Oleh: Zahra Mustika
(Mahasiswa Studi Agama Agama UIN IB)
Suaramu bermain bak alunan gamelan yang mengalun pelan
Gemuruhnya berhasil menembus bising kepalaku
Mengalir bersama dalam untaian doa yang tak terdengar.
Aku terduduk diam direnggut nestapa
Menatap kosong pada lautan putih yang disebut awam.
Aku termangu memandang
Senang menerka nerka
Agar lelah berubah makna.
Penghujung menjadi pemisah makna
Ditengahnya mengajariku rindu tanpa kata.
Lidahku kelu berucap cinta
Padamu pemilik bayang yang enggan sirna
Jika kelak kau membaca
Biarlah sunyi yang menuntaskannya
Sebab rasa cukup dipelihara dan ditata
Tanpa meminta ruang bernama.