Menjembatani Makna, Menghubungkan Dunia

Moment bersama Seniman hebat (sumber : Smart Comunity of Literacy)

oleh : SCOCY (Smart Comunity of Literacy)

Kami menyebut circle ini dengan sebutan Circle Mahal. Lingkaran kecil, tapi tak biasa. Berjalan bersama, membawa makna, merawat asa di tiap langkah yang nyata. Ada yang jago bertutur, merangkai kisah hingga nyawa terasa menyatu dalam cerita. Ada yang lihai menulis, menjahit kata-kata seperti doa yang tak putus maknanya. Ada pula yang khusyuk pada agama, mengalirkan hikmah seperti sungai yang tak pernah kering airnya. Ada yang jeli menangkap cahaya, membekukan momen jadi kenangan yang tak lekang meski waktu bicara. Ada yang mengerti rahasia tumbuhan, menyusun racikan seperti tabib yang menyembuhkan luka, dan tentu saja, si paling aktif di antara semua, yang namanya bersinar di tiap sudut kota.

Kami datang dari jalan yang berbeda, tapi hati kami sama, menjaring makna, menyulam cinta, dan belajar dari apa pun yang dijumpa. Perjalanan kami ke Bukittinggi mulanya hanya niat sederhana, yakni menyegarkan jiwa, menjelajah makna di luar ruang kuliah yang kaku dan penuh suara. Kami ingin membuka cakrawala, menepi sejenak dari tumpukan tugas dan ambisi yang kadang membutakan mata.

Namun siapa sangka, di senja Pasar Atas yang membelai dengan cahaya jingga, langkah kami justru terhenti oleh hal yang tak biasa. Bukan panorama alam, bukan bangunan bersejarah yang memanggil rasa, melainkan semburat warna yang menari pelan di pagar-pagar kayu tua.

Kanvas-kanvas dijemur seadanya, membentang seperti lembaran rahasia. Di hadapannya, duduklah seorang lelaki tua, tenang dan bersahaja. Di sampingnya, sang istri, setia seperti doa yang tak pernah jeda. Beliau bukan nama yang terpampang megah di galeri seni ibu kota. Tak pernah wajahnya muncul di layar kaca, apalagi menjadi viral di media maya. Tapi lebih dari dua puluh lima tahun, hidupnya ia persembahkan pada kuas dan warna. Bukan sekadar hobi untuk mengisi jeda, tapi jalan panjang yang ia tempuh sebagai makna.

Dulu, ia pernah jatuh, tergelincir di lorong gelap bernama penjara. Namun, dari balik jeruji dan sepi yang menyiksa, ia menemukan cahaya. Seni lukis menjadi penyelamat, bukan pelarian semata. Dengan alat seadanya, tanpa bimbingan siapa-siapa, dinding penjara menjadi kanvas pertama, dan warna-warna menjadi caranya memohon maaf kepada dunia.

Ia belajar sendiri, diam-diam dan perlahan. Menebus kesalahan bukan dengan kata-kata, tapi dengan kesungguhan dan ketulusan yang dituangkan lewat warna. Setelah bebas, ia tak kembali menapaki jejak masa lalu yang muram dan nestapa. Ia memilih jalan baru, meski jalan itu sempit dan penuh luka lama.

Namun dunia luar ternyata tak serta-merta ramah, stigma masih membuntuti langkahnya diam-diam, tapi tak pernah henti menggema. Galeri seni terasa seperti menara yang menjulang tinggi tanpa tangga. Ia tahu, tak mudah menembus dinding kemewahan dengan sejarah yang tak disapa. Maka ia memilih tempat yang tak biasa, tangga-tangga tua di Pasar Atas, yang setiap hari dipijak banyak manusia.

Di sanalah ia bentangkan lukisannya, satu per satu, seperti membuka luka dan doa. Ditemani angin pasar yang tak kenal jeda, ditatap pejalan kaki yang kadang tak tahu cerita, dan bersabar, terus bersabar, dengan cinta yang tak pernah sirna. Kerja keras yang ia rawat diam-diam, akhirnya berbunga juga. Pada suatu hari yang tak ia duga, datanglah pengakuan dari negara. Di masa kepemimpinan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang bijaksana, ia menerima penghargaan atas dedikasinya dalam dunia warna.

Bukan sekadar sertifikat untuk dipajang, bukan sekadar piala untuk dipuja. Tapi bukti nyata, bahwa masa lalu bukanlah penjara selamanya. Seseorang bisa tumbuh meski pernah jatuh, bisa dihargai meski pernah direndahkan, dan bisa tetap sederhana meski telah menyentuh langit penghargaan.

Sore itu, kami bukan sekadar pengunjung, kami menjadi bagian dari kisahnya. Duduk bersamanya, di antara warna dan udara pasar yang tak pernah lelah menyapa. Percakapan mengalir hangat, seperti teh manis yang dituangkan perlahan di cangkir tua. Lalu tiba-tiba, langkah dua orang asing menuruni tangga, sepasang turis dari negeri jauh, dengan sorot mata yang penuh tanya. Mereka terpikat pada lukisan yang tergantung sederhana, terdiam, menunjuk, lalu saling bertukar kata.

