dibawa polisi, ia menatap Maya untuk terakhir kalinya.
“Maya, maafkan mama. Mama sayang kamu.”
Maya hanya diam, tidak mengerti mengapa dunianya tiba-tiba berubah.
Tiga hari kemudian, Aira duduk di ruang tunggu rumah sakit tempat Maya dirawat. Anak itu trauma berat dan butuh pendampingan psikolog. Tasya keluar dari ruangan dengan wajah lelah.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Aira.
“Secara fisik dia baik-baik saja. Tapi secara mental… butuh waktu lama untuk pulih.”
Aira mengangguk. “Tasya, aku menemukan sesuatu di arsip Rara.” Ia menunjukkan sebuah berkas lama. “Dinda, adikku. Namanya ada di sini. Dia salah satu korban lima tahun lalu.”
Tasya memeluk sahabatnya. “Setidaknya sekarang kamu tahu kebenarannya.”
“Tapi masih ada yang mengganggu pikiranku. Rara bilang ada yang mengancamnya, memaksa melakukan ini. Siapa dalang sebenarnya?”
Tasya terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Kasus sudah selesai, Aira. Kamu sudah menyelamatkan Maya dan membongkar perdagangan organ ini. Itu sudah cukup.”
Ada sesuatu yang aneh dari nada bicara Tasya, tapi Aira terlalu lelah untuk memikirkannya lebih dalam.
Malam itu, Aira tidur di rumah sakit untuk menemani Maya. Sekitar pukul dua dini hari, ia terbangun karena haus. Saat berjalan ke pantry, ia mendengar suara percakapan dari ruang dokter jaga.
“Target berikutnya sudah siap. Anak laki-laki, usia 10 tahun, golongan darah O. Ginjal dan hatinya sempurna.”
Aira menajamkan telinga. Suara itu familiar.
“Rara sudah ditangkap, tapi operasi harus tetap berjalan. Aku sudah siapkan lokasi baru.”
Aira mengintip dari celah pintu. Jantung hampir berhenti berdetak ketika melihat siapa yang sedang bicara di telepon.
Tasya.
Sahabatnya sejak kuliah. Dokter forensik yang selama ini membantunya. Orang yang paling ia percayai.
“Jangan khawatir. Aira tidak akan pernah curiga. Dia terlalu percaya padaku.”
Tasya menutup telepon dan membuka lemari kecil. Di dalamnya, ada kantung-kantung pendingin berisi organ. Ia tersenyum sinis sambil memeriksa isinya.
“Target berikutnya sudah siap,” bisiknya sambil mengetik pesan di ponsel.
Aira mundur perlahan dengan tangan bergetar menutupi mulut. Selama ini, ia mengira Rara adalah monster paling besar. Ternyata monster sejati bersembunyi di tempat yang paling tak terduga yaitu di samping orang yang paling ia cintai dan percayai.
Suara detak jam dinding terdengar keras di telinga Aira. Detik demi detik berlalu, sementara ia terdiam di lorong gelap rumah sakit, menyadari bahwa permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Dan kali ini, ia bahkan tidak tahu siapa lagi yang bisa dipercaya.
Tamat…