Penikmat Hujan

Ilustrasi seseorang tengah memenungkan dirinya di tengah hujan (Ilustrator: Zulis Marni/suarakampus.com)

Oleh: Zulis Marni

(Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)

Hujan itu sejuta kenangan menyimpan senandung liar yang membisikkan seribu kisah, tetapi banyak dari mereka tidak menyukai hujan. Mereka mengeluh hingga mengutuk hujan. Padahal hujan adalah berkah yang diberi Tuhan untuk semua hamba-Nya. Hujan memiliki banyak keistimewaan, namun hanya segelintir orang saja yang memahaminya. Dari sekian banyak cara untuk mendapatkan kesenangan untuk usia remaja, Nayla si gadis berumur 18 tahun memilih bermain dengan air yang turun dari langit. Selain menikmati dingin yang mengenai tubuhnya, ia juga mengumpulkan kenangan yang pernah singgah dalam hidupnya.

“Kenapa sih suka hujan?” Tanya Tania tiba-tiba berdiri di samping gadis berambut pendek yang sudah tiga puluh menit berdiri di bawah hujan sambil menengadahkan kepala ke langit. Ia memberikan payung berwarna biru tua itu kepada Nayla yang sudah kuyup di bawah langit abu-abu yang tanpa segan menumpahkan air matanya.

Nayla menoleh menatap sumber suara bingung, sejak kapan perempuan berjaket hitam dengan rok pendek selutut ini di sampingnya.

Nayla mengambil payung itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, badannya benar-benar basah membuatnya sedikit menggigil, sehingga sulit untuk berbicara. Hujan hari ini agak beda dari hujan-hujan biasanya, hujan lebat diiringi oleh petir dan angin yang cukup kencang.

Tania dan Nayla berjalan beriringan dari lapangan sekolah menuju kelasnya yang sudah terlihat kosong karena semua murid pastinya sudah pulang sekolah di sore hari seperti ini.

Tania hanya bisa menggelengkan kepala tidak habis pikir melihat tingkah temannya yang agak aneh setiap kali melihat hujan, ia akan berdiri menatap langit membiarkan badannya basah oleh hujan tanpa takut sakit.

“Nay, kamu kalo kayak gini nanti endingnya sakit.” Ucap Tania lagi saat mereka sudah berada di depan toilet.

Nayla hanya berdaham pelan, lalu masuk ke dalam mengganti pakaiannya. Setiap hari Nayla sengaja membawa baju ganti lengkap dengan dalamannya membuat Tania sedikit speechless akibat kebiasaan aneh Nayla.

“Bukan aku yang aneh, cuma kamu aja yang tidaka tahu.” Celetuk Nayla yang baru saja keluar dari toilet menatap Tania dengan mata sayu seolah tahu isi kepala Tania sekarang.

Tania menghela nafas panjang “Ya,ya,ya dari tiga tahun yang lalu kamu juga bilang gitu ke aku tapi ga pernah cerita jadi mana bisa aku tau Nay.”

Nayla terdiam, memang dia tidak pernah memberitahu siapapun alasan semua hal yang ia lakukan terkadang ia menjawab dengan bohong jika ada yang ngotot pengen tau alasan dia seperti ini. Nayla berdecak malas “Makan siomay di warung depan yuk, lapar nih.” Jawabnya mengalihkan pembicaraan.

Tania hanya mengangguk pelan tanpa bertanya lagi. Nayla bersin beberapa kali setelah mengunyah siomay di mulutnya. Hidungnya memerah namun ia tidak merasa terganggu dengan cairan yang memenuhi hidungnya setiap kali ia bernafas. Nayla tetap menyantap siomay hangat dengan saus kacang begitu menggiurkan. Tania melihat itu hanya bisa tertawa kecil, apalagi saat Nayla sengaja menyumbat lubang hidungnya dengan tisu.

“Aduuh, baru juga beberapa jam yang lalu, kamu udah sakit aja.” Paniknya.

“Hujan tidaka pernah bikin aku sakit, cuma emang tubuh aku aja imunnya lagi rendah, biasanya sih aman-aman aja.” Jawab Nayla santai

“Aduh Nayla, aku itu bukan orang yang kenal kamu kemaren sore ya! Udah hampir empat tahun tau, inget ga sih” Ujar Tania kesal mendengar jawaban yang seolah copy paste dari setiap kali Tania mebahas hujan dari tahun-tahun yang lalu.

Nayla hanya diam, sama seperti tahun-tahun kemarin ia tiba-tiba mendadak pendiam jika ditanya soal hujan, entah apa yang ia pikirkan, entah apa yang ia kenang dari hujan itu Tania tidak tahu, dan tidak pula memaksa Nayla untuk bercerita karena ia tau bagaimana Nayla yang begitu menjaga privasinya dan Tania menghargai itu.

Hujan turun semakin lebat dari sebelumnya, membasuh aspal yang panas di jalan raya ibu kota. Beberapa orang ikut berteduh di warung somay tempat Nayla dan Tania duduk saling diam setelah menghabiskan dua piring somay tanpa ampun. Nayla menatap hujan dengan mata penuh harapan. Iya, Nayla berharap hujan akan terus turun agar ia tetap mengingat kenangan yang indah itu.

