Oleh : Mutiara Dwi Persada (Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab)
Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, dunia pendidikan Indonesia menghadapi tantangan besar yang tidak bisa diabaikan, yakni krisis moral di kalangan remaja. Fenomena ini bukan sekadar masalah perilaku individu, melainkan cerminan dari sistem pendidikan yang kehilangan arah nilai. Guru yang semestinya menjadi sosok teladan dan penjaga moral, kini justru sering berada di posisi yang lemah dan serba salah. Sementara itu, siswa kian berani melanggar aturan, bahkan menentang otoritas pendidik. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pendidikan kita tengah berada pada titik kritis, di mana nilai dan moral mulai tergerus oleh budaya bebas yang lahir dari sistem sekuler dan liberal.
Baru-baru ini kembali terjadi potret yang sangat mengiris hati. Seperti yang dilansir dari Suara.com, pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Hal ini bermula dari adanya polemik yang melibatkan Kepala SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, Dini Fitri, yang diduga menampar siswa karena merokok di lingkungan sekolah. Kasus ini akhirnya diselesaikan secara damai, dan orang tua siswa pun mencabut laporan polisi terhadap Dini. Insiden penamparan tersebut berawal ketika seorang siswa bernama Indra ketahuan merokok oleh Dini di belakang sekolah. Saat ditegur, Indra justru berbohong dan mengaku tidak merokok.
Ada pula potret lain yang memperlihatkan seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang dengan santainya merokok sambil mengangkat kaki di samping gurunya, Ambo. Berita ini menyebar cepat di jagat maya. Tampak jelas bahwa insiden seperti ini bukan sekadar cerita tentang kenakalan remaja, melainkan dilema besar yang tengah dihadapi para pendidik di era modern saat ini.
Banyak sekali dampak yang ditimbulkan oleh krisis moral remaja masa kini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada sekitar 15 juta remaja berusia 13–15 tahun di seluruh dunia yang menggunakan rokok elektrik atau vape. Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut remaja memiliki kemungkinan sembilan kali lebih besar untuk menggunakan vape dibandingkan orang dewasa. Hari demi hari penyimpangan terus terjadi, dan sebagian besar dilakukan oleh para remaja.
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Saat ini posisi pendidik memang semakin rumit. Akar masalahnya terletak pada adanya ruang abu-abu dalam penerapan disiplin siswa serta tergerusnya wibawa guru. Beberapa guru merasa tidak lagi dihormati oleh muridnya. Bahkan ada yang takut menegur murid yang berbuat salah karena khawatir mendapat perlawanan dari orang tua siswa, bahkan sampai dilaporkan ke polisi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa siswa merasa memiliki kebebasan bertindak di luar batas etika, sementara guru merasa tak berdaya. Ketika guru ingin menegakkan kedisiplinan, mereka kerap diadukan dan posisinya terancam. Akibatnya, banyak guru memilih diam, dan tindakan-tindakan menyimpang pun terus berulang, bahkan semakin parah.
Kondisi ini tidak terlepas dari penerapan sistem kapitalisme sekuler dan liberal saat ini. Masyarakat, termasuk para pelajar, tidak mau diatur dan ditegur. Negara pun abai terhadap tanggung jawabnya dalam melahirkan generasi yang taat aturan dan bermoral.
Contohnya adalah kebiasaan merokok. Bagi sebagian remaja, merokok dianggap sebagai simbol kedewasaan, jati diri, dan kebanggaan agar terlihat keren. Apalagi jika lingkungan sekitarnya mendukung, maka perilaku itu semakin menjadi-jadi. Di sisi lain, rokok juga sangat mudah dijangkau oleh remaja. Inilah bukti lemahnya negara dalam hal pengawasan.
Segala bentuk kekerasan memang tidak dibenarkan. Namun, yang dibutuhkan adalah pendidikan yang mampu menjadikan remaja paham siapa dirinya dan ke mana arah hidupnya. Pendidikan harus berbasis nilai-nilai Islam agar tercipta pola pikir dan pola sikap Islami. Dalam hal ini, negara berperan penting dalam memfasilitasi jaringan pendidikan, mulai dari pembangunan, fasilitas, hingga kurikulum yang diatur oleh negara. Dengan demikian, output yang dihasilkan akan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Bagaimana Islam Memandang Hal Ini?
Dalam sistem pendidikan saat ini, tidak ada perlindungan yang jelas bagi guru. Guru berada dalam tekanan yang luar biasa. Seperti pada kasus di atas, sungguh menyedihkan ketika guru yang berusaha menegakkan kedisiplinan justru dibungkam bahkan diancam dipecat.
Padahal, dalam Islam, mengingatkan seseorang yang bersalah merupakan bagian dari amar makruf nahi mungkar, meski tentu tidak dengan kekerasan. Diperlukan upaya tabayyun dan pendekatan terlebih dahulu untuk memahami latar belakang seseorang melakukan kesalahan. Dengan demikian, ketika ia ditegur dengan baik dan sudah jelas kesalahannya, fitrahnya akan mendorongnya untuk mengakui kesalahan tersebut.
Namun, karena sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini memberikan ruang kebebasan tanpa batas, hal ini menjadi bukti nyata gagalnya sistem pendidikan dalam mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, sangat perlu menanamkan kembali nilai-nilai fundamental seperti sopan santun dan rasa hormat kepada guru.
Dalam Islam, guru merupakan pilar peradaban. Posisi guru sangat dihormati dan dimuliakan karena tugasnya membentuk kepribadian murid. Guru bukan hanya gudang ilmu, melainkan pendidik yang memberi suri teladan bagi muridnya. Maka, seorang guru pun harus memiliki kepribadian yang baik, bersumber dari ajaran Islam, agar pola pikir dan pola sikapnya selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Hukum Merokok dalam Islam
Terkait dengan tindakan merokok, dalam Islam hukumnya mubah. Namun, jika menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain, maka hukumnya dapat berubah menjadi makruh bahkan haram. Merokok dapat membahayakan kesehatan baik bagi perokok aktif maupun pasif, serta menyebabkan pemborosan.
Karena itu, sebaiknya dihindari, terlebih bagi para remaja yang seharusnya memiliki tubuh sehat, kuat, dan aktif. Jika merokok justru melemahkan tubuh, maka jelas hal itu merugikan diri sendiri dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Solusi Pendidikan Islam
Sistem pendidikan Islam mengajarkan bagaimana pelajar memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai ajaran Islam. Dengan demikian, akan lahir generasi yang memiliki kesadaran penuh bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah dan akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuatannya kelak.
Remaja Muslim harus berprinsip dan bangkit menjadi generasi beriman, bukan generasi yang merusak. Maka dibutuhkan wadah yang mampu membentuk karakter tersebut, yakni negara yang mendukung masyarakatnya untuk terikat dengan aturan Islam, negara khilafah. Dengan tegaknya negara Islam, insyaallah hal ini akan menjadi solusi hakiki bagi setiap problem yang dirasakan oleh umat.
Wallahu a‘lam bishshawab.