Twins Sister

Ilustrasi by Yana/suarakampus.com

Penulis: Manisma Habibayana (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)

Dua orang kembar dengan sifat yang berbeda Aurora sifat nya ceria Ramah ke semua orang Sedangkan, Alora pendiam dan cenderung menutup diri karena ia trauma masa kecil nya pernah di culik dan di perkosa. Saat umur 10 tahun kemudian di umurnya 16 tahun ia memberanikan diri untuk menggantikan adik kembarannya untuk mencoba sekolah.

Trauma

Kirana masih menunggu suaminya Aliandra pulang dari kerja. Ali sendiri merupakan pemilik salah satu rumah makan ternama di Padang. Saat ini cabang rumah makan yang ia miliki ada di Jakarta hingga Semarang. Sembari menunggu Kirana menyiapkan makan malam di atas meja, dengan empat kursi yang saling berhadapan. Dua di sisi kanan dan dua lagi di sisi kiri meja.

Kedua putrinya juga turut membantu ibunda mereka. Aurora terlihat sedang mencuci buah-buahan segar yang ia keluarkan dari lemari pendingin. Sedangkan Alora menata sendok dan piring di atas meja.

“Kak tolong ambilkan piring dong buat buah yang udah dicuci!” Seru Aurora yang masih sibuk mencuci buah apel merah.

Alora menoleh, ia langsung memberikan piring berdiameter 30cm berwarna hijau.

“Nyuruh-nyuruh mulu ambil sendiri kek!” omelnya dengan wajah sinis setelah memberikan piring buah.

Karena kesal Aurora langsung mengelap tangan basahnya ke baju hitam yang Alora kenakan.

“Nih entar disuruh ambil lap tangan ngedumel lagi” ucap Aurora sembari tersenyum tipis.

Lantas Alora langsung melihat baju nya yang sedikit basah karena ulah adik nya yang usil.

“Bundaaaaaaa…….liat tuh Aurora! jadi kotorkan baju Alora”

Kirana hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Sesekali ia melihat arah jam yang sudah menunjukan pukul 9 malam.

Tidak lama setelah itu, Ali pulang membawa boneka untuk kedua putri kembarnya.
“Taraaaaa……ini ada boneka boba buat putri ayah yang cantik “

“Iiihh bagus bangat lucu lagi, terima kasih ayaaahhhh, eemmuah” Aurora kegirangan dengan hadiah yang Ayahnya bawa, dan mencium pipinya.

Sedangkan Alora hanya duduk diam di tempatnya, melihat ke arah Ali.

“Apa bagus nya boneka kayak gitu?” ucapnya sambil melirik ke arah Aurora yang memeluk boneka boba.

“Wleeekkkkk.” Aurora hanya menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya.

Ali mendekati Alora dan mengusap kepala putrinya.

“Ini buat kakak.” Tangannya menyodorkan buku novel genre horor kesukaan Alora.

“Terima kasih ayah ini versi terbaru kan?” tanya Alora tersenyum manis.

“Hellehhh, kayak gitu aja senang.” Ledek Aurora membalas kakaknya.

Kirana tersenyum melihat tingkah keluarga kecilnya yang harmonis.

“Sudah jangan ribut di depan makanan pamali, sini ayah duduk capek kerja kan? makan lagi. Udah di masakin rendang bebek nih”

“Wih enak nih.” Puji Ali sembari duduk .


Makan malam kini telah usai. Waktunya Alora dan saudari kembarnya belajar di kamar yang sama dan di sudut ruangan yang berbeda.

Di tempat lain, Kirana sedikit berbincang tentang guru privat Alora.

“Gimana udah dapet guru musik buat Alora? Bunda lihat dia suka sekali bernyanyi di kamarnya, beberapa bukunya juga ada tentang belajar musik.”

Ali yang sedari tadi mengelus lengan istrinya, kemudian melarikan tangannya dan meraih handphone di atas meja di dekat ranjang mereka.

“Lihat deh yang di sini ada beberapa guru musik yang sudah ayah cari. cuma belum sempat di temui aja. Menurut bunda yang mana yang cocok buat Alora?” pertanyaan Ali yang masih ragu dengan guru musik yang cocok untuk putrinya.

Kirana memperhatikan beberapa profil guru-guru musik yang ada di handphone suaminya. Alisnya seketika mengkerut.

“Ini” Ucap nya singkat sembari menunjukkan ke arah photo dengan mengerutkan alis.

“Kenapa…?” tanya Ali kebingungan.

“Hmmmmm, ayah gimana si, kan ini cowok. Alora mana nyaman belajar dengan laki-laki apalagi yang jauh lebih dewasa dari umurnya.” Jawabnya memperjelas, Kirana beranjak dari tempat tidur, berniat menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur.

“Ayah lupa Alora punya trauma, mungkin sampai sekarang dia belom bisa lupain kejadian dulu.” Sambung Kirana yang sedang membersihkan wajahnya menatap kaca di kamar mandi.

“Kasian Alora dia harus merasakan trauma dalam di umurnya yang masih 16 tahun.” Keluh Ali sebagai seorang ayah.


