PISN dan Sanggar Seni Edelweis Satukan Tradisi dan Inovasi

Potret mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang bersama Sanggar Seni Edelweis. Sumber: Hasya.

Suarakampus.com– Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang bersama Sanggar Seni Edelweis Bukittinggi mengembangkan seni tradisional Minangkabau melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) dengan memadukan teknologi dan kreativitas generasi muda, Senin (5/10).

Dosen Program Studi Seni Karawitan ISI Padang Panjang, M. Halim mengatakan, program tersebut hadir karena Sanggar Seni Edelweis masih memiliki keterbatasan dalam memproduksi alat musik tradisional. Sebelum mendapat dukungan alat produksi, pembuatan satu tambua membutuhkan waktu hingga satu minggu.

“Dulu, untuk membuat satu buah tambua membutuhkan waktu sampai satu minggu, tapi sekarang dengan adanya bantuan teknologi tersebut, produksi yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga satu minggu kini dapat menghasilkan sekitar tiga buah tambua dalam sehari,” kata Halim.

Halim mengungkapkan, selain pengadaan alat kegiatan PISN juga diisi dengan sosialisasi, pelatihan penggunaan alat, workshop komposisi musik, hingga pertunjukan.

“Kegiatan ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan seni tradisional melalui pemanfaatan teknologi dan kreativitas,” ungkapnya.

Dosen ISI Padang Panjang sekaligus anggota pengabdian PISN, Kurniadi Ilham menyebutkan, workshop komposisi menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan musik tradisional menjadi karya baru.

“Program ini diharapkan dapat meningkatkan produksi alat musik, nilai jual, serta promosi kesenian tradisional,” sebutnya.

Sementara itu, pimpinan Sanggar Seni Edelweis, Budi Alexander mengatakan, sanggar yang berdiri sejak 2013 tidak hanya bergerak dalam seni tari, tetapi juga mengembangkan alat musik tradisional seperti talempong, gandang tambua, dan gandang tansa.

Menurut Budi, kerja sama dengan ISI Padang Panjang membantu sanggar mendapatkan alat praktik dan permesinan yang sebelumnya masih terbatas.

“Kehadiran para dosen dan pelaku seni juga memberikan pengetahuan baru bagi anggota dalam mengembangkan karya dan inovasi seni pertunjukan,” ujar Budi.

Bagi generasi muda, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru. Fakhri Emil Habib, anggota Sanggar Seni Edelweis yang bergabung sejak 2021 mengatakan, PISN memberinya pengetahuan tentang komposisi musik dan produksi alat musik.

Ia berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari seni tradisional dan tidak melupakan budaya di tengah perkembangan teknologi.

“Kita boleh hidup di era digital, tetapi jangan lupakan tradisi yang sudah ada sejak dulu, agar kesenian Minangkabau tetap dikenal hingga masa mendatang,” pungkasnya. (Fau)

Wartawan: Hasya Riandri (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

17 Pengurus Mundur dari DEMA UIN IB, Pimpinan UKM Soroti Persoalan Internal

Next Post

30 Titik Lampu Jalan UIN IB Ditargetkan Rampung Akhir Tahun 2026

Related Posts