“Aku ingat papa.” Ujar Nayla tiba-tiba dengan suara yang serak.

Suara hujan membenamkan suaranya, Tania menatap Nayla bingung “ Kamu ngomong apa tadi?” Tanya Tania setengah berteriak.

Nayla tersenyum “Aku pengen berak!” Jawabnya dengan berteriak juga membuat beberapa orang di sana menatap Nayla kaget.

Tania langsung tertawa renyah mendengar pernyataan Nayla barusan. Ia tau Nayla berbohong “Aku tidak pernah maksa kamu buat cerita kok, tenang aja.” Balas Tania meledek Nayla yang hanya bisa terkekeh pelan.

Itulah alasan Nayla betah berteman dengan Tania hingga bertahun-tahun, ia begitu menghargai privasi Nayla, tidak kepo apalagi sampai ikut campur dengan urursan pribadinya. Nayla akan menumpahkan segala isi hatinya jika emang ia rasa itu perlu untuk dikatakan dengan Tania. Terkadang orang-orang memang berbeda selera dalam berteman.

Beberapa menit kemudian hujan agak reda satu persatu orang yang berteduh memilih untuk melanjutkan perjalanannya tetapi ada juga yang tetap di warung somay untuk menunggu hujan benar-benar reda. Dari kejauhan Nayla melihat seorang ayah dengan anak perempuannya bermantel biru berjalan bersama menyebrangi jalanan.

Tiba-tiba air mata Nayla mengalir begitu saja, dadanya sesak tak tertahankan, matanya tiba-tiba panas, hatinya ngilu. Begitu banyak kenangan yang ia simpan sendirian, begitu sakit rasanya menahan rindu yang tak berujung menenangkan. Rasanya campur aduk.

Seharusnya dengan keadaan seperti ini ia sendirian, tidak ingin memperlihatkan hal seperti ini kepada Tania tapi apa boleh buat rasanya sekarang untuk tersenyum pun bibirnya merasa berdosa, betapa bohongnya ia selama ini.

“Aku ingat papa Tan.” Ujar Nayla akhirnya sesenggukan disamping Tania yang hanya bisa diam menatap wajah Nayla yang sudah memerah.

Beberapa orang yang berteduh di warung itu melihat Nayla bingung, tadi baru saja mereka mendengar Nayla yang ingin buang air besar sekarang sudah menangis saja. Tania yang paham situasi menarik Nayla menjauh dari warung itu membuka payung dan menuntunnya untuk kembali ke sekolahan yang sudah benar-benar sepi. Tania hanya bisa diam tanpa tau harus berbuat apa karena selama ini ia tidak pernah melihat Nayla menangis sampai sesenggukan seperti ini.

Nayla menatap Tania dengan mata yang merah ia mencoba untuk bercerita dengan hati yang masih begitu sakit, entahlah ia seharusnya tidak menceritakan ini tetapi, ia tidak dapat menahan semuanya lagi setidaknya setelah bercerita ia merasa lega.

Dulu saat masih kecil, Nayla selalu mandi hujan bersama ayahnya disaat anak-anak seumurannya dilarang oleh orangtua mereka bermain hujan akan tetapi ayah Nayla bahkan menemani gadis kecilnya bermain hujan.

“Papa tidak takut sakit? Nanti ga bisa kerja.” Ucap Nayla kecil kepada ayahnya saat melihat lelaki itu ikut basah kuyup dengan tubuh yang masih mengenakan baju kantornya.

“Hujan itu ga bikin sakit cuma imun tubuh kita aja yang lemah, jadi kalo ga mau sakit kita harus jaga kesehatan agar imun tubuhnya kuat dan bisa main hujan terus.” Ayah Nayla tersenyum melihat Nayla yang mengangguk sok paham.

Namun seminggu setelah itu ayah Nayla sakit hingga dalam jangka waktu yang pendek ayahnya di jemput sang pencipta, saat itu hari hujan membuat Nayla yang tidak tau ayahnya sudah meninggal merengek meminta kepada ibu membangunkan ayahnya untuk diajak main hujan bersama. Namun ibu Nayla hanya bisa diam hingga Nayla melihat ayahnya yang ditanam dan ditutupi gundukan tanah basah.

Setelah itu Nayla sempat membenci hujan karena selalu saja datang dengan membawa kenangan yang sebenarnya hanya membuat dadanya sesak seperti sekarang.

Hingga ia sadar, bukan hujan yang membawa kenangan yang menyakitkan tetapi dirinya lah yang belum berdamai dengan keadaan, seiring berjalannya waktu ia kembali menyukai hujan dengan berjuta alasan yang tidak pernah ia ungkapkan, meski sebenarnya ia menangis sambil memohon kepada tuhan menitipkan harapan kedalam seribu rintik-rintik hujan agar ayahnya bisa kembali meski tau itu musathil.

Nayla mengobati rasa rindunya dengan duduk dibawah hujan yang menyapu air matanya di kala menangis tanpa ada yang tau. Menangis dibawah hujan membuatnya tenang dengan rintik aromanya, pada bunyi dan melankolinya yang berirama, pada caranya pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tidak di inginkan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

UIN IB Tuan Rumah Muswil IMPI ke VI, Ciptakan Hubungan Baik Antar Universitas

Next Post

Kepercayaan

Related Posts
Total
0
Share