Suarakampus.com– Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Korps Putri PMII (Kopri) Kota Padang membuka penggalangan dan menyalurkan bantuan untuk korban banjir serta longsor di tiga titik di Kabupaten Padang Pariaman. Aksi kemanusiaan yang berkolaborasi dengan Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Pusat ini berlangsung sejak Senin (8/12).
Ketua Kopri PMII Kota Padang, Novita Hidayani, menyebut bantuan berasal dari berbagai elemen masyarakat dan kader yang turun langsung ke lapangan. “Kami mendapat bantuan dari KIPAN Pusat, sahabat-sahabat PMII di seluruh Indonesia, serta kader-kader yang turun galang dana,” kata Novita.
Novita Hidayani melaporkan, total bantuan yang terkumpul sementara mencapai sekitar Rp16 juta ditambah 20 karung beras serta barang kebutuhan pokok lainnya. “Ada juga peralatan mandi, pakaian layak pakai, dan sembako,” tuturnya.
Bantuan tahap awal tersebut telah disalurkan ke tiga lokasi terdampak di Kabupaten Padang Pariaman. “Kami salurkan 50 paket sembako ke Pasie Laweh, 20 paket ke Kayu Tanam, dan 20 paket ke Sintuak,” jelasnya.
Novita Hidayani mengakui jumlah bantuan tersebut belum memadai karena disalurkan berdasarkan informasi langsung dari masyarakat. “Kami betul-betul menyalurkan dari informasi yang didapatkan,” ungkapnya.
Salah satu kendala di lapangan, menurut Novita, adalah memastikan bantuan tepat sasaran dan merata di tengah ketidakpastian cuaca. “Kami waswas dengan hujan karena harus turun ke lapangan,” tuturnya.
Koordinator aksi tersebut menyatakan, penyaluran akan dilanjutkan ke daerah lain seperti Agam dan Pasaman pada kloter kedua. “Kami masih open donasi hingga tanggal 13 atau 14 Desember,” ungkapnya.
Pada kloter berikutnya, tim relawan juga akan menyalurkan obat-obatan dan air bersih untuk mengatasi keterbatasan akses. “Warga terdampak sangat membutuhkan akses air bersih,” tambahnya.
Novita Hidayani menegaskan, tujuan utama aksi ini adalah memberikan dukungan emosional untuk mengatasi trauma pascabencana. “Ini bentuk kemanusiaan kita terhadap saudara-saudara yang terdampak langsung,” ungkapnya.
Ia berharap bencana ini menjadi pelajaran bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. “Masyarakat Sumatra Barat harus lebih peka menjaga hutan,” katanya.
Aktivis perempuan itu juga mengajak para perempuan untuk lebih peduli terhadap lingkungan karena mereka yang paling rentan terdampak bencana. “Perempuan dan anak paling dekat dengan hutan dan pangan,” pesannya. (ver)
Wartawan: Lina Indriani (Mg)