Oleh: Lina Indriani (Prodi Pendidikan Agama IsIam)
Tuhan memang senantiasa memiliki cara untuk mengajarkan sesuatu kepada kita, bahkan melalui hal-hal yang tampak sederhana seperti pertemanan. Aku, Alya, tidak pernah menduga, bahwa dari sebuah hubungan biasa dengan dua teman, aku justru memahami banyak hal tentang batasan, keikhlasan, dan ketulusan sesungguhnya.
Pada mulanya, kami bertiga aku, Nara, dan Dira bertempat tinggal di kos masing-masing. Sampai suatu sore, Dira datang ke kampus dengan ekspresi sedih. Ia menceritakan bahwa belakangan ini ia sulit tidur karena merasa tidak betah di kosnya. Ia berkata pelan, “Entah mengapa, rasanya seperti tidak punya tempat untuk kembali,” sambil memandang langit sore yang mulai menguning. Ia menjelaskan kamarnya terlalu sempit, dindingnya tipis, namun yang membuatnya paling tidak nyaman adalah rasa sepi yang melekat di udara setiap kali ia pulang sendirian.
Tak lama setelah itu, ia memutuskan pindah ke kos yang sama dengan Nara. Aku sempat merasa gembira, membayangkan persahabatan kami akan semakin erat. Semenjak mereka tinggal bersama, aku jadi lebih sering berkunjung ke kos tersebut. Kami kerap belajar bersama, berbincang hingga larut malam, bahkan kadang aku menginap apabila salah satu dari mereka sedang pulang kampung. Rasanya hangat, menyerupai memiliki keluarga kecil di perantauan. Aku merasa sangat dekat dengan Nara kemungkinan karena kami berasal dari daerah yang sama. Dengan Dira, aku pun cukup akrab, meskipun dalam hati selalu ada pemisah tipis yang tidak bisa kujelaskan.
Namun perlahan, suasana mulai berganti. Aku mulai melihat sisi lain dari Dira yang sebelumnya tidak kuketahui. Ia sering memaksakan keinginannya, terutama mengenai tugas. Apabila ada tugas, ia ingin semua orang mengikuti keinginan nya, dan tak jarang soal tugas dia ingin cepat selesai sendiri tanpa menghiraukan temannya yang lain. Nara yang biasanya sabar pun lambat laun terlihat kesal. Hubungan mereka mulai dingin, dan atmosfer di antara kami terasa kaku.
Aku sempat mencoba bertanya kepada Nara apa yang sesungguhnya terjadi, tetapi jawabannya membuatku terdiam. “Untuk apa kamu ikut campur? Ini bukan masalahmu,” ujarnya dengan nada datar. Aku hanya bisa menghela napas pelan dan membalas, “Aku hanya khawatir.”
Namun sejak momen itu, aku memilih diam. Sementara Dira, setiap kali kutanya, selalu mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja. Meskipun demikian, aku tahu, ada kekosongan di antara mereka berdua. Aku dapat merasakannya dari gaya bicaranya, dari senyum yang tidak lagi utuh. Dan di tengah semua itu, aku mulai merasa dimanfaatkan. Dira sering meminta bantuan atau meminjam sesuatu, dan aku selalu berusaha menuruti. Tetapi ketika aku bergantian meminta pertolongannya, selalu saja alasan: belum selesai, belum sempat, atau nanti saja.
Sampai suatu hari, aku mencoba meminta bantuan tugas kepada teman lain di kelas. Teman itu hanya menjawab singkat, “Boleh, besok aku bawakan.” Dan benar, keesokan paginya buku yang kuminta sudah tersedia di mejaku. Tanpa alasan, tanpa basa-basi. Dari situ aku menyadari, orang yang tulus tidak akan membuat kita harus menunggu atau merasa bersalah karena meminta bantuan.
Beberapa waktu kemudian, aku dan Nara sempat berbicara. Ia berujar dengan nada tenang namun menyentuh, “Mungkin lebih baik jika dulu kami tidak pernah satu kos. Kalau tidak, mungkin semuanya tetap baik-baik saja.” Aku hanya terdiam. Dalam hati aku berpikir, mungkin justru karena satu kos itulah semua terungkap. Tuhan memang sering menunjukkan karakter asli seseorang bukan untuk menyakiti, melainkan untuk melindungi kita dari luka yang lebih mendalam di masa depan.
Saat aku beribadah aku berdoa. Aku menceritakan segalanya pada Tuhan tentang rasa kecewa, rasa dimanfaatkan, dan kebingungan yang menyelimuti. Keesokan harinya, aku tanpa sengaja melihat sebuah konten di media sosial tentang “ciri-ciri individu manipulatif dan cara menghadapinya.” Aku tersenyum kecil. Mungkin inilah cara Tuhan menjawab doa: sederhana, tetapi tepat sasaran.
Kini aku sudah tidak lagi marah. Aku justru bersyukur. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa tidak semua teman bisa kita dekati dengan cara yang sama. Ada yang cukup menjadi rekan, ada yang bisa menjadi saudara, dan ada pula yang hanya singgah sebentar untuk memberikan sebuah pelajaran. Aku belajar bahwa ketulusan itu terasa, bahkan tanpa perlu kata-kata. Dan aku percaya, setiap orang yang datang dalam hidup kita membawa pesan bahwa Tuhan selalu bekerja, bahkan melalui luka kecil yang menjadikan kita lebih kuat dan lebih peka.