Bedah Buku dan Film Arat Sabulungan Bahas Identitas Mentawai

Dokumentasi kegiatan bedah buku dan pemutaran film dokumenter Arat Sabulungan di Hulu Sarereiket. Sumber : Nur Hanifah.

Suarakampus.com– Kegiatan bedah buku dan pemutaran film dokumenter Arat Sabulungan di Hulu Sarereiket menghadirkan berbagai pandangan dari akademisi, aktivis, dan tokoh masyarakat Mentawai. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk membahas kehidupan masyarakat Mentawai, praktik pengobatan tradisional, serta relasi antara agama, budaya, dan kebijakan negara, Sabtu (13/6).

Penulis buku sekaligus pengarah film dokumenter, Dwi Wahyuni menjelaskan, ketertarikannya terhadap budaya Mentawai berawal pada akhir 2022 setelah membaca novel Kayu karya Nirufasa Terlang. “Novel itu membahas pertemuan Islam dan Arat Sabulungan, dan dari situlah ketertarikan saya terhadap Mentawai mulai tumbuh,” jelasnya.

Dwi menambahkan, buku Arat Sabulungan di Hulu Sarereiket ditulis berdasarkan kajian studi Islam yang ia tekuni di UIN Imam Bonjol Padang. “Desa Matotonan di Hulu Sarereiket menarik untuk diteliti karena memperlihatkan pertemuan Islam dan Arat Sabulungan dalam kehidupan masyarakat,” tambahnya.

Kendati demikian, Dwi mengatakan, penelitian lapangan di Mentawai menghadapi tantangan dalam memahami bahasa, interaksi sosial, dan cara pandang masyarakat setempat. “Mentawai punya karakteristik yang unik, sehingga memahami masyarakatnya membutuhkan proses penyesuaian yang cukup panjang,” katanya.

Ia juga memaparkan, buku dan film dokumenter tersebut dibuat untuk menunjukkan pembahasan tentang Sumatera Barat tidak hanya berpusat pada Minangkabau. “Kita juga perlu memberikan ruang yang setara bagi masyarakat Mentawai,” paparnya.

Sementara itu, akademisi Muhammad Taufik menilai film dokumenter tersebut berhasil menggambarkan praktik pengobatan tradisional Sikerei dalam kehidupan masyarakat Mentawai. “Tantangan terbesar bagi peneliti maupun pembuat film adalah memahami makna di balik simbol dan ritual yang dijalankan masyarakat,” ujarnya.

Taufik mengungkapkan, praktik pengobatan tradisional di Mentawai masih dipercaya hingga saat ini. “Masyarakat kini juga mulai mengombinasikannya dengan layanan kesehatan modern,” ungkapnya.

Selain itu, Taufik juga menjelaskan, hubungan negara dengan agama-agama lokal yang masih menghadapi berbagai tantangan. “Sering kali negara menyederhanakan keragaman yang hidup di masyarakat melalui pendekatan administratif yang seragam,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua Forum Mahasiswa Mentawai Sumatera Barat, Markolinus Sagulu mengapresiasi upaya akademisi mengangkat Arat Sabulungan melalui buku dan film dokumenter. “Saya sangat bangga dan bersyukur ada akademisi yang berupaya mengangkat kepercayaan lokal Mentawai melalui karya seperti ini,” ungkapnya.

Markolinus mengatakan, buku tersebut menggambarkan perjalanan panjang masyarakat Mentawai menghadapi berbagai kebijakan negara sejak masa Orde Lama hingga Reformasi. “Buku ini banyak menceritakan perjuangan masyarakat Mentawai dalam menghadapi berbagai perubahan kebijakan,” katanya.

Ia berharap masyarakat Mentawai tetap menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Arat Sabulungan sebagai bagian dari identitas budaya. “Nilai-nilai Arat Sabulungan perlu terus dijaga dan dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman,” pungkasnya. (Fau)

Wartawan: Nur Hanifah (Mg), Siti Nur aisyah ( Mg)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Kata Aulia Rizal, Persma Adalah Ekosistem Pers yang Harus Dilindungi

Related Posts