Harapan UIN IB di Bawah Kepemimpinan Rektor Baru

Gedung Rektorat UIN Imam Bonjol Padang (Foto: Kartika Hasanah/suarakampus.com)

Suarakampus.com-Menteri Agama resmi menetapkan Martin Kustati sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang periode 2021-2025. Ditetapkannya Guru Besar bidang TESL (Teaching English as Second Language) tersebut menjadikan Martin sebagai Rektor perempuan pertama sepanjang sejarah UIN IB, dan menggantikan Eka Putra Wirman sebagai Rektor periode 2015-2021.

Sebelumnya Panitia Penjaringan Bakal Calon Rektor UIN IB menetapkan dua kandidat calon rektor, yakni Eka Putra Wirman sebagai incumbent dan Martin Kustati yang merupakan Direktur Pascasarjana UIN IB. Proses penjaringan tersebut dilakukan sejak April lalu.

Ketua Senat UIN IB, Asasriwarni, membenarkan kabar terpilihnya Martin Kustati. “Beliau sudah dilantik oleh Pak Menteri pagi tadi di Jakarta,” kata Asas kepada suarakampus.com, Rabu (28/07).

Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 68 Tahun 2015, kewenangan pengangkatan rektor di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) berada di bawah kewenangan Menteri Agama. Sementara Senat Universitas hanya berwenang untuk memberikan penilaian kualitatif meliputi aspek moralitas, kepemimpinan, manejerial, kompetensi akademik dan jaringan kerja sama (Pasal 5).

Rektor Perempuan Pertama

Martin Kustati merupakan Guru Besar bidang TSEL sekaligus Direktur Pascasarjana UIN IB. Martin lahir dan dibesarkan di Manna, Bengkulu Selatan, 18 Agustus 1973.

Selepas menamatkan sekolah menengah atas, Martin melanjutkan pendidikan tinggi di Akademi Bahasa Asing (ABA) Budhidharma Haji Agus Salim pada 1992, lalu ke FKIP UT UPBJJ Padang tahun 1998. Kemudian melanjutkan studi magister di Pascasarjana IKIP Padang pada 2003.

Dosen yang akrab disapa Mom oleh mahasiswanya tersebut mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada jurusan Tadris Bahasa Inggris sejak 2003. Pada 2011, Martin menamatkan studi doktoral di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dengan konsentrasi Pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua atau TESL.

Ditetapkannya Martin sebagai rektor UIN IB oleh Menteri Agama menjadikan dirinya sebagai rektor perempuan pertama di kampus yang berpusat di Lubuk Lintah itu.

Sampai berita ini dimuat, Martin Kustati belum memberikan tanggapan atas terpilihnya ia sebagai rektor UIN IB. Pesan suarakampus.com melalui WhatsApp masih menunjukan tanda belum dibaca.

Tidak Diprediksi

Terpilihnya Martin Kustati sebagai rektor memberikan kejutan bagi civitas akademik UIN IB. Pasalnya, ia tidak diunggulkan dibanding Eka Putra Wirman yang merupakan kandidat petahana.

Secara rekam jejak dan aspek kualitatif, Eka Putra Wirman lebih diunggulkan untuk kembali menjabat sebagai rektor, kata Daniel Oscardo, Mahasiswa Hukum Tata Negara Fakultas Syariah. Hal itu terlihat dari kinerja Eka dalam masa transisi IAIN menjadi UIN sejak 2015 silam.

Menurut Daniel, dengan adanya Peraturan Menteri Agama Nomor 68 Tahun 2015 sebagai perangkat hukum pengangkatan rektor di PTKI, membuat proses penetapan rektor tidak terbuka.

Kewenangan mutlak yang dimiliki Menag, sebagaimana diatur Pasal 8 PMA tersebut, membuat Menag memiliki kuasa penuh tanpa adanya kualifikasi yang pasti atas dasar apa seseorang pantas menduduki jabatan rektor.

“Penetapan dan pengangkatan Rektor dilakukan oleh Menteri,” demikian bunyi Pasal 8 PMA No 68/2015.

Terbatasnya kewenangan Senat Universitas hanya di penilaian kualitatif rentan bertolak belakang dengan kehendak Menag saat memutuskan seseorang sebagai rektor. “Secara prinsip transparansi di level kementerian ini yang sulit kita diketahui publik,” katanya.

Kendati demikian, ia optimis Martin Kustati bisa memberi angin segar bagi masa depan UIN IB ke depannya. Latar belakang Martin dengan konsentrasi keilmuan umum, menurut Daniel, akan memudahkan UIN IB untuk bertransformasi menjadi kampus yang bisa mengembangkan keilmuan di bidang umum.

“Saat ini sudah merupakan keharusan bagi sebuah kampus, baik kampus Islam ataupun umum untuk mengikuti perkembangan yang ada,” katanya.

“Semoga dengan terpilihnya Buk Martin, UIN IB mampu meningkatkan kualitas akademik dan mahasiswanya,” harap Daniel.

Secara akademik, saat ini Martin Kustati merupakan akademisi UIN IB yang memiliki skor tertinggi di laman Sinta Indonesia. Ia bertengger di posisi puncak dalam hal publikasi ilmiah di lingkup UIN IB dengan total skor 912.5.

Dikutip dari laman resmi Sinta Indonesia, di tingkat nasional, Martin Kustati berada di peringkat 8.156. Sejauh ini ia telah mempublikasi 14 karya ilmiah terindeks scopus, dan 116 publikasi ilmiah di jurnal terindeks Sinta 1 hingga 5. (Red)

Wartawan: Nandito Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Martin Kustati Terpilih Jadi Rektor UIN IB Periode 2021-2025

Next Post

Basa-basi Negara terhadap Kekerasan Aparat di Papua

Related Posts