Oleh: Yulrizal Mantan KDR Racana Imam Bonjol 2022)
Mangkrak, istilah ini lazim ditemukan dalam pembangunan Sumatera Barat, mulai dari gedung bertulang yang tak kunjung rampung, hingga proyek jalan yang hanya jadi kenangan papan nama. Namun kini, istilah tersebut merambat ke ranah lain: organisasi kemahasiswaan, yang seharusnya menjadi pusat dinamika dan ruang tumbuh bagi generasi muda kampus.
Salah satu contoh paling ketara adalah UKM Gerakan Pramuka UIN Imam Bonjol Padang, khususnya Dewan Racana Imam Bonjol–Rohana Kudus. Setelah pelantikan kepengurusan pada awal tahun 2025 hingga pertengahan tahun, baru satu program yang berhasil dijalankan: acara Berlaci buka puasa bersama dalam nuansa kebersamaan pramuka. Setelah itu, yang tersisa hanya aktivitas seremonial dan minim pengaruh terhadap penguatan organisasi, baik ke dalam maupun keluar. Namun, kemangkrakan ini ternyata bukan sekadar soal manajemen internal. Ada faktor eksternal yang turut menyumbang lesunya roda organisasi: pemindahan sekretariat UKM Pramuka ke Kampus III Sungai Bangek.
Jarak tempuh dari kampus utama ke lokasi baru ini sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. Situasi ini jelas menyulitkan koordinasi antar anggota, yang sebagian besar memiliki aktivitas utama di kampus I atau II. Tidak hanya soal jarak, kondisi sekretariat yang minim fasilitas pun menjadi penghalang berkembangnya kreativitas anggota dalam merancang dan melaksanakan program pembinaan karakter.
Dengan kondisi tersebut, Pramuka bukan sekadar lambang tunas kelapa atau barisan upacara. Ia adalah gerakan pendidikan yang mengandalkan keteladanan, kreativitas, dan keterlibatan langsung. Tri Satya dan Dasa Dharma bukan hanya dokumen pelantikan tetapi semestinya menjadi kompas etis dan moral dalam berorganisasi.
Pengurus Dewan Racana UIN IB Padang kembali diingatkan, untuk merefleksikan secara mendalam mandat kepemimpinan yang telah mereka emban. Seruan ini sebagai bentuk evaluasi internal terhadap konsistensi dan loyalitas dalam menjalankan roda gerakan Pramuka di lingkungan kampus. Konsistensi dalam mengemban amanah dipandang sebagai bentuk konkret loyalitas terhadap nilai-nilai dasar gerakan Pramuka. Dalam konteks tersebut, sejumlah pihak mendorong adanya terobosan, inovasi, dan keberanian dari pengurus Racana untuk menjadikan gerakan Pramuka sebagai kekuatan kultural dan intelektual yang mampu menjawab tantangan zaman. Di sisi lain, kebijakan institusi kampus terkait pemusatan UKM di kawasan terpencil seperti Sungai Bangek turut menjadi sorotan.
Minimnya dukungan infrastruktur dan aksesibilitas dinilai berpotensi mematikan semangat dan ruh organisasi kemahasiswaan yang seharusnya menjadi nadi kehidupan akademik di perguruan tinggi. Pengurus dan anggota Racana diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dan menghidupkan kembali semangat gerakan melalui kolaborasi strategis, baik secara internal maupun eksternal. Organisasi tak boleh sekadar “ada”, tetapi harus “hidup”. Jangan biarkan Pramuka menjadi proyek pembangunan yang hanya selesai di tahap peletakan batu pertama. Karena yang mangkrak bukan hanya struktur bangunan, tapi juga semangat dan idealisme.