Jundi Sarjana SAA Tembus Barisan Lulusan Terbaik

Sumber : Dokumentasi Pribadi Narasumber


Suarakampus.com – Menjadi pengemudi ojek, mekanik sepeda motor, hingga agen jual beli motor pernah dijalani Muhammad Jundi Al Fahmi untuk memenuhi kebutuhan selama kuliah. Perjuangan itu mengantarkannya meraih predikat Lulusan Terbaik Program Studi Studi Agama-Agama pada Wisuda ke-96 Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol hari kedua, Kamis (30/7).

Jundi mengaku tidak menyangka namanya diumumkan sebagai lulusan terbaik. Selama menjalani perkuliahan, ia tidak pernah menjadikan nilai sempurna sebagai tujuan utama.

“Saya cukup terkejut karena tidak pernah merasa menjadi mahasiswa yang paling menonjol. Saya juga tidak pernah mengejar nilai sempurna. Jadi, saat mengetahui menjadi lulusan terbaik, tentu saya sangat bersyukur,” ujarnya.

Menurut Jundi, predikat tersebut merupakan apresiasi atas proses yang telah dijalaninya selama kuliah sekaligus tanggung jawab untuk memanfaatkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki bagi masyarakat.

“Bagi saya, kuliah bukan tempat mencari validasi. Yang lebih penting adalah memahami ilmu, membangun relasi, lalu membawa manfaat dari apa yang dipelajari,” katanya.

Memilih Bertumbuh daripada Mengejar Nilai

Jundi berasal dari keluarga sederhana yang harus menghadapi berbagai tantangan ekonomi selama dirinya menempuh pendidikan. Meski demikian, ia tetap bersyukur dapat melewati setiap proses bersama dukungan keluarganya.

Pada awal kuliah, ia tidak memiliki target khusus. Namun, seiring waktu ia menyadari tujuan utama menempuh pendidikan bukan sekadar memperoleh nilai tinggi, melainkan memperluas pemahaman dan membangun relasi.

Prinsip itu juga diterapkannya dalam proses belajar. Ia selalu berusaha aktif berdiskusi dengan dosen, berani bertanya, serta menyampaikan pendapat ketika mengikuti perkuliahan.

Menurutnya, keberanian berdialog di ruang kelas menjadi salah satu cara terbaik untuk memperdalam pemahaman terhadap materi yang dipelajari.

Bekerja untuk Bertahan Kuliah

Tantangan terbesar yang dihadapi Jundi berasal dari kondisi ekonomi keluarga. Kebutuhan sehari-hari, mulai dari biaya mencetak tugas, uang makan, hingga keperluan kuliah lainnya, tidak selalu dapat dipenuhi dari kiriman orang tua.

Agar tetap bisa melanjutkan pendidikan, ia menjalani berbagai pekerjaan sampingan, mulai dari pengemudi ojek, mekanik sepeda motor, hingga agen jual beli sepeda motor.

“Pernah ada masa ketika kebutuhan kuliah tidak bisa sepenuhnya dipenuhi dari kiriman orang tua. Karena itu saya bekerja menjadi pengemudi ojek, mekanik sepeda motor, sampai agen jual beli motor. Yang penting kuliah tetap jalan,” ungkapnya.

Baginya, pekerjaan tersebut bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga mengajarkan arti tanggung jawab dan kerja keras. Pengalaman itu justru menjadi penyemangat untuk menyelesaikan pendidikan.

Di sisi lain, Jundi mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam bidang akademik maupun kehidupan pribadi karena memilih menikmati setiap proses yang dijalani.

Belajar dari Organisasi dan Keberagaman

Selain mengikuti perkuliahan, Jundi aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), UKM olahraga, serta organisasi di luar kampus yang berkaitan dengan bidang Studi Agama-Agama.

Menurutnya, organisasi menjadi ruang untuk melihat secara langsung bagaimana teori yang dipelajari di kelas diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Pengalaman yang paling berkesan selama menjadi mahasiswa adalah mengikuti praktik kunjungan ke berbagai rumah ibadah di Kota Padang. Melalui kegiatan tersebut, ia belajar memahami keberagaman agama secara langsung melalui dialog dan interaksi dengan berbagai pemeluk agama.

“Dari pengalaman itu saya belajar bahwa perbedaan bukan untuk menjadi sekat. Justru ketika kita mau berdialog dan saling mengenal, kita bisa memahami banyak hal yang sebelumnya tidak kita ketahui,” tuturnya.

Studi Lanjutan

Dalam membagi waktu, Jundi menilai sistem perkuliahan di Program Studi Studi Agama-Agama memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri di luar kampus selama tetap bertanggung jawab terhadap kewajiban akademik.

Ia menyebut sang ibu sebagai sosok yang paling berperan dalam perjalanan studinya. Nasihat untuk selalu berprasangka baik terhadap setiap keadaan menjadi pegangan yang terus menguatkannya selama kuliah.

Setelah menyelesaikan studi, Jundi berencana bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan biaya sebagai bekal melanjutkan pendidikan. Ia berharap suatu saat dapat memperoleh beasiswa dan melanjutkan studi ke luar negeri.

“Setelah ini saya akan mengumpulkan uang. Kalau ada rezeki, saya ingin mendapatkan beasiswa dan melanjutkan studi ke luar negeri,” tutupnya. (Fau)

Wartawan : Randhi Vahrozi Hutabarat (Mg).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Puncak Mimpi Perkuliahan Anggun Lulusan Terbaik TBI

Next Post

Ahmad Zulfa Syarif Akhiri S1 Sebagai Lulusan Terbaik

Related Posts