Nur Simah: Surga dalam Gelap

Ilustrasi menggenggam tangan ibu yang sedang sakit

Oleh: Nabilla Oktavia

Mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang

Angin subuh membaluti tubuh para alim yang berjalan menuju Masjid, satu dua langkah kaki para Jamaah Masjid Muttaqim terdengar di balik tembok kamar mandi, suasana di rumah panggung masih sepi, terlihat Ibu masih terlelap dalam tidurnya. setiap jam empat dini hari, aku harus menyiap dagangan yang berupa tempe mendoan, tahu sumedang dan pisang goreng untuk di jual  di Pasar Pagi dekat Tugu Raya.

Satu jam sudah, diriku  berada di dapur usang ini, bergelut dengan adonan tepung dan pedihnya asap dari kuali penggorengan. Rutinitas ini aku lakukan semenjak Nur Simah, Ibu kandungku mendadak membenci semua orang termasuk diriku, Ibu tak lagi lembut seperti dulu, mulutnya hanya mengeluarkan sumpah serapah dan kalimat jalang yang tak patut ucap dan di dengarkan. sikap Ibu mulai berubah semenjak Ayah memiliki wanita idaman lain, sikapnya semakin tak terkendali, semenjak saat itu  sampai dengan sekarang sudah lebih dari lima kali Ibu mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa.

Masih hangat di ingatanku, ketika tubuh kurus hitam ini berlari meminta tolong pada Pakde Amir, untuk segera membawa Ibu ke Rumah sakit,yang nyaris mati karena sengaja meminum cairan pembersih wc.

“Pasien dalam keadaan kritis, zat kimia dari cairan itu sulit untuk di hilangkan tapi, kami akan berusaha untuk menyelamatkannya” ujar seorang wanita yang berpakaian rapi.

“lakukan yang terbaik dok, selamatkan Nur Simah kasihani anak itu, hanya Nur Simah seorang yang dia miliki” ucap Pak Amir dengan wajah sendu sambil menatap lirih padaku

“Baik Pak, akan kami usahakan. Oh ya, Pasien selalu menyebutkan Iki, Iki”, terang dokter kepada Pak Amir

“Ibu memanggil Ayah, Pakde!” Ujarku yang sedari tadi dengan nanar menyimak dialog antara Pakde dan Bu Dokter.

Setelah perbincangan itu, aku bersama Pakde Amir menulusuri sudut-sudut kampung Mirah mencari Ayah yang sudah dua minggu tak pulang ke rumah, sedangkan di rumah sakit Ibu masih tak sadarkan diri. dengan mantap Pakde melaju mobil keluaran 70-an itu dengan cepat, dari satu kampung ke kampung lainnya, dari satu kedai kopi ke kedai kopi yang lain, di tengah perjalanan tak sengaja mataku tertuju pada  sebuah kedai kopi di sana terlihat Ayah sedang bersenang ria bertelanjang dada sambil menepuk batu domino di atas meja kayu.

Melihat Ayah aku segera memberitahu Pakde, tanpa banyak bicara ia menghampiri Ayah. Sebelum itu Pakde tidak memperbolehkan aku turun, ia menyuruhku tetap menunggu di dalam mobil. di balik kaca mobil mataku yang sembab melihat sesekali Ayah mendorong tubuh tua Pakde, ingin sekali aku keluar dan memeluk Ayah. Setelah setengah jam berlalu akhirnya Ayah mau menjengguk Ibu yang tak berdaya di ruang rumah sakit.

Setelah kejadian buruk itu, Ayah dan Ibu kembali tinggal bersama, Ayah berpura-pura menjadi suami yang baik, di luar sana sudah bukan rahasia umum jika Ayahku adalah seorang pejudi, dan suka bermain wanita. Dua tahun lamanya rahasia busuk itu tertutupi, tanpa di ketahui sedikitpun oleh Ibu, namun pada akhirnya kejahatan itu mulai terbuka dan Ibu memilih tidak melanjutkan hidupnya bersama Ayah.

Aku mengira, kehidupan Ibu akan membaik setelah kepergian Ayah, perkiraanku berbanding terbalik sikapnya semakin kasar terutama padaku, Tak hanya caci maki, sumpah serapah tak jarang aku menerima pukulan lidi di paha dan betis.

