Suarakampus.com– Prosesi wisuda di aula kampus diwarnai antrean dan desak-desakan orang tua wisudawan di pintu masuk gedung pada Sabtu (18/4). Anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) menyebut situasi itu terjadi karena sebagian orang tua memaksa masuk meski jadwal kedatangan telah diatur sebelumnya.
Anggota Menwa, Rizki Aldi Lubis mengungkapkan, kendala utama dalam prosesi wisuda berasal dari orang tua yang saling berdesakan di pintu masuk ruangan. “Kendala yang kami hadapi hanya orang tua mahasiswa yang mendesak masuk,” ungkapnya.
Rizki menjelaskan, jadwal kedatangan sebenarnya telah diatur saat geladi wisuda, namun tidak tersampaikan dengan baik kepada orang tua. “Namun banyak wisudawan tidak memberi pemahaman kepada orang tuanya,” jelasnya.
Menurutnya, kekhawatiran orang tua muncul karena takut kehabisan tempat duduk di dalam aula meski kapasitas telah disiapkan. “Padahal semuanya sudah disediakan oleh panitia,” ujarnya.
Rizki menuturkan, sebanyak 20 personel Menwa terus berkoordinasi dengan pihak protokoler untuk memastikan kelancaran setiap sesi wisuda. “Agar sesi wisuda berjalan dengan lancar,” tuturnya.
Anggota Menwa itu menambahkan, situasi serupa bahkan pernah terjadi pada wisuda tahun sebelumnya dengan tingkat emosi yang lebih tinggi. “Bahkan ada juga orang tua yang sampai mau memukul kami,” tambahnya.
Salah satu orang tua wisudawan, Suardi mengaku, melihat kerumunan di depan pintu aula meski tidak ikut berada di dalamnya. “Saya tidak ikut tergabung, saya duduk saja di sini,” ujarnya.
Orang tua lainnya, Petniwati, menilai pembatasan yang dilakukan petugas sudah sesuai prosedur meski masih ada keluhan. “Walaupun demikian, masih ada keluhan dari orang tua yang tertahan di luar,” katanya.
Petniwati berharap kondusivitas dan ketertiban wisudawan dapat ditingkatkan pada masa mendatang. “Saya berharap orang tua juga diberi pengertian tentang jam kedatangan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Salah satu petugas Protokoler, Sayyid Muhammad Anshor mengungkapkan, permasalahan utama terjadi karena jumlah orang tua yang hadir melebihi kuota undangan. “Seharusnya hanya dua orang yang masuk, tetapi di lapangan masih ada yang datang lebih dari itu,” ungkapnya.
Selaku tim lapangan, Sayyid menjelaskan, aturan ketat terkait aula juga diterapkan. “Saat rektor memasuki aula, tidak diperkenankan lagi adanya mobilitas keluar-masuk,” jelasnya.
Dalam menghadapi situasi tersebut, ia berharap ke depan para wisudawan dapat lebih aktif menyampaikan informasi kepada orang tua. “Supaya wisuda berjalan lebih tertib,” pungkasnya. (Raf)
Wartawan: Ergina Kholifah Aljannah (Mg)