Demonstrasi Mosi Tidak Percaya Hantam UIN IB dengan Tujuh Tuntutan

Mahasiswa menyampaikan orasi dalam aksi demonstrasi “Mosi Tidak Percaya” di depan gedung rektorat UIN Imam Bonjol Padang, Senin (09/03). Sumber : Zahra Mustika.

Suarakampus.com– Aksi demonstrasi bertajuk “Mosi Tidak Percaya” mengantarkan mahasiswa menyampaikan tujuh tuntutan kepada pimpinan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang terkait transparansi dan sejumlah persoalan internal universitas. Tuntutan tersebut disampaikan untuk memperoleh penjelasan dari pihak institusi, Senin (09/03).

Koordinator aksi mahasiswa, Rahmad Sitepu menjelaskan, dalam aksi kali ini terdapat tujuh tuntutan yang dikantongi. “Tuntutan- tuntutan tersebut dirumuskan setelah mahasiswa mengamati berbagai persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius,” jelasnya.

Rahmad mengatakan, mahasiswa ingin memastikan pengelolaan universitas berjalan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada civitas akademika. “Mahasiswa ingin kampus dikelola secara transparan,” ujarnya.

Rahmad kemudian memaparkan tujuh tuntutan mahasiswa:
1. Mendesak Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat untuk mengusut secara transparan dugaan korupsi pembangunan Kampus III UIN IB Padang periode 2019–2022.
2. Meminta penjelasan dari Satuan Pengawas Internal (SPI) UIN IB Padang terkait proses pengawasan proyek pembangunan Kampus III.
3. Menuntut kejelasan mengenai pengelolaan alat berat milik kampus berupa ekskavator dan dump truck pada periode 2024–2025.
4. Meminta kepastian terkait rencana pembangunan masjid di kawasan Kampus III UIN IB Padang.
5. Menuntut keterbukaan informasi mengenai kinerja Satuan Tugas Bencana kampus dalam menangani persoalan infrastruktur yang terdampak bencana.
6. Meminta transparansi mengenai mekanisme kerja Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di lingkungan kampus.
7. Mendorong dilakukannya evaluasi terhadap sejumlah kebijakan akademik dan persoalan internal universitas yang dinilai berdampak pada mahasiswa.

Setelah penyampaian tuntutan tersebut, salah satu mahasiswa, Muhammad Rifatih Hasibuan, mengatakan masih terdapat persoalan lain yang turut menjadi perhatian mahasiswa. “Kami mempertanyakan kejelasan proses pembangunan Kampus III yang saat ini sedang disorot,” ujarnya.

Rifatih juga menyinggung pengelolaan aset kampus berupa alat berat yang dinilai perlu dijelaskan secara terbuka kepada civitas akademika. “Penggunaan ekskavator dan dump truck milik universitas pada periode 2024–2025 menimbulkan pertanyaan di kalangan mahasiswa,” katanya.

Selain itu, Aulia Eka Putra turut menyoroti beberapa persoalan yang berkaitan dengan fasilitas dan lingkungan belajar mahasiswa. “Fasilitas kampus seharusnya mampu menunjang kegiatan akademik,” ujarnya.

Aulia mengatakan, pihak universitas perlu memberikan perhatian serius terhadap berbagai persoalan tersebut. “Upaya perbaikan perlu dilakukan agar lingkungan kampus semakin kondusif bagi aktivitas belajar mahasiswa,” ujarnya.

Gubernur DEMA FEBI, Timbul Halomoan Rambe mengatakan, berbagai tuntutan serta keluhan mahasiswa telah disampaikan kepada pimpinan universitas melalui forum dialog. “Alhamdulillah aspirasi direspon dengan baik,” katanya.

Sementara itu, Rektor UIN IB, Martin Kustati menyatakan, pihak universitas mencatat berbagai hal yang disampaikan mahasiswa dalam forum tersebut. “Kampus akan menelaah berbagai poin yang menjadi perhatian mahasiswa,” katanya.

Martin menegaskan, aspirasi mahasiswa akan menjadi bagian dari evaluasi internal. “Semua hal yang disampaikan mahasiswa akan kami pelajari dan menjadi bahan evaluasi,” tutupnya. (Fau)

Wartawan : Salsabila Nur Aini (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Komunitas Seni Nan Tumpah Tutup Kelana Gambar Bergerak dengan Pemutaran Karya Peserta

Next Post

Ratusan Massa Kepung Rektorat UIN IB Tuntut Transparansi

Related Posts