Suarakampus.com – Di antara 409 wisudawan yang mengikuti Wisuda ke-96 UIN Imam Bonjol Padang, Muhammad Nasir menjadi salah satu sosok yang paling menyita perhatian. Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik Program Doktor Studi Islam setelah menuntaskan studi dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00, Rabu (29/7).
Penghargaan itu menjadi penanda akhir dari perjalanan akademik yang tidak singkat. Selama hampir tiga dekade, UIN Imam Bonjol Padang bukan sekadar tempat Nasir belajar, tetapi ruang yang membentuk cara berpikir, karakter, dan pandangannya tentang pendidikan, masyarakat, serta pengabdian.
Tiga Dekade di Imam Bonjol
Tidak banyak orang yang menghabiskan sebagian besar perjalanan hidupnya di satu kampus. Bagi Nasir, UIN Imam Bonjol Padang telah menjadi bagian dari sejarah hidupnya sejak pertama kali diterima sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab pada 1996.
Jauh sebelum menyandang gelar doktor, perjalanan pendidikannya dimulai dari SD Negeri 01 Salo yang diselesaikan pada 1990. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MTsN Kamang hingga 1993 dan MAN Batu Mandi sampai 1996.
Lingkungan tempat ia tumbuh membentuk fondasi nilai yang terus dibawanya hingga kini. Kejujuran, kerja keras, gotong royong, serta kedekatan dengan adat dan agama menjadi pelajaran pertama yang justru tidak diperoleh dari ruang kelas.
Menurutnya, pendidikan pertama lahir dari kebudayaan tempat seseorang dibesarkan. Pemahaman itu baru benar-benar ia sadari setelah melewati perjalanan pendidikan yang panjang.
Pers Mahasiswa Menjadi Sekolah Kehidupan
Bagi Nasir, ruang kuliah bukan satu-satunya tempat belajar. Organisasi mahasiswa justru menjadi sekolah yang mengajarkannya memimpin, mendengar perbedaan pendapat, hingga menerima kritik.
Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab periode 1998–1999, Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Adab periode 1999–2000, Presidium Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang, hingga Ketua Dewan Legislatif Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang periode 2000-2001.
Di antara berbagai organisasi itu, satu ruang yang paling membekas adalah Lembaga Pers Mahasiswa Suara Kampus.
Sejak awal kuliah hingga menamatkan pendidikan sarjana, ia aktif sebagai jurnalis pers mahasiswa. Di sanalah ia belajar menulis, melakukan peliputan, mewawancarai narasumber, sekaligus melihat dinamika kampus dari sudut pandang yang lebih kritis.
Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa menulis bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menghadirkan perspektif yang berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik.
Di luar kampus, ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Padang. Baginya, dunia perkaderan jauh lebih penting daripada sekadar jabatan organisasi.
Ia menikmati proses diskusi yang panjang, menjadi instruktur, serta membangun tradisi berpikir kritis bagi kader-kader muda.
Menurut Nasir, kualitas organisasi tidak diukur dari besarnya nama, melainkan dari kesungguhan membentuk manusia yang berkualitas.
Belajar dari Masyarakat
Setelah meraih gelar sarjana pada 2002, Nasir memilih terlibat di sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang bekerja sama dengan organisasi internasional.
Di lapangan, ia menyaksikan langsung kehidupan masyarakat. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap ilmu pengetahuan.
Ia menyadari teori yang dipelajari di kampus baru menemukan maknanya ketika bertemu dengan realitas kehidupan.
Masyarakat, menurutnya, bukan objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan sendiri.
Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara pandangnya dalam melihat pendidikan dan penelitian.
Meninggalkan Jalan yang Tidak Tepat
Karier birokrasi sempat menjadi bagian panjang dalam perjalanan hidup Nasir. Sejak 2003 hingga 2017, ia menjalankan berbagai tugas administrasi di lingkungan kampus, termasuk dipercaya sebagai Kepala Humas IAIN Imam Bonjol Padang.
Meski demikian, ia mengakui pekerjaan birokrasi bukan dunia yang paling disukainya.
Ia lebih menikmati mengajar, menulis, berdialog dengan masyarakat, dan melakukan penelitian.
Keinginan melanjutkan pendidikan akhirnya membawanya menempuh Program Magister Pengkajian Islam Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam yang diselesaikan pada 2010.
Di jenjang itu, ia merasa menemukan rumah intelektualnya. Ketertarikannya terhadap sejarah semakin kuat, terutama sejarah yang hidup di tengah masyarakat.
Gelar doktor tidak berjalan lurus.
Pada 2021, ia sempat menempuh Program Doktor Pendidikan Islam. Namun, di tengah perjalanan, ia memutuskan berhenti.
Keputusan itu bukan karena menyerah, melainkan karena merasa bidang tersebut tidak lagi sesuai dengan minat akademiknya.
Ia kemudian memulai kembali dari awal pada Program Doktor Studi Islam pada 2023.
Keputusan itu diringkas dalam satu kalimat yang selalu dipegangnya.
“Lebih baik terlambat sampai daripada cepat berada di tempat yang bukan tujuan saya,” Kata Nasir.
Bagi Nasir, memulai dari awal bukan kegagalan. Justru itulah cara memastikan langkah yang ditempuh tetap menuju arah yang diyakini.
Kembali kepada Masyarakat
Disertasinya mengkaji Tuanku dalam ingatan kolektif masyarakat Pariaman. Penelitian itu bukan hanya menjadi syarat akademik memperoleh gelar doktor.
Lebih dari itu, penelitian tersebut membawanya kembali memahami hubungan antara sejarah, identitas, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.
Baginya, kampus memperoleh makna bukan karena bangunannya, melainkan karena pengalaman hidup yang tumbuh di dalamnya.
Ia meyakini pendidikan tidak berhenti pada capaian akademik.
Gelar, menurutnya, hanyalah pengakuan atas kemampuan intelektual. Nilai sesungguhnya terlihat ketika ilmu pengetahuan kembali kepada masyarakat melalui karya, keteladanan, dan manfaat yang dirasakan banyak orang.
Keyakinan itulah yang terus dipegang hingga akhirnya dinobatkan sebagai lulusan terbaik Program Doktor Studi Islam dengan IPK sempurna 4,00.
Namun bagi Nasir, pencapaian terbesar bukanlah angka di lembar transkrip.
Pencapaian sesungguhnya adalah tetap menjadi manusia yang rendah hati untuk terus belajar, cukup berani berpikir kritis, serta tidak pernah menjauh dari masyarakat yang menjadi tujuan akhir setiap ilmu pengetahuan. (raf)
Wartawan : Zahra Mustika