“Nina, Pakde dan Bude tidak tahan melihat kamu terus di sakiti sama Ibumu, Pakde sama Bude, akan membawamu tinggal bersama kami” ujar Bude saat bertandang ke rumah

Aku menolak tawaran mereka, sebab rasa sayangku pada Ibu mengalahkan segala kesakitan pukulan dan perkataan yang selama ini aku dapatkan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Suara azan berkumandang, membuatku tersadar dari lamunan yang memilukan itu, tak terasa air mata mengalir deras di kedua pipi, aku menghela napas panjang dan bergegas menunaikan solat subuh.

Selepas solat, aku melihat Ibu masih tertidur pulas dengan dengkuran yang keras. Di wajahnya masih terlihat gusau dan amarah, namun aku masih melihat cahaya kelembutan di hatinya.

Krakk… pintu yang terbuat dari kayu jati tahun 60-an itu berderak ringan,

“ He Rina!, sebelum kau pergi buatkan aku sarapan dan tinggalkan dua tempe mendoan untukku” ucap Ibu dengan sangar.

Aku mengangguk dan bergegas mengikuti perintahnya. Satu minggu belakangan, daganganku selalu tersisa. Hari ini aku hanya mampu membawa pula uang sebesar lima puluh ribu,  dua puluh ribu akan di belikan untuk modal dagangan besok, itu berarti dari jam empat pagi sampai jam enam sore aku hanya mengumpulkan uang sebesar tiga puluh ribu.

“ Rina, Rina!!, He anak tak berguna, sudah mati kah kau? Aku memanggil kau dari tadi” teriak Ibu sambil mendongkrak pintu kamarku

“iya, iya Bu ada apa?” tanyaku lemah

“ berikan uang hasil jualan tadi padaku !!!”

Aku menyerahkan dua lembar pecahan sepuluh ribu,  berharap Ibu tersenyum mendapatkan uang tersebut, tapi. Lagi dan lagi hanya sumpah serapah yang aku dapati.

Satu bulan berlalu, kondisi Ibu samakin melemah, dua minggu belakangan aku mengetahui bahwa Ibu meminum alkohol. Kesehatannya semakin menurun. Tapi, rasa bencinya padaku tidak pernah hilang.

Pagi ini, setelah memberikan obat untuk Ibu, aku berpamitan pergi berjualan. Tujuan utama aku hari ini tidak lagi pasar Tugu, tapi lapangan sepak bola di ujung kampung Mirah, disana sedang berlangsung pertandingan sepak bola antar kampung, aku berharap tempe mendoan dan pisang goreng ini segera habis agar aku bisa kembali ke rumah lebih cepat. Terik matahari, tepat berada diatas ubun-ubun, keringat mengalir deras bercucuran sekujur tubuh, walau letih aku merasa bahagia sebab, hari ini daganganku ludes lebih awal. Di tengah perjalanan aku melihat pedagang jambu air, aku teringat Ibu yang sangat suka minum jus jambu air. Aku membeli jambu  dan berharap Ibu akan bersikap lembut padaku.

Sesampai di rumah, aku melihat banyak orang di duduk dan termenung, juga terlihat Pakde Amir yang sibuk berbicara bersama Bapak-bapak, hatiku berdetak kencang, bibir ku mendadak pucat, aku berlari menuju kamar Ibu.

Aku  merasa bumi jatuh tepat di badanku melihat Ibu sudah di tutupi kain putih, aku tak kuasa menahan sakit yang teramat pilu ini, suara lirih tangisku membuat siapapun yang mendengarnya menjadi Iba, kepergian Ibu bagaikan mimpi buruk. Namun inilah kenyataannya. Ya.. pada hari itu Nur Simah, telah berpulang ke Rahmatullah, Lengkap sudah penderitaan Rina, di tinggal Ayah dan di tinggal mati oleh Ibu. Dan inilah awal kehidupan baru Rina yang selalu berjuang menyelami kepahitan di hidupnya.

Padang, 09 Mei 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Mempertanyakan Kualitas Kampus Megah

Next Post

Rektor UIN IB, Martin Kustati: Tahun ini Empat Fakultas Pindah ke Kampus III

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty