Suarakampus.com– Pascaterjadinya bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat, travel Bukittinggi-Padang tetap beroperasi dengan tarif naik dua kali lipat dari Rp60.000 menjadi Rp120.000. Akses menuju Padang hanya dapat dilalui jalur via Solok dan Maninjau dengan kondisi jalan yang masih berisiko membuat sejumlah penumpang khawatir, Rabu (10/12).
Mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP), Putri mengatakan, keperluan ke Padang dari Bukittinggi adalah menyelesaikan kewajiban kuliah setelah seminggu di kampung. “Sudah seminggu di kampung, dan akan Ujian Akhir Semester,” katanya.
Putri menyebut, akses jalan dilalui ketika berangkat itu dari Bukittinggi melalui via jalan ke Maninjau. “Melewati Ngarai Sianok-Taruko-Kampung Pisang-Panta-Matur-Kelok 44 Maninjau-Lubuk Basung-Tiku-Pariaman-Babdara Kota Padang,” sebutnya.
Mahasiswa UNP menjelaskan, kondisi jalan sistem buka tutup dengan sekitar lima titik longsor dan hanya dapat dilalui satu mobil. “Longsor paling parah di kelok delapan tanah masih tinggi, Tikungan Kampung Pisang, dan Pesantren dekat Matur abis semua,” jelasnya.
Putri menyampaikan, keadaan di sana hanya warga yang bergotong royong membersihkan sisa material galodo dengan kondisi belum tersorot media. “Jaringan masih terganggu saat di perjalanan tadi,” ucapnya.
Mahasiswa mengeluhkan, kenaikan harga travel dan waktu tempuh yang normalnya dua jam kini memakan hingga lima jam. “Tarif yang biasanya Rp60.000 naik menjadi Rp120.000,” tambahnya.
Mahasiswa Universitas Andalas (UNAND), Raisya menyebutkan, komunikasi sopir dan penumpang berjalan baik dalam pemilihan jalan yang dilewati dengan dua pilihan jalur via Solok dan Maninjau. “Penumpang sepakat memilih Maninjau karena jalur Sitinjau diperkirakan macet panjang,” sebutnya.
Raisya menanggapi, kondisi pascabencana ini sangat menyedihkan dengan jalan yang longsor dan amblas namun perjalanan berjalan selamat meski kondisi hujan. “Alhamdulillah kami selamat dan jalan tadi sepi walaupun kondisi hujan,” sampaikannya.
Mahasiswa UNAND melihat secara langsung dampak bencana selain longsor di area Danau Maninjau dengan adanya banjir yang membawa pasir. “Sawah dan rumah masyarakat tertimbun,” tambahnya.
Raisya berharap, pemerintah harus bertindak cepat dalam penanganan bencana dengan kerja sama antar warga dan pemerintah. “Dibutuhkan kerja sama tanpa kepentingan politik,” tutupnya. (ver)
Wartawan: Devita Rahma