Oleh: Josuardin Baeha (Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga)
Dalam dunia akademik, etika dan panduan komunikasi sering kali dianggap setara dengan kitab suci kecil yang wajib dijunjung oleh para mahasiswa. Etika ini mencakup tata cara yang terstruktur: membuka percakapan dengan sopan, menyampaikan salam hangat, memperkenalkan diri secara jelas, mengutarakan maksud secara runtut, dan menutup dengan ungkapan terima kasih. Tentunya tidak lupa diakhiri dengan emot legendaris.
Secara teori, semua langkah ini seharusnya menciptakan interaksi yang terasa rapi, nyaman, dan profesional antara mahasiswa dan dosen. Tidak sedikit akademisi menekankan bahwa komunikasi ilmiah adalah ruang dialog yang seharusnya bersifat sejajar dan saling menghormati. Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbanding terbalik.
Bagi mahasiswa, mengharapkan balasan dosen barangkali lebih menyerupai mengetuk sebuah pintu kayu tua reot dengan gagang berkarat dan baut yang lepas. Diketuk dengan penuh kehati-hatian, sopan dalam menanti, namun balasan atau respons tak kunjung datang, seperti doi yang tak kunjung nge-notice perasaan kita.
Di sisi lain, muncul ironi yang mencolok ketika kita membandingkan pengalaman tersebut dengan dunia perjudolan, admin judol yang always on menunggu korban selanjutnya, yang sama sekali tidak diidentifikasi sebagai model etis atau kelas intelektual manapun. Justru dalam bidang inilah kecepatan dan kehangatan respons dapat dirasakan dengan sangat jelas. Sebelum Anda memalingkan wajah dari layar potato digital yang sedang Anda genggam, balasan dari admin biasanya sudah hadir: singkat tetapi bernas, cepat namun tetap ramah.
Responsivitas ini mampu menyaingi layanan pelanggan profesional yang mengandalkan notifikasi untuk bertahan hidup di era digital. Ketika situasi ini disanding berdampingan dengan respons para dosen (figur yang digadang-gadang sebagai cahaya ilmu pengetahuan). Maka perbandingan ini sangat kontras terasa. Respons dari dosen kerap kali hadir seperti panggilan ke lembah berkabut, di mana hanya gema suara kita sendiri yang kembali.
Ironi ini tak dimaksudkan untuk memuliakan birokrasi admin judol, melainkan menegaskan absurditas bahwa mereka yang jauh dari teladan akademik malah tampil lebih cekatan dalam urusan komunikasi dibandingkan institusi yang seharusnya menjadi teladan etika itu sendiri. Kondisi ini menggambarkan sebuah ironi yang begitu tajam dan sulit untuk diabaikan.
Dunia akademik dengan tegas menuntut mahasiswa agar mematuhi standar etika komunikasi yang tinggi, tetapi ironisnya tidak selalu menyediakan ekosistem berkomunikasi yang setara. Alih-alih menjadi ruang dialog bilateral sebagaimana diidealkan, mengirim pesan untuk menanyakan posisi dosen sering kali berubah menjadi monolog sepihak, di mana mahasiswa berbicara disertai penuh harapan, tetapi hanya mendapatkan keheningan sebagai balasan.
Mahasiswa diajarkan untuk memahami tanggung jawab dalam berkomunikasi, tetapi apa yang mereka temui dalam praktik terkadang justru menunjukkan absennya bimbingan. Fenomena seperti ini bukanlah sekadar masalah kecil, melainkan refleksi lebih besar atas hierarki kaku yang masih merundung dunia akademik—termasuk kampus kita tercinta.
Pesan-pesan yang dikirimkan mahasiswa sering kali terasa tidak lebih dari lembaran kertas tipis yang terselip di antara tumpukan laporan penelitian magang—keberadaannya tidak sepenuhnya hilang, tetapi juga sering kali tidak benar-benar diperhatikan. Lantas, pertanyaan kritis muncul dan menciptakan dilema menarik: dalam hal kecekatan komunikasi, siapa sebenarnya yang sedang mengajarkan siapa? Haruskah mahasiswa terus berpegang pada standar ideal etika komunikasi yang telah diajarkan kepada mereka, ataukah mereka justru perlu belajar seni sabar menunggu seperti seorang pertapa genit di film kartun?
Lebih jauh lagi, jika dunia akademik ingin tetap menjadi ruang dialog bermakna dan sehat sebagaimana visinya, siapakah yang sebenarnya harus memulai langkah perubahan? Apakah beban itu ada di pundak mahasiswa yang telah berusaha menjaga etika komunikasi mereka, ataukah ada tanggung jawab lebih besar pada dosen untuk menjaga wibawanya seperti berlian? Karena langka, makanya susah dijumpai.