Elsa dan Keempat Pionnya : Misi Untuk Newton

Ilustrator: Isyana Nurazizah Azwar

Oleh : Verlandi Putra
(Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN IB)

Part 3

Fajar di abad ketujuh belas menyingsing dengan keraguan. Sementara kabut pagi masih menggantung rendah di ladang-ladang Woolsthorpe, Elsa Althafunnisa duduk di ambang jendela penginapan, menatap tetesan embun yang menghiasi dedaunan. Rambutnya yang hitam tergerai bebas, dan matanya yang lelah menyiratkan malam panjang tanpa tidur. Jemarinya memainkan sebuah koin kuno, satu-satunya benda yang menghubungkan mereka dengan Pion Masa dan misi yang kini terasa semakin mustahil.

“Sudah bangun sejak tadi?” Suara lembut Isyana mengisi keheningan ruangan.
Elsa tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa sahabatnya itu tengah mengamatinya dengan tatapan cemas. Isyana selalu peka, selalu bisa membaca pergolakan hati Elsa bahkan ketika gadis itu sendiri berusaha menyembunyikannya.

“Aku tidak tidur,” aku Elsa, masih menatap keluar jendela. “Terlalu banyak yang kupikirkan.”
Isyana menghampiri, membawa dua cangkir kayu berisi teh herbal yang mengepul. Aroma mint dan chamomile mengisi udara, memberikan sedikit kenyamanan di tengah kebimbangan mereka.
“Kau meragukan misi ini,” ucap Isyana, bukan sebagai pertanyaan, tapi sebagai pernyataan yang telah jelas jawabannya.

Elsa akhirnya menoleh, menatap sahabatnya dengan sorot mata yang penuh kebimbangan. “Tidakkah kau merasa ada yang aneh? Semuanya terlalu… sulit. Seakan-akan waktu sendiri menolak untuk diubah.”

“Dan Sir Eldric,” tambah Isyana, menyerahkan secangkir teh kepada Elsa. “Dia tahu terlalu banyak.”
Saat nama itu disebut, sesuatu yang dingin seakan merayap di punggung Elsa. Sir Eldric pria misterius dengan mata yang seolah telah menyaksikan ribuan tahun berlalu. Peringatannya masih menggema jelas dalam ingatan Elsa: “Sejarah memiliki mekanisme pertahanan sendiri.”

Pintu kamar berderit terbuka, dan tiga sosok lain memasuki ruangan. Zara dengan catatan-catatan di tangannya, Winda dengan sorot mata penuh determinasi, dan Verlandi yang tampak lebih tenang dari biasanya. Mereka semua lima pemuda yang terjebak dalam permainan waktu yang belum mereka pahami sepenuhnya.

“Kita perlu bicara,” kata Zara, meletakkan catatannya di atas meja kayu. “Aku sudah mengamati rutinitas Newton selama dua hari terakhir. Ada celah—tapi kita harus bergerak cepat.”

Elsa menegakkan tubuhnya, berusaha menyingkirkan keraguan yang terus menggelayuti pikirannya. “Apa yang kau temukan?”

“Newton memiliki kebiasaan untuk duduk di bawah pohon apel setiap pukul sepuluh pagi, membaca hingga siang. Namun, setiap Rabu—yang kebetulan adalah hari ini—dia akan pergi ke desa sebelah untuk membeli tinta dan kertas. Kita bisa memanfaatkan momen itu.”

Winda, yang sejak kemarin bertugas menyelidiki siapa sebenarnya Sir Eldric, menambahkan, “Tentang Sir Eldric tidak ada seorang pun di desa ini yang mengenalnya. Aku sudah bertanya pada pemilik penginapan, pedagang di pasar, bahkan pendeta setempat. Mereka semua melihatnya, tapi tidak ada yang tahu dari mana dia berasal.”

“Seolah-olah dia muncul dari ketiadaan,” gumam Verlandi. “Seperti kita.”

Keheningan menyusup di antara mereka. Elsa menatap keempat rekannya satu per satu, melihat campuran kebimbangan dan tekad yang terukir di wajah mereka. Mereka semua dihadapkan pada pilihan yang sama, melanjutkan misi atau mengakui kekalahan.

“Isyana,” Elsa menoleh pada gadis berkacamata itu, “bagaimana dengan analisismu tentang efek sejarah?”

Isyana membuka jurnalnya, halaman-halaman yang penuh dengan tulisan rapi dan diagram kompleks. “Jika gravitasi tidak ditemukan oleh Newton, perkembangan ilmu fisika akan tertunda setidaknya satu abad. Tanpa hukum gravitasi, tidak akan ada teori relativitas Einstein, tidak ada penerbangan antariksa, bahkan program ruang angkasa akan terhambat. Efeknya sangat masif.”
“Tapi bukankah itu yang diinginkan Pion Masa?” tanya Winda. “Mereka mengirim kita untuk mencegah penemuan itu terjadi.”