Saat umur 10 tahun Alora mengalami hal terburuk dalam hidupnya, sampai membuat dirinya trauma hingga kini. Tepat pada tanggal 7 Juli 2012 di Jakarta, Alora dilaporkan hilang, ia diculik oleh gerombolan laki-laki bejat saat pulang dari sekolah. Kebetulan saat itu Aurora sedang sakit parah sehingga, orang tuanya tidak bisa menjemputnya sepulang sekolah.

Singkat cerita Alora berhasil ditemukan tanpa busana dan memar hampir sekujur tubuhnya. Ia disekap di sebuah rumah yang sudah lama kosong yang tidak jauh dari rumahnya. Dan baru ditemukan setelah 6 jam dilaporkan hilang, dalam keadaan tidak sadarkan diri, Alora pun langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Alora, ini bunda sayang.” Tegurnya sembari memeluk putrinya yang baru sadar, setelah sehari ia ditemukan.

Alora saat itu hanya diam, ia tidak ingin berbicara dengan siapapun. Air matanya terus mengalir saat ia tertidur. Terkadang ia berteriak kesakitan, dan minta tolong baik saat ia sadar, maupun saat ia tidur.

“Aaargghhhkkkkk ayahhhh ayaaahhhh tolongggg Alora!” Teriaknya saat itu yang berbaring di rumah sakit. Raut wajah yang begitu takut, dan rasa sakit yang selamanya akan ia kenang.

Dokter psikologi pun memberi diagnosa bahwa Alora mengalami gangguan stres pascatrauma atau disebut juga PTSD .

Kirana terus bersedih melihat kondisi putrinya. Sementara itu, Ali terus berusaha menangkap pelaku pelecehan di bawah umur yang dialami putrinya. Setelah tiga hari berlalu, polisi berhasil menangkap empat pelaku laki-laki berinisial A dengan umur 24 tahun, inisial F berumur 22 tahun, inisial K berumur 20 tahun, dan inisial D berumur 25 tahun. Begitulah hiruk pikuk dunia ini, begitu banyak kejahatan yang dapat menimpa siapapun tanpa memandang umur. Sedih sekali rasanya ketika melihat seorang gadis kecil, yang harusnya tertawa riang harus menanggung rasa trauma seumur hidupnya.

20 Juli 2012 Alora masih enggan bicara dengan siapapun kecuali orang tuanya dan saudari kembarnya.

“Makan sayang biar bisa cepat pulang ke rumah ya.” Seru Kirana berusaha menyuapi Alora yang masih terkapar di atas ranjang pasien. Pada akhirnya, Alora hanya diam seolah tidak ada siapapun di dekatnya. Berharap dunia ini hilang, agar tidak ada yang perlu ia takutkan lagi.

“Putri ayah yang cantik ayo makan! biar minum obat terus bisa pulang ke rumah main bareng sama Aurora.” Bujuknya dengan hati yang masih berlumur kesedihan.

“Enggaaaakkkkkkk.” Teriaknya sembari melempar piring yang kirana pegang tadi, sehingga membuat nasi dan lauk pauknya berserakan di seluruh lantai kamar.

Melihat makanan berserakan di lantai, Kirana menangis tersedu-sedu, betapa sakit hatinya melihat putrinya mengalami hal buruk itu.

Ali pun memeluk Alora dengan hati yang sangat menyesal karena, tidak bisa menolong putrinya kala itu. “Maafkan ayah nak, maafkan ayah hiks hiks hiks.” Tangisan terus-menerus menahan sakit.

Keesokan harinya Aurora berusaha menghibur saudari kembarnya. Ia membawa boneka panda kecil kesayangannya.

Tangan kecilnya menyentuh lengan Alora, ia tersenyum sembari memberikan boneka ke arah Alora. “Aurora biarin panda ini menemani kakak ya, biar tidak takut lagi.” Ucapnya.

Alora terdiam sejenak, tangannya kemudian meraih boneka tersebut dan melemparkan ke arah lantai.

“Kak, kakak jahat buang boneka Aurora hiks hiks hiks bundaaaa.” Teriaknya sembari menangis dan berlari mencari bundanya.


Sejak saat itulah Alora berhenti sekolah, ia selalu berteriak histeris ketika melihat seragam merah putih yang terakhir ia kenakan sebelum, kejadian malang itu menimpanya.

Karena kejadian itu, Ali memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya dan menetap di Kota Padang. Berharap putrinya membaik, dan melupakan kejadian yang mengerikan itu.

Meskipun begitu ternyata trauma yang Alora alami berlanjut hingga umurnya yang 16 tahun. Ia enggan keluar rumah, selalu menutup diri dari dunia luar, dan sangat takut menemui laki-laki dewasa. Alora hanya belajar di rumahnya dan di dampingi berbagai guru yang tentunya adalah seorang wanita. Sedangkan, Aurora saat ini sudah duduk di kelas 11 di salah satu SMA swasta di Padang. Bahkan Alora meminta agar adiknya tidak membeberkan tentang keberadaan dirinya. Hingga kini, teman-teman Aurora tidak tahu bahwa ia memiliki saudara kembar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Teh

Next Post

Emperan Meriahkan Pelepasan KKN dengan Arak-arakan

Related Posts

Kotak Hitam

Oleh: Lativa Husna (Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab  Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang) “Sekian dan terima kasih,”…
Selengkapnya