Oleh : Zahra Mustika
(Mahasiswi Jurusan Studi Agama-Agama)
Aku mendengar denting jam kala napas tertahan di kerongkongan
Malam perlahan menipis di engsel jendela
Perlahan sunyi mendekap tanpa suara.
Aku menyaksikan embun memeluk lebih dini
Embun diam menggigil di ujung daun
Dikantonginya ragu sebelum pulang
Belum sempat mentari datang, ia meghilang
Namamu berlari dalam ingatan
Diajaknya hatiku yang retak lagi ditimpa kekeringan
Ku hempas pintu dan menutupnya rapat
Ku selimuti tubuh dengan gelap
Sekelibat angin lewat
Dimainkannya nada tawamu yang bersahutan
Lalu pecah di ruang kosong
Tanpa sempat menjadi utuh.
Tak usah memapah jalan pulang
Langkahmu tak pernah gagal ku kenal
Semoga di pertengahan jalah kau terperangah
Lupa jalan dan tak pernah kembali.