Putus Asa di Ujung Penat

Seorang lakilaki yang terduduk frustasi dengan tumpukan kertas di sisi mejanya. Sumber : Najwalin Syofura

Oleh : Najwalin Syofura
(Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora)

Di pelupuk hari yang kian meredup
Aku hanyalah siluet yang memanggul jenuh
Meniti titian waktu yang kian meliuk
Dengan raga yang kian limbung dan luruh

Sukmaku serupa aksara yang kehilangan makna
Tercecer di antara riuh dan hiruk-pikuk semesta
Ada letih yang merambat, tak kasat namun nyata
Mengerogoti sumsum doa di balik dada yang hampa

Aku ingin sejenak mencuri waktu dari detak jam
Merebahkan angan pada hening yang paling dalam
Sebab langkah ini telah kehilangan rima dan irama
Tersesat dalam labirin kewajiban yang tak berujung muara

Biarlah malam ini aku menjadi titik yang diam
Melepas sauh dari gelombang yang terus menghantam
Hingga penat ini menguap menjadi embun di pucuk rindu
Dan esok aku kembali memungut sisa-sisa diriku yang baru
Oleh : Najwalin Syofura

Di pelupuk hari yang kian meredup
Aku hanyalah siluet yang memanggul jenuh
Meniti titian waktu yang kian meliuk
Dengan raga yang kian limbung dan luruh

Sukmaku serupa aksara yang kehilangan makna
Tercecer di antara riuh dan hiruk-pikuk semesta
Ada letih yang merambat, tak kasat namun nyata
Mengerogoti sumsum doa di balik dada yang hampa

Aku ingin sejenak mencuri waktu dari detak jam
Merebahkan angan pada hening yang paling dalam
Sebab langkah ini telah kehilangan rima dan irama
Tersesat dalam labirin kewajiban yang tak berujung muara

Biarlah malam ini aku menjadi titik yang diam
Melepas sauh dari gelombang yang terus menghantam
Hingga penat ini menguap menjadi embun di pucuk rindu
Dan esok aku kembali memungut sisa-sisa diriku yang baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Persiapkan Kurikulum dan Fasilitas Ilmu Aktuaria

Next Post

Mahasiswa UIN IB Bersiap Hadapi Perkuliahan Genap di Tengah Kekhawatiran Pascabencana

Related Posts