Oleh: Zahra Mustika
(Mahasiswi Program Studi Studi Agama Agama UIN IB)
Aku mengukir namamu di pasir pantai
tapi ombak datang, menghapus lagi
ia selalu lebih cepat dari langkahku
dari raga kecil yang menanti
Aku menepi, menatap langit
permatanya berkelap-kelip
Kuharap jingga tak berakhir merah
kutarik secarik kertas, kutumpahkan rindu
tanpa khawatir batas
Kutulis hal-hal sederhana
yang kau larutkan dalam diam
Angin menerpa, pena terangkat:
“Apa arti menulis surat
tanpa jawaban yang datang?”
Apa arti merindu
jika tak berbalas?
Aku berhenti di antara jemari
yang tak lagi ingin menyapa
di kepalan tangan yang siap
berpaling pergi