Suarakampus.com– Perguruan Silek Pamenan Hati di Pekonina Alam, Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan menjadi salah satu warisan budaya Minangkabau yang terus dikembangkan. Kegiatan ini diikuti siswa SLTP dan SLTA dengan tujuan melestarikan tradisi sekaligus mengurangi ketergantungan pada handphone, Senin (28/07).
Pelatih Perguruan Silek Pamenan Hati, Supardi menyatakan, kegiatan rutin di perguruannya seperti bela diri dan seni tari bertujuan untuk melestarikan budaya tradisional. “Selain mempelajari seni tari, kegiatan ini kami desain guna menciptakan generasi yang mencintai budayanya sendiri,” tuturnya.
Supardi menambahkan, Perguruan Silek Pamenan Hati berdiri pada 2023 dengan mengadopsi berbagai aliran silek terutama Silek Kumang. “Aliran ini berasal dari daerah Sangkar yang dipimpin Syekh Abdurahman Al Kholidi,” jelasnya.
Supardi juga menyebutkan, Pamenan Hati memiliki peran besar dalam sejarah seni bela diri Minangkabau. “Perguruan ini memiliki cabang di berbagai daerah,” paparnya.
Ia mencontohkan salah satu induk Pamenan Hati di Padang yang dipimpin murid Angku Rahman bernama Abdul Mutholib. “Ia bergelar Alifiza Rajo Mincayo yang dimana guru dari bapak sendiri” ungkapnya.
Supardi menuturkan, pada 2016 nama perguruan mungkin berbeda, tetapi alirannya tetap sama, dengan cabang-cabang di berbagai daerah, Pamenan Hati menyebarkan ajaran dan nilai-nilai aliran tersebut. “Aliran ini banyak ditemukan di Minang, seperti di Pariaman dan Solok Selatan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, keuntungan silek adalah tradisi yang menerapkan mental, fisik, etika, akhlak, dan agama. “Budaya ini harus terus dilestarikan agar tradisi-tradisi kita tetap hidup dari generasi ke generasi,” katanya.
Ia juga menuturkan, pemerintah daerah mendorong generasi muda untuk mempelajari budaya Minangkabau. “Wakil gubernur bahkan mewajibkan SMA sederajat mengenal tradisi daerah,” ucapnya.
Seorang warga setempat, Deni Yurita, menilai kegiatan ini bermanfaat bagi anak-anak. “Tradisi ini mengajarkan bela diri dan mengurangi penggunaan handphone,” katanya.
Yurita menyebutkan, anak-anak menunjukkan antusiasme luar biasa dalam mengikuti kegiatan ini dengan semangat tinggi dan kesungguhan patut diapresiasi. “Alhamdulillah, mereka benar-benar menikmati setiap momen,” sebutnya.
Ketua Mahasiswa KKN 51 UIN Imam Bonjol Padang, Arief mengatakan, budaya ini bukan hanya tentang adat, rumah gadang, atau tari piring, tetapi menyangkut nilai-nilai luhur Minang. “Saya memandang budaya Minangkabau bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi identitas dan kekuatan pembentuk jati diri,” ujarnya.
Ia berharap, anak-anak dan generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut aktif mempelajari, mempraktikkan, serta melestarikan budaya Minangkabau. “Baik melalui seni bela diri, kesenian, maupun nilai-nilai adat yang membentuk karakter, mari kita lestarikan,” tutupnya. (ver)
Wartawan: Tsamaratur Rahmi, Isyana Nurazizah Azwar