Oleh : Haida Putri Lubis
(Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)
Kami bertemu bukan karena janji,
melainkan karena takdir yang diam-diam menunggu waktu untuk bekerja.
Tak ada rencana, tak ada isyarat khusus,
hanya pertemuan sederhana di sebuah sekolah
yang dipenuhi tawa remaja dan mimpi-mimpi yang masih polos.
Di tempat itu, aku hanyalah murid kelas sepuluh masih canggung mengenakan seragam putih abu-abu,
masih belajar memahami dunia. Sementara dia berada di puncak masa sekolahnya,
kelas dua belas,
berdiri dengan keyakinan yang terlihat matang
di mata seorang murid baru sepertiku.
Dia kakak gugusku.
Pemandu di hari-hari orientasi yang melelahkan.
Sosok yang berdiri di depan barisan,
memberi arahan dengan suara datar dan sikap seperlunya.
Kulitnya hitam manis, sorot matanya tegas,
dan setiap geraknya seolah penuh kendali.
Namanya sering bergema di lorong sekolah,
di antara bisik kagum dan cerita yang terus berulang,
sebagai pujaan banyak siswa
dan legenda lapangan voli.
Yusuf.
Nama itu sederhana,
namun terasa berat untuk disebut.
Mereka memanggilnya raja dingin.
Suatu hari, di tengah lapangan yang luas,
saat matahari memantul di seragam putih kami,
mata kami berpapasan.
Hanya sesaat tak lebih dari satu tarikan napas.
Namun entah mengapa,
detik singkat itu menanamkan rasa penasaran
yang bahkan tak berani kuakui pada diriku sendiri.
Bukan cinta,
bukan juga rindu,
hanya sesuatu yang tertinggal di dada
tanpa nama.
Katanya dia cuek, dingin, tak peduli siapa pun.
Dan aku percaya itu.
Karena memang begitulah ia tampak dari kejauhan jarang tersenyum, bicara seperlunya,
dan selalu menjaga jarak.
Aku hanya murid baru.
Dia senior yang tak tersentuh.
Dua dunia yang seolah berjalan sejajar
tanpa pernah benar-benar bertemu.
Dari Dila, aku mendengar namanya berulang kali.
Tentang sikapnya yang tertutup sejak kecil,
tentang ketenaran yang tak pernah ia minta,
dan tentang kekaguman yang tak pernah habis padanya.
Kami sering bergosip kecil,
tertawa ringan,
tanpa pernah menyadari bahwa salah satu dari kami
adalah bagian dari kisah
yang sedang tumbuh diam-diam di balik waktu.
Waktu berjalan, dan seperti remaja lain, aku sempat menitipkan hatiku pada orang lain.
Cinta singkat yang kuanggap nyata,
namun ternyata rapuh.
Hubungan yang runtuh oleh pengkhianatan,
datang dari orang yang kupercaya
dan sahabat yang paling dekat denganku.
Empat bulan cukup untuk membuatku patah,
dan bertahun-tahun terasa kurang
untuk benar-benar melupakan rasa kecewa itu.
Aku belajar tersenyum sambil menyembunyikan luka,
belajar kuat meski sering merasa kosong.
Saat aku naik kelas,
bayang masa lalu masih sering singgah di kepalaku.
Ada hari-hari ketika aku merasa baik-baik saja,
dan ada malam-malam
di mana kenangan datang tanpa diundang.
Aku tumbuh,
namun hatiku belum sepenuhnya pulih.
Hingga suatu hari di kelas dua belas,
takdir datang dengan cara yang tak pernah kuduga lewat sebuah taruhan iseng.
Dila mengirimkan belasan nomor ke ponselku.
Nama-nama asing yang tak kukenal.
Aku memilih satu nomor
tanpa alasan, tanpa firasat, tanpa berpikir panjang.Dan ternyata,
nomor itu milik Yusuf.
Aku hanya menulis satu kata,
Assalamualaikum,
lalu membiarkannya melayang
tanpa harapan apa pun.
Balasannya datang cepat.
Sederhana,
namun hangat.
Membantah semua rumor yang pernah kudengar tentangnya.
“Waalaikumsalam. Ini siapa?”
“Haida, Bang.”
“Ooo… adek gugusku dulu?”
Saat itu aku terdiam cukup lama.
Ada rasa kaget yang tak bisa kusembunyikan.
Ternyata, aku tak pernah benar-benar asing baginya.
Aku memilih menghilang.
Tak membalas.
Bukan karena tak mau,
melainkan karena takut.
Takut berharap,
takut membuka sesuatu
yang belum siap kuterima.
Namun keesokan harinya,
dia kembali mengetuk percakapan itu.
“Kenapa nggak dibalas?”
Aku tersenyum sendiri,
tanpa sadar.
Karena ternyata,
raja dingin itu peduli.
Sejak hari itu, kami berbincang. Tentang hal-hal ringan,
tentang keseharian,
tentang tawa kecil yang datang tiba-tiba.
Dan aku mengenalnya lebih dalam seorang lelaki ceria,mudah tertawa,
dan selalu menyelipkan humor di setiap kata.
Dingin di luar,
hangat di dalam.
Pribadi yang jauh berbeda
dari sosok yang selama ini kubayangkan.
Suatu malam,
dia membuka masa lalu
yang tak pernah kuketahui.
Tentang bagaimana sejak hari pertamaku di sekolah,
aku sudah menjadi perhatiannya.
Tentang tatapan singkat di lapangan orientasi
yang tak pernah ia lupakan.
Tentang permintaannya mengganti kakak gugus
hanya agar bisa berada lebih dekat denganku.
Tentang hadiah ulang tahun
yang diam-diam ia titipkan di tasku,
tanpa pernah berharap balasan apa pun.
Tiga tahun.
Dia menyukaiku dalam diam.
Menjaga jarak saat aku memilih orang lain.
Mengalahkan perasaannya sendiri
demi kebahagiaanku yang ia lihat dari jauh.
Berhenti mengejar,
dan hanya berharap dalam sunyi.
Nomor itu yang sampai ke tanganku karena taruhan
ternyata atas permintaannya.
Dia tak pernah berharap aku akan menghubunginya.
Namun ketika aku melakukannya,
katanya itu adalah kebahagiaan kecil
yang bahkan tak pernah ia rencanakan.
Begitulah kisah cinta kami bermula.
Dia menungguku selama bertahun-tahun.
Aku menemukannya karena kalah taruhan.
Karena cinta,
kadang tidak datang lewat rencana besar
atau janji yang disusun rapi.
Ia hadir dari tatapan singkat,
kesabaran yang panjang,
dan waktu yang akhirnya memilih
mempertemukan dua hati
yang sejak lama saling menyimpan rasa
dalam diam.