Brimob Fokus Evakuasi dan Pembersihan Pasca bencana di Lubuk Minturun

Dankorbrimob Irjen Pol. Ramadani Hidayat (sumber: Ummi Nadia/Suarakampus.com)

Suarakampus.com– Sebanyak 171 personel Satuan Brimob Polda Sumbar dikerahkan ke wilayah Lubuk Minturun pascaterjadinya banjir dan longsor di Kota Padang. Komandan Korps Brimob (Dankorbrimob), Irjel. Pol. Ramadani Hidayat, mengatakan bahwa posko utama operasi penanganan bencana dipusatkan di Luminpark (30/11).

Ramadani menyampaikan, personelnya segera melakukan evakuasi terhadap warga yang masih berada di lokasi rawan. “Personel langsung turun mengevakuasi warga yang masih berada di lokasi rawan,” katanya.

Penelusuran Suarakampus.com dari Kompas.com menyebutkan, empat warga meninggal dunia akibat terseret arus banjir. Data tersebut diperoleh dari pemberitaan nasional dan bukan bersumber dari Brimob.

Ramadani menuturkan, sejak Jumat, operasi beralih ke tahap pembersihan pascabencana karena cuaca cerah dan banjir telah surut.

Ia menyebut, sejak Jumat personel fokus membersihkan lumpur, batu, dan material lain yang menutup akses masyarakat. “Berhubung cuaca cerah dan banjir telah surut,”ujarnya.

Ia menambahkan, pembersihan gelondongan kayu di aliran sungai akan dilakukan bersama unsur gabungan menggunakan alat berat setelah seluruh warga dinyatakan aman. “Ini penting untuk mencegah banjir susulan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, banjir yang terjadi sempat mencapai ketinggian signifikan namun tidak berlangsung lama karena tidak bertemu dengan air pasang. “Jika air banjir beradu dengan pasang, kota Padang bisa tenggelam.” tegasnya.

Dalam operasi lapangan, Brimob mengerahkan perahu karet, mobil SAR, serta peralatan manual seperti sekop, cangkul, pemecah batu, dan pemotong kawat. Peralatan tersebut digunakan untuk membuka jalur warga dan mempercepat proses pemulihan

Ramadani menyampaikan, bahwa mobil dapur umum Brimob ditempatkan di Malalo karena wilayah tersebut dinilai paling membutuhkan suplai makanan. “Dapur umum mampu menghasilkan 800 sampai 1.000 bungkus makanan per hari,” ungkapannya.

Pendistribusian bantuan dilakukan berdasarkan kebutuhan warga di lapangan, bukan hanya tingkat kerusakan bangunan. Beberapa rumah yang tampak rusak masih dapat dihuni sehingga tidak menjadi prioritas utama seperti wilayah yang dampaknya lebih berat.

Selain itu, Brimob mengoperasikan dua truk water treatment untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. “Tenda pengungsian tetap dibuka meski banyak warga sudah pulang,” katanya.

Para warga yang membutuhkan perawatan medis dirujuk ke RS Bhayangkara yang memiliki fasilitas penanganan darurat. “Respons cepat tersebut penting dalam mengurangi risiko pascabencana,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa bencana ini memperlihatkan bagaimana berbagai pemangku kepentingan dapat bekerja bersama dalam satu operasi kemanusiaan. “Semua pihak bersatu karena situasi darurat,” tuturnya.

Sebagai penutup, Ramadani mengingatkan pentingnya peningkatan mitigasi bencana, terutama di daerah aliran sungai. “DAS tidak seharusnya dijadikan permukiman karena melanggar amdal, namun peringatan itu tetap sering diabaikan masyarakat.” tutupnya. (Red)

Wartawan: Aisyah Nurlaili Arinda (Mg), Nabila Azriani (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Pendapatan UMKM di Pantai Gajah menurun Pasca Banjir Bandang, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

Next Post

Penggalangan Dana KSI Ulul Albab Capai Rp3,8 Juta dalam Satu Hari

Related Posts