Suarakampus.com – Pemberitaan bencana membutuhkan informasi cepat dan akurat, tetapi riset Devita Rahma menemukan suara masyarakat terdampak belum konsisten hadir dalam pemberitaan bencana hidrometeorologi di tiga media online lokal, Kamis (10/9).
Devita Rahma, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Imam Bonjol Padang, mengkaji persoalan itu melalui penelitian berjudul “Standar Kualitas Jurnalistik dalam Liputan Bencana Hidrometeorologi: Studi pada Media Online Lokal (Ajnn.net, Langgam.id, dan Waspada.id)”.
Penelitian ini berangkat dari pemberitaan bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Dalam peristiwa itu terdapat korban meninggal, warga hilang, kerusakan permukiman, serta kerugian material.
Devita mempertahankan hasil penelitiannya dalam sidang munaqasyah di Ruang Sidang FDIK, Kamis (10/9). Ia diuji Wakidul Kohar, Arifah Yenni Gustia, Abdullah Khusairi, dan Yeni Fitri Wahyuni.
Dominasi Perspektif Pemerintah
Penelitian Devita menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Sebanyak sembilan berita dipilih secara purposif dari AJNN.net, Langgam.id, dan Waspada.id.
Empat aspek digunakan untuk melihat kualitas pemberitaan, yakni akurasi, keberimbangan, kelengkapan, dan sensitivitas terhadap bencana.
Hasil penelitian menunjukkan ketiga media telah menerapkan standar kualitas jurnalistik, tetapi penerapannya tidak sama pada setiap aspek.
Pada aspek keberimbangan, perspektif pemerintah dan pejabat masih mendominasi pemberitaan. Suara masyarakat terdampak belum secara konsisten muncul sebagai bagian dari informasi mengenai bencana.
AJNN.net dinilai relatif lebih mampu menghadirkan sumber dari pemerintah dan masyarakat. Sementara itu, keberagaman perspektif masih perlu diperluas pada pemberitaan di media lainnya.
Bagi pemberitaan bencana, keberimbangan tidak hanya berkaitan dengan menghadirkan beberapa pihak. Pengalaman korban juga menjadi bagian penting untuk menggambarkan dampak bencana secara lebih utuh.
Akurasi Menjadi Aspek Terkuat
Berbeda dengan keberimbangan, aspek akurasi menjadi bagian yang paling kuat dalam berita yang dianalisis.
Ketiga media menggunakan sumber resmi dan data yang dapat ditelusuri. Informasi mengenai korban, lokasi, maupun perkembangan penanganan bencana bersumber dari pihak yang memiliki informasi terkait.
Meski demikian, kedalaman verifikasi masih berbeda. Penggunaan sumber resmi belum otomatis membuat sebuah pemberitaan menggambarkan seluruh situasi yang dialami masyarakat terdampak.
Dalam situasi bencana, kebutuhan terhadap informasi terverifikasi menjadi penting karena publik membutuhkan gambaran kondisi yang benar di tengah situasi darurat.
Berita Belum Banyak Mengikuti Fase Pemulihan
Kelengkapan menjadi persoalan lain yang ditemukan dalam penelitian.
Secara umum, berita yang dianalisis telah memuat informasi dasar seperti lokasi kejadian, kronologi, korban, penyebab, dan perkembangan penanganan.
Namun, informasi mengenai mitigasi, pemulihan, kebutuhan masyarakat, akses bantuan, dan tindak lanjut masih terbatas.
Padahal kebutuhan informasi masyarakat dapat berubah mengikuti fase bencana. Pada tahap tanggap darurat, publik membutuhkan informasi mengenai keselamatan, evakuasi, korban, dan penanganan. Memasuki fase setelah bencana, kebutuhan bergeser pada pemulihan dan kondisi kehidupan masyarakat terdampak.
Karena itu, pemberitaan bencana tidak berhenti pada laporan mengenai kejadian dan penanganan awal. Informasi mengenai kondisi setelah bencana juga menjadi bagian dari kebutuhan publik.
Korban Bukan Sekedar Angka
Pada aspek sensitivitas terhadap bencana, pemberitaan ketiga media dinilai relatif faktual dan proporsional.
Namun, perhatian terhadap kebutuhan korban dan pengurangan risiko bencana masih perlu diperkuat.
Korban bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Mereka dapat kehilangan anggota keluarga, pekerjaan, rasa aman, hingga kepastian mengenai kehidupan setelah bencana.
Kondisi itu membuat empati menjadi bagian penting dalam proses produksi berita. Pemberitaan tidak cukup hanya menyampaikan jumlah korban dan kerusakan, tetapi juga perlu memperhatikan manusia yang berada di balik data itu.
Dalam situasi darurat, berita juga dapat menjadi sumber informasi sekaligus petunjuk bagi masyarakat untuk memahami kondisi dan mengambil langkah yang diperlukan.
Sembilan Berita dalam Objek Kajian
Temuan penelitian Devita diperoleh dari analisis terhadap sembilan berita yang dipilih dari tiga media online lokal.
Pemilihan dilakukan secara purposif dengan menggunakan empat standar kualitas jurnalistik sebagai alat analisis, yakni akurasi, keberimbangan, kelengkapan, dan sensitivitas terhadap bencana.
Hasilnya memperlihatkan tidak ada satu aspek yang sepenuhnya berdiri sendiri. Berita dapat akurat karena menggunakan sumber resmi, tetapi tetap belum lengkap jika tidak menggambarkan kebutuhan masyarakat setelah bencana.
Begitu pula pemberitaan dapat menyampaikan perkembangan penanganan secara faktual, tetapi belum berimbang ketika suara masyarakat terdampak tidak mendapat ruang yang cukup.
Temuan itu memperlihatkan kualitas liputan bencana tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat informasi dipublikasikan. Cara media memilih sumber, memverifikasi informasi, menentukan kelengkapan laporan, dan memperlakukan korban juga menentukan kualitas pemberitaan.
Suara Kampus dan Penelitian Bencana
Penelitian ini juga berkaitan dengan pengalaman Devita sebagai anggota LPM Suara Kampus.
Dalam kata pengantar skripsinya, Devita menyebut Suara Kampus sebagai ruang tempat dirinya bertumbuh, memperoleh pengalaman, menghadapi berbagai tantangan, serta belajar mengenai tanggung jawab.
Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan akademiknya hingga penelitian mengenai kualitas jurnalistik dalam liputan bencana.
Setelah menjalani sidang munaqasyah, Devita dinyatakan lulus.
Penelitiannya meninggalkan satu persoalan penting bagi kerja jurnalistik dalam situasi bencana: kecepatan tetap dibutuhkan, tetapi tidak dapat mengesampingkan verifikasi dan empati.
Di balik angka korban, kerusakan, dan data penanganan, terdapat masyarakat yang mengalami langsung dampak bencana. Karena itu, menghadirkan suara mereka menjadi bagian dari upaya membuat pemberitaan bencana lebih utuh. (rar)
Wartawan : Redaksi