Aulia Soroti Kesenjangan Nilai Agama dan Gaya Hidup Kapitalis di Kalangan Pemuda

Peserta diskusi “Saatnya Move On dan Menjadi Pemuda Bertakwa” di Gedung Syariah UIN Imam Bonjol Padang, Jumat (21/11). Foto: Haida Putri Lubis/Suarakampus.com.

Suarakampus.com– Diskusi “Saatnya Move On dan Menjadi Pemuda Bertakwa” di Gedung Syariah membahas kegelisahan mahasiswa terkait jauhnya generasi muda dari nilai agama. Kegiatan ini menegaskan anggapan bahwa agama kini sering dipandang sebatas identitas sosial belaka, Jumat (21/11).

Aulia Kurnia Ilahi sebagai pemateri, menilai maraknya healing bukan sekadar tren, melainkan bentuk pelarian dari problem internal. “Banyak yang Muslim, tapi pola pikirnya mengikuti kapitalisme, bukan nilai Islam,” ujarnya.

Pemateri itu menyoroti derasnya pengaruh kapitalisme yang membuat mahasiswa memprioritaskan materi. “Agama dianggap penting, tapi hanya sebatas label di KTP,” ungkap salah satu peserta.

Aulia menyebut persoalan kampus seperti stres akademik muncul karena agama tidak dijadikan rujukan moral dalam keseharian. “Ibadah tetap dilakukan, tetapi ketika menghadapi masalah akademik atau relasi sosial, standar yang dipakai tetap materi,” tambahnya.

Narasumber tersebut memandang paradigma sekuler-kapitalis turut memisahkan agama dari ruang publik. “Boleh kita pakai agama, tapi agama itu dianggap hanya di ranah individu,” jelas Aulia.

Aulia menilai cara pandang yang materialistik telah melahirkan tekanan mental dan karakter hiper-individualis. “Aku ini tidak punya prestasi; merasa merendahkan diri,” tuturnya menggambarkan kondisi itu.

Pemateri tersebut menawarkan solusi dengan menghidupkan kembali nilai Islam sebagai pedoman hidup menyeluruh. “Generasi muda butuh arah; identitas saja tidak cukup, nilai agama harus benar-benar dihidupkan,” tegas Aulia.

Aulia menegaskan, pentingnya fondasi ketakwaan sebelum mengejar pencapaian duniawi. “Pemuda dalam Islam itu sebelum berprestasi, dipastikan dulu pribadinya adalah pribadi bertakwa,” tutupnya. (ver)

Wartawan: Haida Putri Lubis (Mg), Putri Wahyuni (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

UIN IB Padang Raih Predikat Platinum UI GreenMetric

Next Post

Pelajaran dari Ruang yang Retak

Related Posts