Oleh : Muhammad Rizki
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)
Tinta yang tumpah diam-diam
Menyimpan makna tanpa suara
Kata-kata yang luput terbaca
Menjelma rupa—hilang, namun nyata
Di sela napas yang singkat
Singgasana batin sempat menyala
Abstrak menepi di pelupuk mata
Mengunjungi tokoh-tokoh dunia
Mentari dan siulan burung
Berbagi pagi yang sederhana
Renungan disajikan tanpa meja
Namun kenyang di dada
Tak salah bila langkah tertatih
Sebab arah kerap lahir dari ragu
Yang jatuh belajar berdiri
Tanpa perlu gaduh
Usaha adalah bentuk paling jujur
Dari harap yang tak pandai bicara
Ia setia dalam diam
Melukis makna, perlahan.