Kajian Rutin BMI, Bahas Iman dan Ketaatan Sebagai Perisai Kehidupan 

Kajian rutin komunitas BMI. (Sumber: Ist)

Suarakampus.com- Melihat kondisi saat ini, terbilang sulit untuk mendapatkan lingkungan yang benar-benar baik. Akibat pengaruh buruk yang datang dari mana saja, bahkan walau berada di dalam rumah sekalipun, Sabtu (09/12).

Selaku pemateri dalam kajian Komunitas Back to Muslim Identity (BMI) Desri Lesni menyampaikan bahwa hal mungkar itu tidak hanya datang dari orang lain, bahkan dapat terpengaruh dari diri  sendiri. “Mengunci diri di dalam kamar pun belum tentu akan menyelamatkan kita dari kemungkaran,” katanya. 

Lanjutnya, ia mengatakan cara agar bisa keluar dari hal yang tidak baik itu ialah tetap antisipasi untuk tidak ikut terseret dalam kemungkaran, dengan membentengi diri bersama keimanan. “Kita harus mempunyai tameng dalam hidup dan pelindung yaitu Allah SWT,” ujarnya.

Ia menyatakan, agar bisa dekat di sisi Allah seseorang tentunya harus mempunyai ilmu, karena dengan adanya ilmu dia dapat merasakan betapa dekatnya Allah dengannya. “Bersyukurlah jika masih ada yang memberikan pengajaran, informasi yang didapatkan dalam kajian, mengajak pada hal yang baik,” tambahnya.

Kemudian, ia juga mengungkapkan bahwa kebaikan akan sulit diterima dan perlu dipaksa untuk mendengarkannya. “Hal yang ma’ruf  tidak datang begitu saja melainkan Allah telah memilih hamba-Nya, dengan adanya jalan tersebut seorang manusia harus berusaha untuk mengambil kesempatan tersebut,” ucapnya.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa manusia ini mudah di bolak-balikkan hatinya, sehingga butuh dakwah yang selalu meyakinkan dia tentang betapa pentingnya amar ma’ruf nahi munkar.  “Bahkan di dalam hadits nabi dakwah ini diibaratkan dengan perumpamaan diatas kapal,” sebutnya.

Ia melanjutkan, dikutip dari perkataan An Nu’man bin Baysir, Nabi SAW bersabda, “Kemungkaran bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah perahu. Nantinya, sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah perahu tersebut. Yang berada di bagian bawah ketika ingin mengambil air, tentu dia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andai kata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.”Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.’(HR Imam Bukhari no. 2493).

Untuk menjaga diri dari segala keburukan yang mungkin akan terjadi, Desri Lesni mengatakan bahwa setiap umat harus saling mengingatkan dalam kebenaran. “Dakwah ini bukan lagi perkara kewajiban ataupun pilihan, melainkan dia adalah suatu kebutuhan untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar,” tutupnya.  (una)

Wartawan: Ulya Rahma Yanti (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

2891 MDPL

Next Post

Bahas Pancasila Dan Konstitusi di Indonesia, FS Gelar Studium General

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty