Hari Putih

(Sumber: Tsamara/suarakampus.com)

Oleh: Noel

(Mahasiswa UIN Imam Bonjol)

Aku pikir, aku putus asa.
Mana bundaran
di jalan depan?

Rambu itu terus menggiring,
menuju persimpangan antah-berantah,
menuntun kepada entah yang tak mudah.

Kau menyala merah,
namun senyummu tak kunjung rekah.
Sinar terang lampu hijaumu
kan selalu kutunggu.

Jurang di kanan-kiri menyeret harap.
Dalam tiga puluh enam purnama,
pada hari-putih putih

Di dasarnya, kuharap,
waktu bersedia menyetubuhiku
dengan ritme tertentu,
walau sejenak.

Wahai lirik-lirik lagu,
peluklah aku!
Peluklah aku!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Arus Perasaan

Next Post

HMP PMI UIN Salurkan 25 Karung Beras untuk Korban Banjir Mentawai

Related Posts

Pengembaraan Jiwa

Di ufuk senja langkah terhentiMenyusuri jejak waktu yang tak terperiSetiap detik kisah terukirDalam relung hati harapan bergetar Di…
Selengkapnya