Komunitas Seni Nan Tumpah Tutup Kelana Gambar Bergerak dengan Pemutaran Karya Peserta

Sumber : Dokumentasi Pribadi Narasumber

Suarakampus.com- Komunitas Seni Nan Tumpah menutup rangkaian kegiatan Kelana Gambar Bergerak dengan acara buka bersama dan pemutaran karya peserta di sekretariat komunitas tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang presentasi hasil belajar sekaligus pertemuan antara peserta, orang tua, warga Korong Kasai, serta rekan komunitas, Minggu (08/03).

‎Manager Program Komunitas Seni Nan Tumpah, Fajry Chaniago, mengatakan Kelana Gambar Bergerak merupakan bagian dari semester pendek dalam program Kelana Akhir Pekan yang digelar pada masa jeda pembelajaran rutin. “Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar intensif bagi remaja untuk mengenal gambar bergerak sebagai salah satu medium dalam praktik seni visual,” ujarnya.

‎Ia menambahkan kegiatan ini turut melibatkan Mardi Al Anhar dari KamartKost.ch. Melalui kolaborasi tersebut, peserta tidak hanya mempelajari teknik dasar pembuatan gambar bergerak, tetapi juga diajak memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk berpikir dan bercerita. “Peserta juga diajak mengamati lingkungan sekitar lalu menyampaikannya kembali melalui cerita visual,” katanya.

‎Fajry menjelaskan, pada penutupan kegiatan para peserta mempresentasikan karya video kolase yang mereka susun selama mengikuti program Kelana Gambar Bergerak. Setiap kelompok menampilkan satu video berdurasi maksimal dua menit sebagai hasil dari proses belajar yang telah mereka jalani.

‎Ia menambahkan, penutupan kegiatan juga diisi dengan pemutaran karya gambar bergerak dari Mardi Al Anhar yang akrab disapa Da Al. “Beberapa karya yang ditampilkan merupakan hasil proses kreatif selama residensi singkat di sekretariat Komunitas Seni Nan Tumpah,” tambahnya.

‎Mardi Al Anhar dari kolektif KamartKost.ch menyebut program ini berangkat dari keseharian remaja yang tidak lepas dari teknologi digital. “Perkembangan zaman membuat teknologi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk remaja,” ujarnya.

‎Menurutnya, kamera menjadi titik awal dalam proyek pembelajaran itu. Melalui kamera, peserta diajak mulai mengamati lingkungan sekitar sebelum kemudian mengolahnya menjadi cerita visual. “Kamera menjadi titik awal dalam proses ini,” katanya.

‎Pendamping kelas Kelana Akhir Pekan, Desvy Sagita R., menilai kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta. Meski begitu, pada awalnya beberapa peserta sempat kesulitan memahami konsep gambar bergerak. “Ketika melihat video yang terbentuk dari puluhan foto, mereka terlihat sangat takjub,” katanya.

‎Menurutnya, pengalaman tersebut membuat peserta mulai memahami proses pembuatan gambar bergerak secara lebih mendalam. Mereka menyadari bahwa rangkaian foto yang disusun dalam waktu lama dapat berubah menjadi video singkat yang memiliki cerita.

‎Salah satu peserta, Nadya Sri Novita, mengatakan kegiatan ini memberinya pengalaman baru dalam membuat video bersama teman-temannya. Ia mengaku paling menikmati proses membuat gambar bergerak secara bersama-sama.

‎Selama mengikuti kegiatan, peserta belajar mengambil gambar, menyusun alur cerita, hingga mengedit video menjadi sebuah karya. “Kami belajar mengambil gambar, menyusun cerita, dan mengedit video hingga menjadi karya yang menarik,” katanya.

‎Fajry Chaniago berharap pemutaran karya ini dapat menjadi ruang pertemuan antara peserta, keluarga, dan masyarakat untuk melihat proses belajar para remaja. Ia juga menegaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Komunitas Seni Nan Tumpah dalam menjaga ruang belajar seni yang berangkat dari pengalaman lokal.

‎“Kami berharap praktik seni dapat terus tumbuh dari lingkungan kampung dan kehidupan sehari-hari,” tutupnya. (Nda)

Wartawan : Fauziah Maharatih Wahyuni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Perkuat Kader dan Budaya Literasi, Robi Hermawan Pimpin Imasolsel Periode 2026

Next Post

Demonstrasi Mosi Tidak Percaya Hantam UIN IB dengan Tujuh Tuntutan

Related Posts