Oleh: Noel
(Mahasiswa UIN Imam Bonjol)
Aku pikir, aku putus asa.
Mana bundaran
di jalan depan?
Rambu itu terus menggiring,
menuju persimpangan antah-berantah,
menuntun kepada entah yang tak mudah.
Kau menyala merah,
namun senyummu tak kunjung rekah.
Sinar terang lampu hijaumu
kan selalu kutunggu.
Jurang di kanan-kiri menyeret harap.
Dalam tiga puluh enam purnama,
pada hari-putih putih
Di dasarnya, kuharap,
waktu bersedia menyetubuhiku
dengan ritme tertentu,
walau sejenak.
Wahai lirik-lirik lagu,
peluklah aku!
Peluklah aku!!