“Yang membuatku bertanya-tanya,” Verlandi menimpali, “apa sebenarnya tujuan Pion Masa? Mengapa mereka ingin mengubah aspek fundamental dari sejarah sains?”

Elsa merasakan kepalanya berdenyut. Terlalu banyak pertanyaan, terlalu sedikit jawaban. Namun, waktu mereka terbatas. Jika mereka ingin bertindak, harus segera.

“Kita akan mencoba sekali lagi,” putus Elsa akhirnya. “Tapi kali ini dengan strategi berbeda. Verlandi, apa idemu untuk mempengaruhi peristiwa tanpa campur tangan langsung?”

Verlandi, yang biasanya pendiam, maju dengan percaya diri. “Kita perlu menciptakan pengalihan. Bukan mencegah Newton duduk di bawah pohon, tapi mencegah apel itu jatuh. Aku sudah menyiapkan sebuah sistem sederhana menggunakan benang dan ranting untuk menarik cabang pohon agar buahnya tidak jatuh pada waktu yang ditentukan.”

“Itu mungkin bisa berhasil,” Zara mengangguk, tampak terkesan. “Dan kalaupun gagal, setidaknya kita tidak menunjukkan diri secara langsung.”

“Bagus,” Elsa menepuk pundak Verlandi. “Kita berangkat satu jam lagi. Bersiaplah.”

Saat mereka semua berpencar untuk mempersiapkan diri, Elsa kembali ke ambang jendela. Di kejauhan, Woolsthorpe Manor berdiri angkuh, dengan kebun apelnya yang rindang. Dan di suatu tempat di sana, Sir Eldric mungkin sedang mengawasi mereka, menunggu langkah mereka selanjutnya.

Siang itu, matahari bersinar terik di atas kebun Woolsthorpe. Elsa dan timnya bersembunyi di balik semak-semak yang cukup rimbun untuk menutupi kehadiran mereka. Zara, dengan ketelitiannya, telah memastikan bahwa Newton sudah berangkat ke desa sebelah untuk membeli keperluan menulisnya.

“Kita punya waktu sekitar dua jam sebelum dia kembali,” bisik Zara.

Verlandi mengeluarkan peralatnnya benang tipis namun kuat, beberapa ranting yang telah dimodifikasi, dan sebuah alat dari masa depan yang telah mereka sembunyikan yaitu sebuah pendeteksi pergerakan mini.

“Jika perhitunganku benar,” ujar Verlandi, “apel itu akan jatuh sekitar pukul tiga sore, saat Newton biasanya duduk di tempat ini. Kita perlu memasang sistem ini sedemikian rupa sehingga cabang pohon tetap stabil bahkan saat angin bertiup kencang.”

Dengan gerakan cepat dan terlatih, Verlandi mulai memasang sistemnya. Elsa mengawasi sekitar, memastikan tidak ada yang melihat aktivitas mereka. Isyana mencatat setiap langkah yang mereka ambil, sementara Winda tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya Sir Eldric.

“Selesai,” kata Verlandi setelah beberapa menit. Sistem yang dia pasang terlihat alami, hampir tidak terlihat kecuali jika seseorang benar-benar memperhatikan dengan seksama. “Sekarang kita hanya perlu menunggu.”

Mereka mundur ke tempat persembunyian yang lebih jauh, di balik sebuah bangunan kecil yang tidak terpakai di sudut kebun. Dari sana, mereka bisa mengawasi pohon apel tanpa terlihat mencurigakan.

Waktu berlalu dengan lambat. Matahari perlahan bergeser, dan bayangan pohon apel mulai memanjang. Keheningan yang tegang menyelimuti kelima pemuda itu, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Ada yang aneh,” Isyana tiba-tiba berkata, suaranya nyaris berbisik. “Lihat ke arah manor.”

Mereka semua menoleh. Di kejauhan, sesosok pria sedang berjalan menuju pohon apel. Bukan Newton, terlalu cepat untuk kepulangannya, melainkan Sir Eldric.

“Sial,” gumam Zara. “Bagaimana dia tahu?”

Elsa merasakan jantungnya berdegup kencang. Sir Eldric melangkah dengan tenang, seolah tanpa beban, mendekati pohon apel yang telah mereka pasangi sistem pengaman. Dia berhenti tepat di bawahnya, mendongak sejenak, lalu—seolah tahu persis apa yang harus dicari yang mulai memeriksa cabang pohon.

“Dia akan menemukan peralatan kita,” bisik Winda panik.

BERSAMBUNG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Pergimu Menyisakan Tanya

Next Post

Dewasa Bukan Soal Paling Kuat Bertahan, Tapi Paling Jujur Mengakui Lelah

Related Posts