Suarakampus.com– Masyarakat sipil Sumatera Barat menggelar aksi Panggung Rakyat di Tugu Gempa, Kota Padang sebagai bentuk peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional. Kegiatan tersebut merupakan protes terhadap kekerasan aparat penegak hukum dan desakan kepada negara untuk menghentikan praktik penyiksaan terhadap warga sipil, Sabtu (28/06).
Ketua AJI Padang, Lina menyebut kegiatan ini sebagai respons terhadap kekerasan sistemik yang masih berlangsung. “Masyarakat masih menjadi korban kekerasan aparat,” ungkapnya.
Jurnalis tersebut menegaskan, pentingnya menolak normalisasi kekerasan dalam penegakan hukum. “Pelaku kejahatan tetap berhak diperlakukan secara manusiawi,” tegasnya.
Lina menilai Panggung Rakyat menjadi momentum untuk mendesak institusi kepolisian agar berbenah. “Kekerasan atas nama hukum harus dihentikan,” ucapnya.
Aktivis ini turut menyoroti kasus kematian Afif Maulana yang ditemukan meninggal di bawah Jembatan Kuranji tahun lalu. “Kasus ini mencerminkan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia,” katanya.
Perempuan itu menambahkan, meskipun kepolisian membantah keterlibatan, terdapat indikasi penyiksaan pada tubuh korban. “Kasus ini belum juga menemukan titik terang hingga kini,” ungkapnya.
Lina mengungkapkan, keresahan masyarakat atas kasus tersebut telah menyatukan berbagai elemen sipil untuk bersuara. “Kami hadir bukan sekadar menolak kekerasan, tetapi mengingatkan bahwa luka ini belum sembuh,” ujarnya.
Dirinya menekankan pentingnya penegakan hukum yang adil dan berperikemanusiaan. “Jika seseorang mencuri, hukum sesuai aturan, bukan disiksa,” jelasnya.
Sementara itu, Kalvin dari LBH Padang menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk perlawanan sipil terhadap praktik penyiksaan. “Kami datang dari latar berbeda untuk bersatu dalam suara,” katanya.
Kalvin menambahkan bahwa aksi tersebut diisi dengan ekspresi bebas seperti orasi, puisi, mural, monolog, dan musik. “Meski sempat tertunda karena hujan, acara tetap berlangsung dengan izin resmi,” tuturnya.
Ia menyatakan bahwa penyiksaan tidak hanya menimpa masyarakat, tetapi juga jurnalis yang tengah bertugas. “Kami ingin membuka mata publik bahwa kekerasan masih terjadi,” ujarnya.
Kalvin menegaskan bahwa negara harus bertindak tegas menghentikan kekerasan di seluruh lembaga penegak hukum. “Negara harus memutus rantai kekerasan di semua institusi,” tutupnya. (ver)
Wartawan: Zahra Mustika