Oleh: Ririn Dayanti Harahap (Mahasiswi UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe)
Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Tematik Kebencanaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasyiah (SUNA) Lhokseumawe melaksanakan survei *Mental Health Inventory-18* (MHI-18) di Desa Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu (14/2). Hasil survei menunjukkan tingkat trauma tinggi masyarakat pascabencana mencapai 61,29 persen yang membutuhkan rujukan langsung ke psikolog.
Mahasiswa KPM menjelaskan, penggunaan MHI-18 sebagai alat ukur psikologi mampu memberikan data akurat mengenai tingkat stres masyarakat di wilayah bencana. “Terdapat 18 pertanyaan seputar trauma masyarakat yang telah disesuaikan dengan situasi pascabencana di wilayah Uning Mas,” ujarnya.
Para mahasiswa berhasil mengumpulkan 31 responden dengan rentang usia 5 tahun hingga di atas 50 tahun. “Responden terdiri dari 16 wanita dan 15 pria,” jelasnya.
Hasil survei MHI-18 menunjukkan tiga kategori dengan warna merah (rujukan psikolog) sebesar 61,29 persen, warna kuning (pendampingan) sebesar 32,26 persen, dan warna hijau (aman) sebesar 6,45 persen. “Persentase 61,29 persen menunjukkan bahwa hingga hari ke-79 pascabencana, trauma masih dirasakan para penyintas,” ungkapnya.
Setelah mengantongi data, mahasiswa merealisasikan program ruang aman bercerita hingga 2 Maret 2026 untuk mendengar keluh kesah para penyintas. “Melalui ruang aman bercerita, diketahui para penyintas masih merasa takut mendengar suara hujan,” paparnya.
Ketua KPM 02 Desa Uning Mas, Ainan Naim, menjelaskan program MHI-18 belum maksimal karena keterbatasan finansial dalam mengundang ahli psikologi. “Dengan keterbatasan finansial, kami berinisiatif mendengarkan cerita masyarakat untuk meringankan beban psikis,” ujarnya.
Ainan Naim menambahkan, data yang terkumpul akan disampaikan kepada relawan yang datang ke wilayah tersebut. “Harapannya, relawan dapat membantu sesuai kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Humas kegiatan KPM setempat, Ririn Dayanti Harahap, menegaskan setiap program yang dilaksanakan mengarah pada recovery psikis masyarakat Uning Mas. “Kami memiliki keterbatasan finansial untuk mengundang psikolog yang mampu memberikan pendampingan tepat,” tutupnya.