Momen yang Melahirkan Kerinduan

Judul : Rindu
Penulis : Resty Antika Putri, Euiz Nhoor, Dkk. (Pejuang Antologi Sukabaca #2)
Editor : Riska Wahyuni
Tata letak : Sukabaca Desain
Sampul : Suka Baca desain
Ilustrator : Yudha Prihantanto
Penerbit : Yayasan Prihantanto
Tahun terbit, Cetakan : 2020, Cetakan Pertama
Tebal Buku : 266 halaman
Resensiator : Firga Ries Afdalia

Keadaan seakan telah mengatur alur sebuah rasa yang mengalirkan kebahagiaan ataupun kepedihan secara bergiliran. Setiap keadaan yang tidak akan pernah datang beriringan ataupun bergantian. Hal ini memberikan pengajaran yang tidak terkalahkan supaya kita menikmati setiap keadaan yang sedang disuguhkan. Kisah pahit akan selalu dikenang, kebahagiaan pun selalu diangan, begitupun sebaliknya.

Buku yang ditulis oleh Pejuang Antologi Sukabaca #2 ini menceritakan secara konkrit arti kerinduan dari berbagai momen yang tidak akan pernah terulang lagi. Rindu memang melodi rasa yang menghasilkan nada sendu atau bahkan improvisasi yang merdu. Namun, tidak sedikit orang yang jenuh, karena menunggu itu sesuatu yang tak kunjung temu. Kerinduan akan terobati dengan adanya pertemuan. Namun, buku ini memaparkan bahwa tidak seluruh rindu yang berujung temu ataupun tidak semua rasa menemui sumber deritanya. Akan ada waktu di mana kerinduan hanya sebagai melodi sendu alunan lagu pengantar tidur hingga mimpi menghadirkan sosok sang perindu.

Berbagai kisah dilukiskan, mulai dari merindukan hidayah yang tidak datang sendirian, namun harus dijemput agar selalu beriringan. Rindu akan momen kebahagiaan yang telah lenyap ditelan keadaan. Tidak ada lagi pertemuan, namun dia kerap datang di gemerlapnya malam. Rindu akan sebuah pertemuan yang belum terselenggarakan akibat pandemi yang tak kunjung menghilang, pandemi yang telah merenggut momen kebersamaan lebaran bahkan momen spesial lainnya.

Kehangatan dalam keluarga hingga akhirnya berpisah pada waktu yang tidak diinginkan berhasil merenggut seluruh momen yang tercipta. Suka ataupun duka akan terasa indah jika kita tidak lagi bersua. Buku ini menggoreskan tinta rindu perjuangan, pengabdian hingga perpisahan tanpa adanya setetes waktu perjumpaan.

Rindu tidak hanya sebuah rasa yang harus diobati dengan adanya pertemuan, namun adakalanya penawar rindu itu doa di sepertiga malam. Seperti merindukan orang yang telah berpulang pada Sang Pencipta ataupun merindukan seseorang yang tidak semestinya. Sangat banyak perspektif rindu dengan berbagai macam resolusi penawarnya.

Adakalanya kita merindukan kampung halaman kala tidak bisa pulang di hari lebaran. Buku ini juga menceritakan kisah seorang anak perantauan yang dirundung rindu pada keluarga, tapi mereka dapat mengatasi segala keluh rindu dalam rentang waktu yang singkat. Hingga saat kesempatan datang, rasa rindu selama ini dapat terobati dengan pertemuan di kampung halaman.

Tidak hanya itu, buku ini juga menorehkan tinta perkembangan Covid-19 yang telah melahap momen bahagia dari seorang individu. Menceritakan pengaruh Covid-19 bagi seluruh elemen masyarakat hingga mahasiswa. Goresan yang menorehkan tidak ada lagi yang namanya pertemuan walaupun rindu telah membuncah. Hanya pertemuan dalam sebuah jaringanlah yang mampu mengobati rasa itu.

Buku ini juga menceritakan kisah pejuang cinta yang takut dibendung dosa, hingga rasa harus disimpan pada tempat yang istimewa. Sangat sulit menahan kerinduan, apalagi jikalau rasa cinta telah mengambil perannya. Namun, penulis menuliskan deretan kerinduan yang akan menjauhkan diri dari ladang dosa yang melimpah. Kerinduan yang pada akhirnya berujung pada pertemuan halal kekasih Allah. Memang tidak seluruh rindu yang berujung temu, namun juga tidak seluruh rindu yang mempunyai melodi sendu.

Buku ini cocok dibaca oleh berbagai kalangan, baik dewasa, remaja ataupun lanjut usia. Ceritanya memberikan makna betapa nikmatnya menahan rindu sebelum adanya pertemuan, mencari tanpa harus menunggu dan betapa pahitnya pertemuan yang berakhir dengan perpisahan. Waktu memang akan berlalu dan tugas kita menikmati setiap temu.

Dari segi penulisan buku ini diwarnai berbagai kata, seperti beragamnya penulis yang menghasilkan karya. Sangat beragam perpaduan bahasa, hingga hadirnya berbagai cerita yang teramat istimewa yang akan membawa pembaca pada keadaan yang semestinya. Buku ini merupakan kreativitas Pejuang Antologi Sukabaca #2 dalam menghadapi kondisi pandemi yang yang tengah menghantui negeri.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Elegi

Next Post

Munas 132 Kampus Tunjuk Wahyu Suryono Sebagai Korpus BEM SI

Related Posts
Total
0
Share