Suarakampus.com– Komunitas Ubermenchy Philosophy mengadakan diskusi daring bertema Apa Jadinya Pendidikan Tanpa Filsafat bersama akademisi Marlin Suryajaya. Diskusi ini membahas peran filsafat dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, dan tantangan modern yang menganggap filsafat usang, Minggu (27/07).
Marlin menjelaskan, anggapan filsafat telah mati selalu muncul dalam sejarah. “Kalimat seperti itu hanya tanda stagnasi, bukan akhir dari disiplin ilmu ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak abad ke-18, filsuf seperti Immanuel Kant menyatakan cabang logika dalam filsafat mati karena stagnasi. “Namun justru pasca-klaim itu, filsafat bangkit melalui perdebatan dan inovasi,” kata Marlin.
Marlin mencontohkan peran filsafat dalam revolusi sains abad ke-16 dan 17 yang menggeser tradisi Aristotelian. “Para filsuf seperti Newton dan Leibniz tidak hanya menyumbang pada fisika, tetapi juga metafisika dan logika,” ucapnya.
Ia menambahkan, filsafat kerap menjadi penyelamat saat ilmu pengetahuan mengalami krisis. “Ketika sains mengalami disorientasi atau stagnasi, filsafat muncul untuk merumuskan ulang landasan berpikir,” katanya.
Menurutnya, hal serupa terjadi dalam krisis fondasional matematika awal abad ke-20 yang melahirkan aliran logisisme. “Matematikawan saat itu justru berpikir secara filosofis untuk menjawab konflik sistem geometri berbeda-beda,” katanya.
Marlin juga mengkritik pernyataan tokoh modern seperti Stephen Hawking yang menyebut filsafat telah mati. “Argumen seperti itu sendiri justru bersifat filosofis,” tegasnya.
Ia menekankan, filsafat merupakan keniscayaan dalam semua cabang ilmu, terutama saat menyentuh ranah fundamental. “Begitu kita mempertanyakan nilai, keadilan, dan makna, kita telah masuk wilayah filsafat,” ujarnya.
Terkait pendidikan, Marlin mendukung filsafat diajarkan sejak sekolah menengah. “Saya setuju filsafat dijadikan mata pelajaran wajib, bukan hanya di perguruan tinggi, tetapi juga di SMA,” katanya.
Ia menyimpulkan, filsafat adalah bagian tak terpisahkan dari proses berpikir manusia. “Masalahnya bukan ingin berfilsafat atau tidak, tapi ketidakmungkinan lepas dari filsafat itu sendiri,” pungkas Marlin. (ver)
Wartawan: Najwalin Syofura