Suarakampus.com– Ribuan warga di daerah terisolir pascabencana di Sumatra terpaksa bertahan dengan mengonsumsi mie mentah dan tinggal di tenda darurat yang robek hingga dua pekan. Kondisi memprihatinkan ini mengemuka dalam acara live Indonesia Business Forum di TV One, Kamis (11/12).
Sekretaris Daerah (Sekda) Bener Meriah, Riswan Dika mengungkapkan, empat kecamatan di wilayahnya masih belum terjangkau bantuan darat akibat akses jalan yang terputus total. “Beras yang dibutuhkan 46 ton per hari, masih sangat kurang,” sebutnya.
Riswan Dika menambahkan, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di pasar gelap telah melonjak drastis dan memberatkan korban bencana. “Harga BBM pasar gelap mencapai Rp70.000 per liter,” ungkapnya.
Seorang korban di Aceh Tamiang, Elida Nalpaban, mengaku keluarganya hanya mengandalkan bantuan makanan dari relawan yang lewat. “Kami menunggu diberi nasi di pinggir jalan,” katanya.
Elida Nalpaban menambahkan, jika tidak ada bantuan, keluarganya terpaksa makan mie mentah dan berlindung di tenda plastik yang sudah robek. “Kami hanya makan mie mentah dan tinggal di tenda yang tidak layak,” tambahnya.
Korban tersebut juga menyatakan, delapan balita di tendanya mengalami gatal-gatal dan sesak napas, sementara ia kehilangan kios sembako sebagai sumber penghasilan. “Saya berharap ada bantuan modal usaha,” ujarnya.
Relawan Dompet Dhuafa, Ciki Fauzi, menilai bantuan pemerintah belum menjangkau wilayah terdalam dan hanya terpusat di jalur utama. “Posko bantuan hanya sampai di jalan besar,” katanya.
Ciki Fauzi menggambarkan kondisi Aceh Tamiang yang dipenuhi lumpur pascabanjir seperti zombie city. “Wilayah ini seperti kota zombie,” paparnya.
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Muhammad Putra Hutama, menyatakan pemerintah akan segera menindaklanjuti laporan kondisi tersebut. “Kami akan bantu dengan tenda yang layak,” ujarnya.
Putra Hutama menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan bantuan sebesar Rp50 juta untuk setiap unit rumah rusak serta program restrukturisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Bantuan ini untuk pemulihan ekonomi warga terdampak,” jelasnya.
Tenaga Ahli KSP itu menegaskan, penyaluran bantuan akan difokuskan di lokasi pengungsian saat ini tanpa memindahkan korban. “Koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan dilakukan,” tegasnya.
Pemerintah daerah berharap kunjungan Presiden yang telah dijadwalkan dapat mempercepat perbaikan akses jalan dan distribusi bahan bakar. “Kunjungan itu penting untuk mendukung operasional di lapangan,” pungkasnya. (ver)
Wartawan: Aldi Syukron (Mg)