Emping dan Air Asam Warna-Warnikan Festival Serak Gula

Ibu Halidah, salah satu keturunan India Muslim, saat menjelaskan makna hidangan tradisi Serak Gula, Sabtu (22/11). Foto: Aisyah Nurlaili Arinda/Suarakampus.com.

Suarakampus.com– Tradisi Serak Gula, warisan budaya komunitas India Muslim di Padang, kembali digelar dengan meriah dan menarik kehadiran masyarakat dari berbagai kalangan. Meski merupakan tradisi keturunan India, acara ini terbuka untuk umum dan setiap tahun selalu dipadati pengunjung, Sabtu (22/11).

Menurut salah satu keturunan India, Ibu Halidah menjelaskan, Serak Gula tidak hanya identik dengan pembagian gula, tetapi juga penyajian makanan ringan seperti emping, air asam, dan bolu koja. Ketiga sajian tersebut bukan merupakan makanan khas India, namun telah menjadi bagian dari kebiasaan turun-temurun dalam tradisi ini.

Ibu Halidah menyampaikan, makanan yang dibagikan disediakan dari dana pribadi keluarga narasumber. Tahun ini, sekitar 10 rantang emping dan air asam yang dibuat dari kurang lebih 50 kilogram jeruk nipis turut disajikan kepada masyarakat setelah prosesi doa selesai.

Narasumber mengungkapkan, semua hidangan diberikan secara gratis dan terbuka untuk umum. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya pengunjung yang hadir dari berbagai kalangan.

“Yang datang tidak hanya orang India, tapi justru lebih banyak masyarakat umum,” jelasnya.

Ibu Halidah menyampaikan, Dalam prosesi utama, sekitar 3 ton gula dibagikan kepada warga. Dua ton merupakan bantuan dari pemerintah, sementara sisanya berasal dari keluarga pelaksana serta masyarakat yang bernazar.

Ia menambahkan, tradisi nazar juga tampak dalam penggunaan bendera pada tahun ini. Bendera berwarna hijau dipilih karena ada warga yang bernazar, dengan warna tersebut dianggap mengikuti simbol surban Nabi, namun warna lain seperti putih, merah, atau kuning juga diperbolehkan.

Ibu Halidah menyoroti, sebelum digunakan, bendera melalui prosesi khusus yang diletakkan bersama cendana di atas tempat salat, kemudian diselawatkan dan dipanjatkan doa. Prosesi ini menunjukkan nilai spiritual yang melekat dalam setiap elemen tradisi.

Meski acara berlangsung meriah, Ibu Halidah menyoroti pentingnya menjaga kemurnian tradisi India Muslim dalam pelaksanaannya. Ia menilai adanya unsur budaya Minang yang disisipkan, seperti penggunaan kain tabir, membuat ciri khas budaya India menjadi kurang terlihat.

Selain itu, narasumber menilai penyebutan kegiatan sebagai festival Serak Gula dianggap kurang tepat karena mengaburkan identitas tradisi asli. Bahkan perubahan pelafalan dari Serak Gula menjadi Serak Gulo dinilai menunjukkan pergeseran pemahaman masyarakat.

“Kami berharap pemerintah tetap melestarikan tradisi ini dalam bentuk aslinya, agar ciri khas budaya India Muslim tidak hilang,” tutupnya. (ver)

Wartawan: Aisyah Nurlaili Arinda (Mg), Randhi Vahrozi Hutabarat (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Pemprov Sumbar dan Pemko Padang Tegaskan Komitmen Kolaborasi Dukung Tradisi Serak Gulo

Next Post

Festival Serak Gulo Meriah, Warga Rebutan Gula Sampai Satu Karung

Related Posts