Suarakampus.com–Prof. Dr. Martin Kustati, M.Pd resmi kembali menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang periode 2025–2029. Pelantikan ini menandai keberlanjutan kepemimpinan perempuan pertama UIN Imam Bonjol yang dikenal dengan pendekatan transformasional dan inklusif.
Wawancara bersama wartawan Suarakampus.com, Martin menyampaikan rasa syukur atas amanah besar yang kembali dipercayakan kepadanya. “Amanah ini bukan sekadar jabatan, tapi taklif syar‘i menuntut kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja tuntas,” ujarnya.
Kembali Mencalonkan Diri demi Keberlanjutan
Martin menjelaskan, motivasinya mencalonkan diri kembali di dorong oleh komitmen untuk menjaga kesinambungan program strategis yang telah dirintis. “Periode pertama adalah fondasi, sekarang berlanjut secara terarah, bertumbuh secara ilmiah dan moral,” jelasnya.
Menurutnya, peran rektor tidak sekadar administratif, tetapi juga sebagai penjaga nilai dan arah lembaga dalam membentuk peradaban keilmuan Islam.
Sinergi Ikhtiar dan Takdir Ilahi
Ia menilai, hasil pemilihan merupakan buah dari rekam jejak, konsistensi visi, serta sinergi antar elemen kampus. Namun, yang paling menentukan menurutnya adalah campur tangan Allah SWT. “Ini bukan sekadar hasil kerja individu, tapi buah dari ikhtiar kolektif dan kehendak Ilahi,” ucapnya.
Pemilihan yang Mencerminkan Kedewasaan Akademik
Terkait proses pemilihan, Prof. Martin menilai dinamika yang terjadi menunjukkan kedewasaan demokrasi kampus. Perbedaan gagasan, katanya, adalah bentuk kekayaan intelektual yang harus dihargai. “Titik temu dari semuanya adalah cinta terhadap kampus ini,” katanya.
Visi Misi untuk Transformasi dan Integrasi Ilmu Keislaman
Mengusung visi besar “mengokohkan kesinambungan pendidikan tinggi keislaman yang transformatif dan integratif demi kemaslahatan umat yang berkontribusi global”, Prof. Martin menegaskan komitmennya menjadikan UIN Imam Bonjol sebagai pusat ilmu dan peradaban Islam yang relevan dengan zaman.
Ia menguraikan misinya:
- Mengintegrasikan ilmu keislaman, sains, dan kearifan lokal,
- Meningkatkan mutu akademik dan riset bereputasi,
- Membangun kemitraan strategis dengan dunia internasional,
- Menjadikan kampus sebagai ruang tumbuhnya generasi berakhlak dan berpikir global.
Mahasiswa adalah Subjek, Bukan Objek
Menjawab keresahan mahasiswa tentang keterlibatan dalam pembangunan kampus, Prof. Martin menegaskan komitmennya membuka ruang partisipatif yang lebih luas. “Mahasiswa bukan sekadar penerima kebijakan, mereka adalah pemilik masa depan kampus ini,” tegasnya.
Ia berjanji, menguatkan peran mahasiswa dalam forum musyawarah, pengambilan keputusan, serta membina organisasi kemahasiswaan yang moderat dan inklusif.
Internasionalisasi dan Strategi Global Kampus
Untuk menjadikan UIN kompetitif secara nasional dan global, Prof. Martin merancang strategi berbasis ekosistem keilmuan digital dan spiritual. “Kami akan percepat akreditasi internasional prodi unggulan, perluas riset kolaboratif global, dan perkuat literasi digital serta bahasa asing,” jelasnya.
Menurutnya, UIN Imam Bonjol akan tampil sebagai representasi Islam Indonesia yang ramah, cendekia, dan penuh kontribusi bagi perdamaian dunia.
Program Prioritas: 100 Hari Pertama
Prof. Martin merinci agenda prioritas yang akan dijalankan selama masa jabatan keduanya:
- Digitalisasi tata kelola akademik dan administrasi
- Integrasi moderasi Islam dalam kurikulum
- Peluncuran program Ekoteologi sebagai wujud kesadaran ekologi berbasis Islam
- Revitalisasi kemitraan dengan pesantren dan madrasah
- Pemetaan program studi menuju akreditasi internasional
- Penguatan riset transdisipliner
- Kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan
- Pengembangan kampus berbasis nilai dan berwawasan lingkungan
Kabinet Baru, Prinsip Amanah dan Meritokrasi
Mengenai pengisian struktur Wakil Rektor, Prof. Martin menegaskan akan menjalankan prinsip “the right person in the right position”. Ia membuka ruang asesmen terbuka, konsultasi publik, dan proses seleksi berbasis integritas dan kapasitas.
“Jabatan bukan ruang transaksional. Ini adalah amanah yang harus dijaga. Kita akan bangun manajemen kampus yang profesional, inklusif, dan transparan,” ujarnya.
Ia juga menyampai, pernyataan dengan mengutip QS. An-Nisa: 58 sebagai prinsip dasar pengelolaan jabatan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”
Harapan terhadap Mahasiswa UIN Imam Bonjol
Prof. Martin menaruh harapan besar terhadap mahasiswa. Ia ingin mereka tumbuh sebagai generasi Islam yang paripurna: intelek, bermoral, dan berdaya saing global.
“Lima tahun ke depan, saya ingin menyaksikan mereka bukan hanya sebagai lulusan bergelar, tapi sebagai pemikir muda yang berpijak pada akar keislaman dan mampu berdialog dengan dunia,” katanya.
Ia juga menekankan, pentingnya mahasiswa sebagai khalifah fil ardh: pemimpin, penjaga bumi, dan pelopor perubahan sosial, ” Mahasiswa harus menjadi generasi yang bukan hanya siap kerja, tapi siap menciptakan pekerjaan, menjadi pelopor dalam inovasi sosial, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga gerakan dakwah digital yang bijak dan moderat”, tutupnya. (asr)
Wartawan: Elsa Mayora, Siti Ulami