Oleh : Zahra Mustika (Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama)
Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang merupakan institusi pendidikan tinggi yang memikul amanah besar. Kampus ini bertanggung jawab menjaga otoritas keilmuan Islam, namun juga dituntut menunjukkan daya saing dalam dunia akademik yang semakin kompetitif, baik dikancah nasional maupun global.
Sayangnya, langkah kampus sejauh ini dinilai masih belum cukup progresif. Slogan “unggul dan kompetitif” yang selama ini digaungkan belum sepenuhnya tercermin dalam kenyataan.
Di era modern, reputasi akademik universitas sangat berpengaruh pada kontribusinya dalam menghasilkan karya ilmiah di jurnal bereputasi nasional maupun internasional. Ini tentu menjadi pertanyaan besar: mengapa kampus dengan sumber daya manusia yang besar belum mampu menjadi pelopor dalam produktivitas akademik, khususnya dalam mendorong mahasiswa aktif berkarya?
Kritik tidak hanya patut diarahkan kepada pengelola kampus. Sebagian mahasiswa tampak belum optimal dalam memanfaatkan peluang pengembangan diri, sehingga peran mereka sebagai agen perubahan belum sepenuhnya terlihat. Bahkan dalam hal-hal dasar seperti tanggung jawab terhadap tugas akademik, masih terdapat tantangan dalam hal manajemen waktu . Di lain sisi, para dosen dengan potensi besar untuk membawa perubahan signifikan juga menghadapi tantangan tersendiri yang kerap dibatasi oleh tanggapan mahasiswa yang tidak responsif. Saling dorong antara dosen dan mahasiswa menjadi penting, sebab perubahan hanya akan terjadi jika kedua belah pihak aktif berkontribusi dan tumbuh bersama.
Aspek digitalisasi dan transformasi teknologi juga menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Sudah waktunya solidaritas antara tenaga kependidikan dan mahasiswa semakin ditingkatkan dalam mengejar ketertinggalan.
Dalam konteks pengembangan, mahasiswa adalah subjek utama pendidikan tinggi. Mahasiswa seharusnya diposisikan sebagai mitra kritis dalam membangun budaya akademik yang sehat dan produktif. Hal ini mencerminkan belum tumbuhnya kesadaran akan peran strategis mereka dalam memperkuat tradisi akademik yang kritis dan reflektif.
Meski demikian, kritik ini bukanlah bentuk pesimisme, melainkan panggilan untuk bangkit. UIN Imam Bonjol punya peluang besar untuk memperbaiki diri dan melakukan lompatan strategis dalam lima tahun ke depan. Langkah pertama yang harus diambil adalah membangun sistem yang adaptif dan berorientasi pada kinerja. Penempatan sumber daya manusia perlu dilakukan berdasarkan visi perubahan, yang tidak hanya dititikberatkan pada dosen semata, namun juga seluruh elemen kampus dalam menciptakan kampus yang dapat bersaing.
Kedua, bidang riset dan publikasi harus menjadi prioritas utama. Dosen dan mahasiswa perlu didorong untuk aktif mempublikasikan karya ilmiah serta menjalin kolaborasi riset lintas institusi dan hal ini hanya akan terwujud jika mahasiswa menyadari peran mereka tidak kalah penting dibanding dosen. Mereka harus berani mengambil inisiatif sebagai pelopor perubahan. Ketiga, digitalisasi harus dipercepat secara menyeluruh. Perubahan ini membutuhkan kesadaran bersama bahwa transformasi digital bukan pilihan, tetapi kebutuhan.
Terakhir, nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas kampus harus diwujudkan dalam praktik nyata, bukan simbolik lahiriah saja. Identitas itu harus melekat pada setiap diri. Kini saatnya UIN Imam Bonjol tidak lagi hanya menjadi saksi perubahan, tetapi tampil sebagai pelaku utama dalam menciptakan transformasi. Masa depan kampus ini ada di tangan kita semua—dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan semangat kolaborasi dan visi yang kuat, UIN Imam Bonjol Padang bisa menjadi kampus yang benar-benar unggul dan kompetitif—bukan hanya dalam slogan, tetapi juga dalam kenyataan.