Kekerasan Seksual dan Minimnya Ruang Aman dalam Keluarga

Suarakampus.com- Kasus kekerasan seksual mempunyai catatan buruk tersendiri khususnya di negara Indonesia. Setiap tahun ada saja kasus kekerasan seksual dengan berbagi macam korban mulai dari tingkat anak-anak hingga dewasa.

Misalkan, kasus kekerasan seksual yang terjadi di Pekanbaru dengan korban dibawah umur dan pelaku yang merupakan tetangga di kampung halaman sang ibu korban. Kasus yang tergolong pelecehan seksual  terungkap pada malam tahun baru 2021 setelah korban yang berinisial T melaporkan kejadian yang dialaminya kepada sang ayah.

Pelaku berinisial R sudah lama tinggal bersama kelurga korban selama tiga tahun, semenjak korban masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), korban mengaku bahwa dirinya telah dipegang dan diraba oleh pelaku, sehingga korban lebih dulu mengadu kepada sang ibu namun sang ibu tidak percaya.

Adik dari pihak ayah korban berinisial N selaku tante dari korban (42) mengatakan bahwasanya korban bercerita kalau ia mengalami pelecehan yang sangat tidak wajar. “Tidak hanya di raba dan dipegang tetapi korban juga mengatakan bahwa pelaku sempat memegang bagian luar vital korban dan memasuki jarinya ke alat vital, hingga alat vital korban terluka,” ujarnya, Minggu (16/10).

Ia juga mengungkapkan bahwa sang ibu yang sering memukul anaknya di rumah, yang membuat korban takut untuk bercerita kepada sang ibu. “Salah satu alasan korban tidak mau buka suara selama tiga tahun ini karena dia takut ibunya akan marah padanya. Sebab dia lebih tahu sang ibu lebih sayang kepada pelaku dari pada dirinya,” ungkapnya

Ketika mendengar pengakuan dari korban sang ayahnya merasa sangat marah, sehingga pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kasus tersebut. “Namun saat itu tidak ada polisi yang bertugas karena malam tahun baru. Sehingga keesokan paginya keluarga melaporkan ke ketua RT dan menggerebek rumah korban. Dan pelaku akhirnya mengakui perbuatannya hanya satu kali sedangkan korban mengaku sudah lima kali,” pungkasnya

Menurutnya semenjak kejadian yang di alami keponakannya, korban mengalami perubahan sikap hingga mental. Sehingga akhirnya keluarga membawa korban ke psikolog untuk di periksa dan diberi arahan.

“Alasan keluarga membawa korban ke psikolog sebab keluarga pernah menemukan sebuah kertas coretan milik korban dimana dia mengatakan ingin bunuh diri, sehingga kelurga segera ingin mengambil tindakan agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan,” tuturnya

Terkait sikap korban, psikolog mengalami keluhan yang dimana psikolog mengatakan bahwa awal mula melihat korban sangat berat untuk mengembalikan mental dan butuh waktu yang cukup. “Sehingga psikolog meminta agar keluarga harus selalu membantu dengan memberikan semangat dan kalau bisa jangan ditinggalkan dan jangan di ungkit-ungkit kejadian tersebut kepada korban agar korban dapat melupakannya perlahan-lahan,” ujarnya

Setelah beberapa kali ke psikolog akhirnya korban yang awalnya pendiam sekarang sudah mau berbicara dan bercerita sendiri tanpa diajak duluan. Sementara pelaku akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian. “Setelah terungkap, akhirnya pelaku ditahan di lapas dan terkena hukuman tujuh tahun penjara,” tutupnya.

Isi merupakan kiriman berita dari Reza Fatia, Annisa, Melsa, Vira, Miftahul (Mahasiswi UIN Suska Riau)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

“Siakad” Wajah Baru Layanan Sistem Informasi Akademik UIN IB

Next Post

Jelang Pindah ke Kampus III UIN IB, Begini Tanggapan Kepala Akama FS

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty