Suarakampus.com- Mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Adab dan Humaniora semester 7, menggelar Panggung Seni Bahasa Arab bersama Badan Seni Otonom (BSO) Saung Rasam HMPS. Kegiatan tersebut berlangsung di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatra Barat, Minggu (31/12).
Pentas seni Bahasa Arab tersebut diperagakan oleh masing-masing kelas, di mana Kelas 7 BSA A mengangkat cerita berjudul Surau Kami Mati Suri (Sukamti). Cerita tersebut merupakan sebuah pertunjukan yang diadaptasi dari cerpen Robohnya Surau Kami, karya A. A Navis.

Drama ini mengisahkan kehidupan seorang kakek yang tinggal di sebuah Surau perkampungan Minangkabau. Pada suatu hari, Ajo Sidi mengisahkan Haji Sholeh yang memperoleh ganjaran dari semua amalannya di dunia, sehingga suatu pagi, ketegangan melanda perkampungan tersebut. Kakek mengalami suatu peristiwa misterius, dan memicu rasa ingin tahu seluruh penduduk kampung.
Salah seorang mahasiswa 7 BSA A, Alfajri Assyodiqi menjelaskan tokoh Haji Sholeh merupakan seorang yang suka protes bahkan berani melawan tuhan. “Dia tidak terima ketika tuhan memasukkannya ke dalam neraka, karena merasa telah beribadah sesuai titah tuhan, dan merasa sangatlah cukup untuk memasukkannya ke dalam surga,” jelas pemeran haji Soleh dalam drama Sukamti tersebut.
Ia mengatakan, kisah ini menceritakan peristiwa tragis kematian kakek penjaga surau di kota kelahiran tokoh utama itu, yang menceritakan kematian si Kakek yang tragis dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat kabar dari Ajo Sidi si pembual. “Dia mendapat cerita bahwa Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si kakek,” katanya.
Ia menuturkan, Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah sosok yang rajin beribadah namun berbeda sesaat hari keputusan. “Semua ibadah dari A sampai Z dilaksanakan dengan tekun, saat hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka,” tuturnya.
Ia mengatakan Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya, tapi mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskan lah alasan dia masuk neraka. “Kamu tinggal di tanah Indonesia yang maha kaya raya, tapi engkau biarkan dirimu melarat hingga anak cucumu teraniaya semua,” ceritanya.
“Aku beri kau negeri yang kaya raya, tetapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang,” sambungnya.
Ia mengungkapkan setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi si kakek pun merasa tersindir dan tertekan. “Alhasil si kakek memutuskan bunuh diri, dan Ajo Sidi yang mengetahui kematiannya,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang penonton Raziq menjelaskan, dari segi aktor dan pemeranan tersebut cukup memukau karena terbilang hampir tidak terlihat bahwa semuanya berupa setingan belaka. “Dari segi penampilan sangat terstruktur, sehingga penonton dapat mengambil kesan pada setiap jedanya,” jelasnya.
Ia mengatakan pentas drama kali ini kurang kondusif dari segi situasi ruangan dan pencahayaan yang terlalu banyak. “Sehingga mengurangi kesan pementasan drama sesungguhnya,” kesan Raziq, saat diwawancarai selepas pementasan.
Ia melanjutkan, semua penonton menikmati setiap proses drama yang ditampilkan. “Step by step cerita dan penampilan sangat terstruktur, dan penonton dapat menikmatinya,” tutupnya. (red)
Wartawan: Ramadhani (Mg)