Suarakampus.com– Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menggelar diskusi online bertajuk “Mengapa Sawit Bikin Sakit?” melalui Zoom Meeting. Diskusi ini membahas konflik agraria di sektor sawit yang terus berulang di Indonesia, Kamis (16/05).
Anggota Sawit Watch, Saepulloh mengungkapkan, luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 25,33 juta hektare. “Kepemilikannya terdiri dari 35% smallholder, 60% swasta, dan 5% pemerintah,” ujarnya.
Saepulloh menambahkan, sebanyak 20 juta tenaga kerja terlibat dalam industri sawit tersebut. “Jumlah ini mencerminkan tingginya ketergantungan terhadap sektor sawit,” katanya.
Menurut Saepulloh, konflik sosial akibat industri sawit masih tinggi. “Sawit Watch mencatat ada 1126 kasus yang melibatkan 385 perusahaan dari 131 grup,” jelasnya.
Ia memaparkan, sebagian besar konflik bersifat tenurial atau sengketa lahan. “Sebanyak 55,86% adalah konflik tenurial, 34,81% terkait isu sosial, dan 9,33% soal kemitraan,” katanya.
Peneliti tersebut menuturkan, banyak kasus tumpang tindih izin lahan pada praktiknya di lapangan. “Contohnya, izin PT MSAM seluas 11.500 hektare di Kotabaru yang tumpang tindih dengan areal Inhutani II,” terangnya.
Saepulloh menyebutkan, izin tersebut diterbitkan oleh Bupati Kotabaru pada 2012 dan diperpanjang tanpa pengawasan ketat. “Akibatnya, konflik agraria pun tak terhindarkan,” tuturnya.
Ia menyatakan, PT MSAM disinyalir menyebabkan kerugian negara. “Perusahaan tersebut mengambil lahan negara dan kebun plasma petani,” ucapnya.
Saepulloh menambahkan, proses pembukaan lahan dilakukan tanpa partisipasi masyarakat. “Kegiatan dilakukan malam hari dan kompensasi diberikan sepihak tanpa musyawarah,” jelasnya.
Terkait upaya hukum, peneliti itu mengatakan pihaknya telah melapor ke lembaga pemerintah. “Kami sudah melapor ke KPK, Kejaksaan Agung, Bareskrim Polri, KLHK, dan ATR/BPN,” pungkasnya. (ver)
Wartawan: Raihani Salsabilla (Mg)