Suarakampus.com– Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia rilis hasil riset terkait serangan digital yang dialami jurnalis dan media sepanjang 2023. Temuan ini disampaikan dalam gelar wicara bertema strategi aman bagi jurnalis perempuan di ruang digital yang berlangsung di Makassar dan ditayangkan melalui YouTube AJI Indonesia, Jumat (12/9).
Ketua Bidang Internet AJI Indonesia, Adi Marsela, menjelaskan riset keamanan digital diluncurkan pada Agustus lalu dengan melibatkan 116 perusahaan media. “Riset ini dilakukan AJI untuk memotret kondisi keamanan digital media di Indonesia,” katanya.
Adi menuturkan, serangan digital yang terjadi tahun lalu tidak hanya menimpa Konde.co, tetapi juga sejumlah media lain. “Serangan yang paling sering adalah Distributed Denial of Service atau DDoS,” ungkapnya.
Menurut Adi, serangan DDoS membuat sistem media lumpuh karena server dibanjiri traffic palsu. “Akibatnya, redaksi tidak bisa mengunggah konten dan publik gagal mengakses berita,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak serangan digital menghambat proses produksi hingga distribusi informasi. “Dampak besarnya, publik tidak bisa mendapatkan informasi dari media,” ujarnya.
Adi mengungkapkan, upaya penanganan serangan digital membutuhkan biaya besar. “Untuk mengatasi masalah DDoS ujung-ujungnya tetap soal duit,” tegasnya.
Berdasarkan catatan AJI, sepanjang 2023 terdapat 89 kasus serangan terhadap jurnalis dan media. “Sebanyak 16 kasus di antaranya berbentuk serangan digital,” kata Adi.
Adi menekankan, bentuk serangan digital bukan hanya phishing, tetapi juga stalking. “Stalking yang ditindaklanjuti dengan aktivitas kekerasan digital termasuk bagian dari ancaman serius,” pungkasnya. (ryn)
Wartawan: Najwalin Syofura