Oleh: Verlandi Putra
(Mahasiswa UIN IB Padang)
“Sebatang lagi,” pintaku lirih ketika jemarimu menyusuri rambutku dengan lembut. Sunyi berdenting perlahan, seolah waktu menahan napasnya. Seekor kutilang di balik jeruji mendadak diam, dan harum melati dari pusara menguar, merayap pelan, lalu lenyap ditelan angin yang tak bersuara.
Tuangkan lagi untukku, segelas sunyi yang lain. Biarkan luka-lukamu menguning seperti senja yang letih, sementara lukaku perlahan menyingsing seperti fajar yang dingin. Gaun putihmu yang dulu bercahaya kini pudar oleh waktu, dan kereta kencana yang pernah menunggu di halaman telah lama raib ditelan kesepian.
Biarkan aku sendiri malam ini. Menghadiri perjamuan bayang-bayang dari negeri jauh, melangkah di jalan sunyi yang berdebu kenangan. Di tengah perang yang riuh memekakkan, masih terngiang jerit tolong dan tangis yang menyusur di sela pohon-pohon karet pada suatu masa yang nyaris dilupakan.
Sebatang lagi… bakarkan untukku. Dekatkan asbak itu, agar abu tak jatuh ke lantai yang dingin.
Camelia… Camelia…
Camelia, kau tak mendengarku lagi?
Aku merangkak bangun dari tidur malam yang panjang, hanya untuk mendapati sunyi yang semakin pekat. Di atas pusaramu, Camelia, asbak tua itu tergeletak rapuh, perlahan keropos dimakan rayap, seperti kenangan yang diam-diam hancur oleh waktu.