Namun bahasa menjadi tembok yang membelah dua dunia. Si Bapak hanya tersenyum, gelengan kepalanya berkata, “Apo kecek Bule ko.” Dan mereka pun tak memahami sepatah kata pun bahasa ibu yang kami pakai sehari-hari. Momen itu nyaris hilang begitu saja, seperti momen yang sebelumnya telah pergi. Terselip di antara bahasa yang tak bersuara, dan harapan yang tak pernah terbeli.

Namun kali ini berbeda, semesta seolah memberi ruang untuk kisah ini bicara. Kami, Circle Mahal, bergerak tanpa rencana, tapi seirama. Si jago cerita menenun makna dengan tutur yang lembut dan penuh daya. Si paling eksis menjalin negosiasi, dengan senyum dan kelakar yang menjembatani dua budaya. Lalu yang lainnya, menangkap momen dengan lensa dan rasa, ada yang mencatat, ada yang mendengar dalam diam, namun hatinya turut bicara.

Lukisan-lukisan itu tak menampilkan wajah, tapi pemandangan Minangkabau yang utuh dan penuh arah. Ada gunung menjulang gagah, rumah gadang bersusun rapi, sawah yang menghampar hijau, dan langit senja yang tak henti memberi arti. Lukisan yang biasa bagi mata awam, tapi menyimpan perasaan yang tidak bisa dibeli. Turis itu menyukai tiga lukisan, tapi tetap menawar harga yang lebih rendah dari harapan. Kami memahami ini bukan sekadar transaksi, melainkan tentang perasaan. Seniman yang lebih mengutamakan penghargaan ketimbang hitungan, menerima dengan senyum pelan, bukan karena pasrah, tapi karena syukur yang dalam, serta keinginan agar warna-warna itu punya rumah.

Tiga lukisan pun dibungkus rapi, pemandangan Minang itu akan melintasi negeri, membawa serta kisah tentang seorang seniman tua, yang pernah terjatuh, namun memilih bangkit untuk bercerita. Bagi kami, itu bukan sekadar membantu menjual tiga karya. Bukan hanya soal rupiah, atau keberhasilan menjembatani transaksi di senja. Tapi tentang menghadirkan makna di antara celah bahasa yang tak sama, dan menjahit jembatan halus antara manusia yang berbeda rupa, berbeda tanah lahir, berbeda cara bicara, tapi satu dalam rasa.

Kami menyaksikan bagaimana warna bisa menyentuh jiwa, bagaimana kisah bisa melampaui suara. Kami belajar bahwa kadang, tugas kita bukan menyelesaikan, tapi cukup hadir untuk menghubungkan, antara yang tak saling paham. Kami datang ke Bukittinggi bukan membawa harapan besar, hanya niat sederhana, ingin belajar. Hingga kami pulang tak sekadar dengan catatan atau gambar, melainkan dengan pelajaran yang jauh lebih berharga daripada yang diajarkan di ruang-ruang kuliah yang gemetar.

Tentang harapan yang bisa tumbuh bahkan dari tikar, dari tangga pasar yang sudah retak dan tua. Tentang luka yang pelan-pelan disembuhkan oleh warna, yang tak berteriak, tapi terus bicara. Dan yang paling kami pahami sore itu, bahwa kehadiran kecil, jika dibawa dengan niat yang utuh dan hati yang jujur, bisa menjadi jembatan bagi hidup orang lain.

Bukan karena kita hebat, bukan karena kita tahu segalanya, tapi karena kita mau berhenti sejenak, mendengar, menyapa, dan mengulurkan tangan, di saat yang tak pernah diminta tapi sungguh dibutuhkan. Mungkin, seperti sapuan kuas si Bapak, pelan tapi pasti, tak tergesa, tapi penuh arti. Setiap langkah kami pun sejatinya sedang melukis diri. Melukis peran di tengah masyarakat yang kerap lupa arti empati. Melukis nilai, dalam bentuk kecil yang tak selalu disadari. Melukis masa depan, bukan sekadar gemilang di atas kertas, tapi yang hidup, bernapas, dan mengalir tulus di tiap garis semesta yang luas. Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak warna yang kita bawa, tapi seberapa dalam kita belajar menyentuh hati sesama.

Tulisan ini kami bangun bukan hanya untuk mengenang langkah kaki di Bukittinggi, tetapi untuk mengingatkan diri, bahwa pertemanan tak cukup berhenti di tawa dan candaan yang sesaat pergi. Di setiap lingkaran yang kita sebut Circle, ada cerita yang perlu dirawat, ada makna yang mesti diselami lebih dalam dari sekadar lucu-lucuan ringan yang menggelitik permukaan. Sebab dunia ini terlalu luas untuk dipahami sendiri, dan terlalu sunyi bila dijalani tanpa mau berbagi.

Di sini kami berdiri bersama, bukan sekadar berbagi peran, tapi membangun pemahaman. Bukan hanya tertawa, tapi juga saling menjaga luka. Bukan hanya bercerita, tapi juga saling membaca makna. Maka dengan rendah hati dan penuh rasa, tulisan ini kami persembahkan “Menjembatani Makna, Menghubungkan Dunia”

“Goresan adalah doa yang tak bersuara, tapi selalu tahu ke mana harus kembali, ke jiwa yang setia mendengarnya.” El-Fa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Wajah Baru Rumah Ormawa UIN Imam Bonjol Padang

Next Post

UKM Olahraga UIN IB Krisis Lapangan Layak Pakai

Related Posts